Konten dari Pengguna

Apakah Frankenstein Itu Nyata? Ini Penjelasannya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kerangka Manusia, Foto:Unsplash/Chris Charles
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kerangka Manusia, Foto:Unsplash/Chris Charles

Apakah Frankenstein itu nyata? Pertanyaan ini sering muncul setiap kali nama tersebut disebut, terutama karena bayangan tentang sosok raksasa dengan kulit pucat, tubuh tambal sulam, dan mata kosong sudah begitu melekat dalam imajinasi banyak orang.

Sosok itu seolah hidup di antara batas kenyataan dan legenda, membuat kita penasaran apakah pernah ada ilmuwan gila yang benar-benar menciptakan makhluk dari potongan tubuh manusia.

Apakah Frankenstein Itu Nyata?

Ilustrasi Kerangka Manusia, Foto:Unsplash/Mathew Schwartz

Apakah Frankenstein itu nyata? Pertanyaan ini telah lama menarik perhatian banyak orang yang penasaran dengan kebenaran di balik kisah ilmuwan yang menciptakan makhluk hidup dari potongan tubuh manusia.

Dalam bayangan populer, sosok tersebut tampak menyeramkan dan hidup di ambang antara fiksi dan kenyataan. Namun, sebenarnya Frankenstein bukanlah kisah nyata.

Dikutip dari laman theconversation.com, mengungkapkan bahwa tokoh Victor Frankenstein dan makhluk ciptaannya lahir sepenuhnya dari imajinasi Mary Shelley dalam novel Frankenstein, or, The Modern Prometheus yang diterbitkan pada tahun 1818.

Meski demikian, cerita tersebut terinspirasi oleh peristiwa dan eksperimen ilmiah yang benar-benar terjadi pada masa itu, terutama dalam bidang listrik dan anatomi yang tengah berkembang pesat di Eropa.

Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-19, sejumlah ilmuwan mulai bereksperimen dengan listrik sebagai sumber kehidupan.

Salah satu tokoh penting yang memengaruhi ide Mary Shelley adalah Luigi Galvani, ilmuwan Italia yang menemukan bahwa aliran listrik dapat membuat otot hewan mati berkontraksi.

Eksperimen ini menimbulkan spekulasi bahwa listrik mungkin memiliki hubungan erat dengan kehidupan.

Gagasan semacam inilah yang kemudian menjadi landasan fiksi ilmiah dalam novel Frankenstein, di mana seorang ilmuwan berusaha menghidupkan kembali jasad tak bernyawa dengan kekuatan sains.

Selain pengaruh ilmiah, latar sosial dan moral pada masa itu juga turut membentuk kisah Frankenstein. Dunia kedokteran sedang berada di masa perubahan besar, ketika pembedahan dan penelitian anatomi mulai dilakukan secara terbuka, meskipun kerap menimbulkan kontroversi etis.

Banyak cerita beredar tentang penggunaan mayat untuk penelitian, bahkan ada kasus pencurian jenazah demi kebutuhan ilmu pengetahuan.

Situasi moral yang kompleks inilah yang diangkat Shelley dalam novelnya, sebuah refleksi tentang ambisi manusia yang berusaha menandingi kekuasaan Tuhan dan konsekuensi dari tindakan tersebut.

Walaupun Frankenstein tidak pernah benar-benar ada, kisahnya tetap menjadi simbol dari ketegangan antara sains, moralitas, dan kemanusiaan.

Novel ini menggambarkan bagaimana pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat berujung pada kehancuran.

Hingga kini, Frankenstein bukan sekadar legenda fiksi, melainkan peringatan abadi tentang batas-batas yang seharusnya dijaga dalam pencarian ilmu dan kekuasaan atas kehidupan. (YOLAN)

Baca juga: Cara Manusia Memenuhi Kebutuhan saat Belum Ada Konsep Uang