Konten dari Pengguna

Arti Napak Sancang dalam Filosofi Kepemimpinan Jawa Barat Saat Ini

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi kepemimpinan jawa barat memiliki filosofi kepemimpinan yang tertuang dalam nilai loyal, salah satunya adalah napak sancang yang berarti. unsplash/austindistel
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi kepemimpinan jawa barat memiliki filosofi kepemimpinan yang tertuang dalam nilai loyal, salah satunya adalah napak sancang yang berarti. unsplash/austindistel

Kepemimpinan Jawa Barat memiliki filosofi kepemimpinan yang tertuang dalam nilai loyal, salah satunya adalah napak sancang yang berarti suatu prinsip dalam menggambarkan karakter seorang pemimpin.

Nilai tersebut merupakan bagian dari kearifan lokal yang berkaitan dengan cara seorang pemimpin menjalankan tanggung jawab di tengah masyarakat yang memiliki beragam latar belakang.

Lantas, apa arti napak sancang dalam filosofi kepemimpinan Jawa Barat saat ini dan bagaimana penerapannya?

Arti Napak Sancang dalam Filosofi Kepemimpinan Jawa Barat di Masyarakat

ilustrasi kepemimpinan jawa barat memiliki filosofi kepemimpinan yang tertuang dalam nilai loyal, salah satunya adalah napak sancang yang berarti. unsplash/Vitaly Gariev

Kepemimpinan Jawa Barat memiliki filosofi kepemimpinan yang tertuang dalam nilai loyal, salah satunya adalah napak sancang yang berarti pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan tanpa mengenal SARA.

Makna tersebut menunjukkan bahwa seorang pemimpin perlu memberikan perhatian dan perlakuan yang adil kepada seluruh lapisan masyarakat. Tidak ada kelompok yang seharusnya diperlakukan lebih tinggi hanya karena memiliki latar belakang tertentu.

Napak sancang juga berkaitan dengan kemampuan pemimpin dalam menjaga keseimbangan berbagai kepentingan. Pemimpin perlu memahami kondisi tersebut agar kebijakan yang diambil tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu.

Berdasarkan artikel yang diunggah jabar.nu.or.id, dalam konsep kepemimpinan Sunda, terdapat istilah Tritangtu yang menggambarkan tiga karakter kepemimpinan, yaitu Ratu, Resi, dan Rama. Rama menggambarkan pemimpin yang bertugas menjaga tatanan sosial dan peradaban.

Sosok Rama dalam kepemimpinan Jawa Barat tidak hanya memperhatikan kemakmuran ekonomi, tetapi juga kesejahteraan sosial, moralitas, dan keadilan bagi seluruh masyarakat. Prinsip tersebut memiliki hubungan erat dengan napak sancang.

Seorang pemimpin yang mampu napak sancang tidak membedakan masyarakat berdasarkan suku, agama, atau latar belakang. Pemimpin dengan karakter Rama diharapkan mampu mengayomi setiap individu dan memastikan kepentingan masyarakat tetap diperhatikan.

Dalam penerapannya, prinsip ini dapat menjadi pedoman untuk melihat kualitas seorang pemimpin, bukan hanya dari janji atau program yang ditawarkan, tetapi juga dari kemampuan menjaga kepentingan masyarakat secara menyeluruh.

Nilai napak sancang masih relevan dengan kondisi kepemimpinan saat ini. Ketika masyarakat memiliki latar belakang dan kepentingan yang beragam, seorang pemimpin perlu mampu merangkul seluruh kelompok.

Sikap mengayomi juga diperlukan agar pembangunan tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi, tetapi turut memperhatikan kesejahteraan sosial dan keadilan.

Dalam konteks politik, kualitas tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika menilai calon pemimpin. Kampanye, alat peraga, dan aktivitas di media sosial bukan satu-satunya ukuran kepemimpinan.

Nilai Ratu, Resi, dan Rama perlu menjadi bagian dari pertimbangan, termasuk kemampuan memiliki cita-cita untuk kemakmuran rakyat, kebijaksanaan dalam memahami kebutuhan masyarakat, serta kemampuan menjaga tatanan sosial.

Kepemimpinan jawa barat memiliki filosofi kepemimpinan yang tertuang dalam nilai loyal, salah satunya adalah napak sancang yang berarti pemimpin harus mampu berdiri di atas semua golongan tanpa mengenal SARA.

Nilai tersebut menggambarkan pemimpin yang adil, mengayomi, menjaga keharmonisan, serta memperhatikan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan latar belakang. (Rahma)

Baca juga: Logo Muktamar NU 2026 Resmi beserta Filosofinya