Bandar Perdagangan Pertama yang Menjadi Pusat Pertemuan di Asia Tenggara

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bandar perdagangan yang pertama kali menjadi pusat pertemuan para pedagang islam di asia tenggara adalah Samudera Pasai. Ini salah satu topik penting dalam sejarah perkembangan Islam di Nusantara.
Sejak berabad-abad lalu, wilayah pesisir di kawasan barat Nusantara dikenal sebagai jalur perdagangan internasional yang ramai dilalui para saudagar dari berbagai negara.
Aktivitas perdagangan yang terus berkembang bukan hanya membawa pengaruh ekonomi, tetapi juga mempercepat penyebaran budaya dan ajaran Islam di kawasan Asia Tenggara.
Bandar Perdagangan Pertama Kali yang Menjadi Pusat Pertemuan Para Pedagang Islam di Asia Tenggara adalah Samudera Pasai
Bandar perdagangan yang pertama kali menjadi pusat pertemuan para pedagang islam di asia tenggara adalah Samudera Pasai karena wilayah ini memiliki pelabuhan besar yang ramai dikunjungi pedagang Muslim dari berbagai negara.
Berdasarkan informasi acehprov.go.id, kerajaan Samudera Pasai menjadi salah satu kerajaan Islam paling berpengaruh dalam sejarah Nusantara.
Letaknya yang berada di pesisir utara Aceh membuat kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan internasional sekaligus pusat penyebaran Islam di kawasan Asia Tenggara.
Jalur perdagangan Selat Malaka yang ramai dilalui kapal-kapal dari Arab, Persia, India, hingga Tiongkok turut mendukung kemajuan kerajaan tersebut.
Hubungan perdagangan yang terjalin tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga mempercepat penyebaran ajaran Islam di Nusantara.
Para saudagar dari Gujarat, Arab, Persia, dan Bengal datang sambil membawa budaya serta tradisi Islam yang kemudian berkembang di wilayah Aceh dan daerah sekitarnya.
Samudera Pasai diperkirakan berdiri sekitar abad ke-13 dan didirikan oleh Meurah Silu yang kemudian memeluk Islam dan bergelar Sultan Malik al-Saleh.
Berdasarkan catatan sejarah yang dimuat dalam dokumen “Pasai dalam Perjalanan Sejarah”, kerajaan ini berkembang menjadi pusat perdagangan karena memiliki pelabuhan strategis yang menjadi tempat persinggahan kapal dagang internasional.
Komoditas utama yang diperdagangkan meliputi lada, emas, sutra, dan hasil bumi lainnya yang memiliki nilai tinggi pada masa itu. Samudera Pasai memiliki peranan penting sebagai pusat pendidikan dan dakwah Islam.
Banyak ulama datang untuk menyebarkan ilmu agama, sementara para pedagang memanfaatkan pelabuhan Pasai sebagai tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah lain di Asia Tenggara.
Hubungan perdagangan dan dakwah berjalan beriringan sehingga Islam berkembang lebih cepat di kawasan pesisir Nusantara.
Selain menjadi pusat perdagangan, Samudera Pasai juga dikenal sebagai kerajaan yang telah menggunakan mata uang sendiri. Dalam beberapa sumber sejarah disebutkan bahwa kerajaan ini memakai koin emas yang dikenal sebagai dirham Pasai.
Penggunaan mata uang tersebut menunjukkan bahwa sistem ekonomi kerajaan sudah berkembang cukup maju pada masanya. Hal ini juga menjadi bukti kuat bahwa aktivitas perdagangan di Samudera Pasai berlangsung sangat ramai dan terorganisasi dengan baik.
Kemajuan kerajaan semakin terlihat karena adanya hubungan diplomatik dengan berbagai wilayah luar. Catatan perjalanan Ibnu Battuta menyebutkan bahwa Sultan Samudera Pasai dikenal sebagai pemimpin yang taat beragama dan sangat menghormati ulama.
Kehidupan masyarakat saat itu juga telah dipengaruhi budaya Islam dalam bidang pemerintahan, pendidikan, hingga kehidupan sosial sehari-hari.
Tidak mengherankan jika kerajaan ini kemudian menjadi pusat perkembangan Islam paling penting di wilayah barat Nusantara.
Bandar perdagangan yang pertama kali menjadi pusat pertemuan para pedagang islam di asia tenggara adalah Samudera Pasai.
Kerajaan ini memiliki peranan besar dalam perkembangan perdagangan internasional, penyebaran Islam, serta pertumbuhan budaya Melayu-Islam di kawasan Asia Tenggara. (Rahma)
Baca juga: Masuknya Islam ke Indonesia Menurut Soetjipto Wirjosoeparto
