Apa Hasil Kesepakatan pada Peristiwa Rengasdengklok? Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa Rengasdengklok menjadi salah satu bagian dalam sejarah nasional Indonesia yang menghasilkan sebuah kesepakatan. Lantas, apa hasil kesepakatan pada peristiwa Rengasdengklok yang sebenarnya?
Bagaikan sebuah drama, peristiwa Rengasdengklok memuat perselisihan, pertentangan, hingga perbedaan pendapat yang cukup tajam antara dua generasi.
Terdapat perbedaan perspektif antara golongan tua dan golongan muda yang menyangkut waktu pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Golongan muda menginginkan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan lepas dari pengaruh Jepang. Artinya, kemerdekaan Indonesia harus diusahakan sendiri, bukan menunggu pemberitaan dari Jepang. Itulah sebabnya, golongan muda tidak menyukai keterlibatan PPKI yang dianggap sebagai badan bentukan Jepang.
Sementara itu, golongan tua tetap menginginkan keterlibatan Jepang dalam proklamasi kemerdekaan Indonesia. Mengingat perbedaan yang cukup mencolok di antara dua golongan, inilah pembahasan tentang hasil kesepakatan pada peristiwa Rengasdengklok.
Tokoh Peristiwa Rengasdengklok
Menyadur dalam buku Wahana Ilmu Pengetahuan Sosial terbitan Tim Pena Cendekia (2007: 72), adapun tokoh-tokoh yang ikut terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok. Tokoh ini dibagi menjadi dua yaitu, golongan muda dan golongan tua.
Golongan Tua
Golongan ini terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. Moh Yamin, dan Mr. Iwa Kusumasumantri. Golongan ini bersikap amat hati-hati dalam mencermati masa kekosongan kekuasaan setelah Jepang menyerah pada Sekutu.
Mereka berpendapat, kemerdekaan harus dilaksanakan sesuai ketentuan perjanjian dengan Jepang. Pembicaraan tentang proklamasi kemerdekaan hanya dimungkinkan melalui wadah PPKI.
Golongan Muda
Golongan ini terdiri dari Sukarni, Adam Malik, dr. Muwardi, Wikana, Chaerul Saleh, dan B.M. Diah. Golongan ini bersikap lebih agresif. Mereka menginginkan proklamasi kemerdekaan secepatnya dilaksanakan sebelum tentara Sekutu mengambil alih kekuasaan dari Jepang.
Apa yang Terjadi pada Peristiwa Rengasdengklok?
Sebagai informasi tambahan, Rengasdengklok dipilih menjadi tempat penculikan Soekarno-Hatta karena tempat tersebut sudah sepenuhnya dikuasai oleh Pembela Tanah Air (PETA). Dirangkum dalam buku Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu karya Drs. Anwar Kurnia (2007: 14), berikut hal-hal yang terjadi ketika peristiwa Rengasdengklok berlangsung.
Tanggal 15 Agustus 1945 pukul 22.00 Wikana dan kawan-kawan golongan muda lainnya menemui Soekarno. Mereka mengatakan bahwa kemerdekaan harus segera diproklamirkan oleh Soekarno pada tanggal 16 Agustus 1945, akan tetapi Soekarno menolak.
Golongan muda tidak putus asa. Mereka kembali merundingkan dan memutuskan membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Tujuannya untuk menjauhkan kedua tokoh tersebut dari tekanan dan pengaruh Jepang.
Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 04.00 Soekarno-Hatta dibawa menuju Rengasdengkok. Para pemuda menekan mereka berdua, supaya melaksanakan proklamasi yang lepas dari kaitan Jepang. Kewibawaan kedua tokoh tersebut cukup besar, membuat golongan muda segan untuk melakukan penekanan terus menerus.
Dibantu Syodanco Singgih, mereka berusaha melakukan pembicaraan kembali dengan Soekarno. Dalam suasana tegang, akhirnya Soekarno menyetujui proklamasi akan dilaksanakan tanpa campur tangan pihak Jepang.
Di tempat lain tepatnya di Jakarta, Ahmad Soebardjo (golongan tua) bersama Wikana (golongan muda) mengadakan kesepakatan untuk melaksanakan proklamasi di Jakarta.
Laksamana Maeda membolehkan rumahnya menjadi tempat perundingan untuk membuat naskah proklamasi. Kesepakatan tersebut membuat Jusuf Kunto dari pihak pemuda membawa Ahmad Subardjo menjemput Ir. Soekarno ke Rengasdengklok.
Rombongan tersebut tiba di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 pukul 17.30 WIB. Ketika itu, Ahmad Soebarjo menjamin dengan nyawanya bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945. Dengan jaminan itu, para pemuda bersedia melepaskan Soekarno-Hatta kembali ke Jakarta.
