Cara Kerja Bensin dari Sawit untuk Energi yang Berkelanjutan

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Inovasi energi alternatif terus berkembang seiring dengan meningkatnya kebutuhan bahan bakar yang ramah lingkungan. Salah satu contoh alternatif terbaru adalah hadirnya cara kerja bensin dari sawit.
Salah satu terobosan yang datang dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember ini adalah melalui penelitian yang dilakukan oleh Hosta Ardhyananta. Ia mengembangkan bensin yang berbasis minyak sawit atau dikenal sebagai biogasoline sebagai solusi energi berkelanjutan di tengah krisis bahan bakar global.
Cara Kerja Bensin dari Sawit untuk Kurangi Impor Bahan Bakar Fosil
Dikutip dari rri.co.id, cara kerja bensin dari sawit dimulai dari bahan baku utamanya yang berupa minyak kelapa sawit. Minyak ini diolah melalui metode catalytic cracking, suatu proses pemecahan molekul hidrokarbon berantai panjang menjadi molekul yang lebih pendek dan ringan, hingga menyerupai bensin.
Pada awalnya, proses ini menggunakan katalis alumina dengan suhu tinggi hingga mencapai 420 derajat Celsius. Suhu tinggi tersebut berfungsi mempercepat reaksi pemecahan molekul. Namun, tantangan utama dari metode ini adalah konsumsi energi yang cukup besar.
Untuk meningkatkan efisiensi, tim peneliti di ITS mengembangkan katalis bimetalik berupa kombinasi NiO (nikel oksida) dan CuO (tembaga oksida). Dengan teknologi ini, suhu proses bisa diturunkan menjadi sekitar 380 derajat Celsius, sekaligus meningkatkan hasil konversi sebanyak 83 persen.
Hasil dari proses ini adalah biogasoline yang didominasi oleh hidrokarbon rantai pendek, yaitu C5 hingga C11. Struktur ini mirip dengan bensin konvensional sehingga dapat langsung digunakan pada mesin tanpa modifikasi yang besar.
Proses produksi ini juga menghasilkan produk samping yang bermanfaat. Gas yang dihasilkan dapat digunakan kembali sebagai bahan bakar reaktor, sehingga mendukung sistem produksi yang hemat energi.
Selain itu, residu cair yang dihasilkan memiliki karakteristik seperti minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif seperti untuk kompor. Hal ini menjadikan proses produksi semakin efisien serta minim limbah.
Keunggulan utama bensin dari sawit ini adalah pada aspek keberlanjutan. Penelitian ini juga telah melalui pendekatan Life Cycle Assessment untuk memastikan dampak lingkungan yang rendah. Hasilnya menunjukkan bahwa jejak karbon dari produksi biogasoline lebih kecil dibandingkan dengan bahan bakar fosil.
Konsep produksi zero emission juga diterapkan yang sejalan dengan target Sustainable Development Goals. Khususnya pada sektor energi bersih dan konsumsi yang bertanggung jawab.
Pengembangan bensin sawit ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Selain itu, teknologi ini juga bisa dimanfaatkan oleh sektor pertanian. Sehingga para petani tidak lagi bergantung pada bensin konvensional.
Dengan pengembangan cara kerja bensin dari sawit yang lebih lanjut serta dukungan pemerintah, inovasi ini dapat menjadi solusi dalam menghadapi krisis energi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan. (Win)
Baca juga: Harga Tiket Pesawat Naik Bisa Mencapai 13%, Imbas dari Krisis Global
