Konten dari Pengguna

Apakah Ibu Krakatau Masih Aktif? Cari Tahu Fakta dan Penjelasannya di Sini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Apakah Ibu Krakatau Masih Aktif, Foto: PVMBG/via REUTERS/kumparanNEWS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Apakah Ibu Krakatau Masih Aktif, Foto: PVMBG/via REUTERS/kumparanNEWS

Apakah Ibu Krakatau masih aktif? Nama Krakatau kembali ramai dibicarakan setelah aktivitas erupsi Anak Krakatau berdampak hingga sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda. Kondisi ini pun membuat sejarah gunung api Krakatau kembali menarik perhatian.

Bagaimana kondisi gunung yang menjadi bagian dari sejarah Krakatau tersebut saat ini? Apa yang dimaksud dengan “Ibu Krakatau”? Simak fakta selengkapnya agar tidak salah memahami sejarahnya.

Apakah Ibu Krakatau Masih Aktif Seperti Gunung Anak Krakatau?

Gunung Anak Krakatau, Foto: FERDI AWED / AFP/kumparanNEWS

Apakah Ibu Krakatau masih aktif? Tidak, yang aktif dan mengalami erupsi sekarang adalah Gunung Anak Krakatau, bukan “Ibu Krakatau”.

Mengutip situs https://pembangunan.banjarmasinkota.go.id. istilah “Ibu Krakatau” merujuk pada Gunung Krakatau sebelum letusan dahsyat pada 1883.

Letusan Gunung Krakatau ini membuat sebagian besar tubuh Krakatau runtuh dan membentuk kaldera, sehingga gunung yang dikenal sebagai Krakatau sebelum peristiwa itu tidak lagi berdiri seperti sebelumnya.

Setelah letusan besar tersebut, muncul gunung baru yang kemudian dikenal sebagai Gunung Anak Krakatau.

Ketika membahas Gunung Krakatau yang masih aktif hingga sekarang, yang dimaksud adalah Anak Krakatau. Gunung inilah yang kemudian mengalami sejumlah aktivitas erupsi, termasuk letusan yang pernah memicu tsunami pada 2018.

Untuk memahami mengapa muncul istilah “Ibu Krakatau” dan bagaimana hubungannya dengan Anak Krakatau, berikut sejarah serta beberapa fakta pentingnya.

1. Krakatau Pernah Mengalami Letusan Besar Sebelum 1883

Jauh sebelum letusan 1883, Krakatau telah mengalami aktivitas vulkanik. Salah satu letusan besar yang tercatat terjadi sekitar 416 SM dan disebut menyebabkan tsunami serta pembentukan kaldera.

Catatan lain juga menyebut adanya aktivitas letusan pada beberapa abad setelahnya. Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian berkaitan dengan pertumbuhan beberapa kerucut gunung, yaitu Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

2. Letusan 1883 Menghancurkan Sebagian Besar Krakatau

Peristiwa paling dahsyat terjadi pada 27 Agustus 1883, setelah tanda-tanda aktivitas vulkanik mulai muncul sejak Mei. Letusan berlangsung dalam rangkaian ledakan yang semakin kuat dan berakhir dengan runtuhnya sekitar dua pertiga bagian Krakatau.

Pada 26 Agustus, aktivitas erupsi sudah menghasilkan awan gas dan material vulkanik yang membumbung tinggi. Keesokan harinya, ledakan jauh lebih besar terjadi hingga abu vulkanik terlontar sangat tinggi dan suara letusannya terdengar hingga wilayah yang jauh.

Letusan tersebut kemudian menyebabkan tsunami besar di wilayah pesisir Banten dan Lampung. Peristiwa ini menewaskan sedikitnya 36.417 orang akibat letusan dan tsunami yang ditimbulkannya.

3. Letusan Krakatau Berdampak hingga ke Berbagai Wilayah

Dahsyatnya letusan 1883 tidak hanya terasa di sekitar Selat Sunda. Suara ledakan dan gemuruhnya disebut terdengar hingga ribuan kilometer dari lokasi gunung.

Dampaknya bahkan dirasakan hingga Australia dan wilayah lain yang sangat jauh dari Krakatau. Peristiwa tersebut menjadi salah satu letusan gunung api paling besar dan merusak dalam sejarah.

4. Letusan Krakatau Membentuk Anak Krakatau

Setelah Krakatau mengalami kehancuran besar pada 1883, muncul gunung baru yang dikenal sebagai Anak Krakatau. Pertumbuhan gunung ini mulai terlihat pada 20 Januari 1930 dan terus berlangsung setelahnya.

Dengan demikian, Anak Krakatau dapat dipahami sebagai gunung yang tumbuh setelah peristiwa besar yang menghancurkan sebagian besar Krakatau pada 1883.

Maka itu, istilah “Ibu Krakatau” biasanya digunakan untuk menyebut Krakatau sebelum letusan dahsyat tersebut, sedangkan gunung yang aktif sekarang adalah Anak Krakatau.

5. Anak Krakatau Mengalami Erupsi dengan Tipe Strombolian

Anak Krakatau tercatat mengalami sejumlah erupsi, termasuk pada 20 Juni 2016, 19 Februari 2017, serta periode 29 Juni hingga 22 Desember 2018.

Aktivitas tersebut disebut memiliki tipe strombolian, yang ditandai dengan semburan lava pijar dari magma yang relatif dangkal. Selan itu, aktivitas itu juga menunjukkan bahwa Anak Krakatau merupakan gunung yang masih memiliki aktivitas vulkanik.

6. Erupsi Anak Krakatau Pernah Memicu Tsunami

Salah satu peristiwa penting terjadi pada 22 Desember 2018. Saat itu, Anak Krakatau mengalami erupsi dengan asap mencapai sekitar 300 hingga 1.500 meter di atas puncak kawah. Aktivitas kegempaan juga tercatat terus berlangsung.

Pada malam harinya terjadi letusan yang kemudian diikuti tsunami. Berdasarkan citra satelit yang diterima PVMBG, sebagian besar tubuh Anak Krakatau mengalami longsor.

Material yang longsor tersebut kemudian berkaitan dengan tsunami yang melanda wilayah Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan.

7. Anak Krakatau Masih Menjadi Gunung yang Rawan Bencana

Kawasan Gunung Anak Krakatau termasuk wilayah yang memiliki potensi bahaya. Peta Kawasan Rawan Bencana menunjukkan hampir seluruh tubuh gunung dengan diameter sekitar 2 kilometer berada dalam kawasan rawan bencana.

Potensi bahayanya antara lain berasal dari lontaran material pijar, aliran lava dari pusat erupsi, serta awan panas yang dapat mengarah ke bagian selatan.

Jadi, jangan sampai tertukar: “Ibu Krakatau” merujuk pada Krakatau sebelum letusan besar 1883, sedangkan gunung aktif yang dikenal hingga sekarang adalah Anak Krakatau.

Sejarah Ibu Krakatau dan Anak Krakatau memang tidak bisa dipisahkan karena kemunculan Anak Krakatau berkaitan langsung dengan letusan dahsyat Krakatau pada 1883. (Fikah)

Baca juga: Red Zone Abu Vulkanik: Definisi, Contoh, dan Hal yang Perlu Diwaspadai