Malam hari pada 16 Agustus 1945, rombongan sampai ke Jakarta. Soekarno-Hatta kemudian diantar ke rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1 (sekarang menjadi tempat Duta Besar Inggris).
Kediaman Laksamana Maeda menjadi tempat untuk membuat naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Naskah disusun oleh Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Subarjo.
Apa Tujuan dari Peristiwa Rengasdengklok?
Menurut buku Sejarah Hukum Indonesia: Seri Sejarah Hukum karangan Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H., peristiwa Rengasdengklok bertujuan agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia.
Untuk mencapai tujuan tersebut, golongan muda menculik Soekarno dan Hatta ke sebuah daerah yang dinamakan dengan Rengasdengklok. Tak ketinggalan, golongan muda pun mendesak kedua tokoh tersebut untuk segera mengumumkan kemerdekaan.
Mengapa golongan muda ingin kedua tokoh tersebut memproklamasikan kemerdekaan dengan segera? Sebab, saat itu tengah terjadi kekosongan kekuasaan yang diikuti oleh peristiwa kekalahan Jepang terhadap Sekutu.
Selain itu, peritiwa Rengasdengklok juga bertujuan untuk menjauhkan Soekarno dan Hatta yang merupakan tokoh dengan pengaruh besar di Indonesia dari pengaruh Jepang. Golongan muda khawatir, kedua tokoh ini akan dihalangi Jepang saat ingin mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Proklamasi sendiri dinilai sebagai bukti perjuangan bangsa Indonesia setelah dijajah dalam jangan waktu yang cukup lama. Dari sinilah, proklamasi kemerdekaan harus sesegera mungkin dirumuskan dan diproklamirkan kepada seluruh rakyat Indonesia.
Apa Hasil dari Kesepakatan pada Peristiwa Rengasdengklok?
Tanggal 16 Agustus 1945, di tempat yang berbeda, yaitu Jakarta, dilangsungkan pertemuan antara golongan tua yang diwakili Mr. Ahmad Soebardjo dan golongan muda yang diwakili oleh Wikana. Dari pertemuan ini, apa kesepakatan akhir antara golongan tua dan muda?
Mengutip buku Hafal Mahir Materi Ilmu Pengetahuan Sosial karangan Tim Grasindo (2015: 246), dalam pertemuan ini disepakati bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilakukan di Jakarta. Atas dasar kesepakatan itu, Ahmad Soebardjo segera menjemput Soekarno-Hatta di Rengasdengklok.
Rombongan tiba di Rengasdengklok pukul 17.30. Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Soebardjo memberi jaminan kepada golongan muda dengan taruhan nyawanya bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Atas jaminan tersebut, golongan muda bersedia melepaskan Soekarno-Hatta untuk kembali ke Jakarta. Kembalinya Soekarno-Hatta sekaligus untuk memulai perumusan teks proklamasi serta membahas segala persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Konsep proklamasi dibuat dalam selembar kertas, kemudian disalin menggunakan mesin ketik. Sayuti Melik berperan mengetik naskah teks proklamasi. Naskah tersebut kemudian dibaca secara langsung pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB, di jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta.
Sebelum naskah proklamasi dibacakan, Bung Karno terlebih dahulu berpidato mengenai bagaimana perjuangan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaannya.
Baru setelah itu, dilakukanlah pengibaran Sang Saka Merah Putih oleh Suhud dan Latief. Acara diakhiri dengan sambutan Walikota Jakarta, yakni Suwirjo dan Dr. Muwardi.
(VIO)
Frequently Asked Question Section
Apa dua golongan tokoh yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok?

Apa dua golongan tokoh yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok?
Tokoh ini dibagi menjadi dua yaitu, golongan muda dan golongan tua.
Siapa saja tokoh yang termasuk dalam golongan tua?

Siapa saja tokoh yang termasuk dalam golongan tua?
Golongan ini terdiri dari Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. Moh Yamin, dan Mr. Iwa Kusumasumantri.
Apa ciri khas golongan muda yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok?

Apa ciri khas golongan muda yang terlibat dalam peristiwa Rengasdengklok?
Golongan ini bersikap lebih agresif. Mereka menginginkan proklamasi kemerdekaan secepatnya dilaksanakan sebelum tentara Sekutu mengambil alih kekuasaan dari Jepang.
