Konten dari Pengguna

Cara Mengakomodasi Peserta Didik sebagai Guru Sesuai Kebutuhan Belajar Siswa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka?. unsplash/heyquilia
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka?. unsplash/heyquilia

Peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. Bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka? Sebelum menentukan strategi pembelajaran, guru perlu memahami bahwa setiap peserta didik memiliki potensi, kebutuhan, dan gaya belajar yang tidak sama.

Perbedaan tersebut menjadi dasar bagi guru untuk merancang pembelajaran yang tidak disamaratakan, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan belajar setiap peserta didik agar proses pembelajaran berlangsung lebih efektif, bermakna, dan mampu mengembangkan potensi secara optimal.

Cara Guru Mengakomodasi Peserta Didik dengan Potensi dan Gaya Belajar yang Tidak Sama

ilustrasi peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka?. unsplash/Shannia Christanty

Peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. Bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka? Pertanyaan ini terdapat pada Latihan Pemahaman Modul 2 Topik 3 Experiential Learning dalam materi Strategi Guru dalam Mengidentifikasi Gaya Belajar Peserta Didik pada situs guru.kemdikbud.go.id.

Jawabannya adalah dengan tidak menyamaratakan cara belajar setiap peserta didik. Sebaliknya, guru perlu mengakomodasi perbedaan latar belakang, potensi, kebutuhan, dan gaya belajar agar setiap peserta didik memperoleh kesempatan belajar yang optimal.

Mengutip penjelasan dari akun YouTube Nelawati, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan antara lain sebagai berikut.

  • Melakukan identifikasi gaya belajar peserta didik.

  • Menyusun pembelajaran berdiferensiasi.

  • Menerapkan pembelajaran yang aktif dan inklusif.

  • Membangun lingkungan belajar yang fleksibel dan ramah anak.

  • Melibatkan peserta didik dalam proses belajar.

Strategi tersebut juga selaras dengan konsep experiential learning yang dikembangkan oleh David A. Kolb. Menurut Kolb, belajar merupakan proses yang berlangsung secara siklus melalui pengalaman, refleksi, pembentukan konsep, dan penerapan kembali dalam situasi yang berbeda.

Siklus tersebut dimulai dari pengalaman nyata (concrete experience), kemudian dilanjutkan dengan refleksi (reflective observation) terhadap pengalaman yang telah diperoleh.

Siswa membangun pemahaman melalui konseptualisasi abstrak (abstract conceptualization), kemudian menguji pemahaman tersebut melalui eksperimen aktif (active experimentation).

Proses ini berlangsung secara berulang sehingga pengetahuan tidak hanya dihafal, tetapi benar-benar dipahami melalui pengalaman belajar.

Dengan memahami siklus tersebut, guru dapat merancang pembelajaran yang lebih bermakna karena peserta didik diberi kesempatan mengalami, merefleksikan, memahami, dan menerapkan hasil belajarnya secara berkelanjutan.

Peserta didik adalah individual yang unik dan memiliki gaya belajar tertentu. Bagaimana kita sebagai guru dapat mengakomodasi mereka? Kuncinya adalah mengenali kebutuhan belajar setiap peserta didik, menyesuaikan strategi pembelajaran, serta menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan aktif.

Dengan pendekatan tersebut, proses pembelajaran tidak hanya membantu peserta didik memahami materi, tetapi juga mengembangkan kemampuan belajar melalui pengalaman yang bermakna. (Rahma)

Baca juga: Peran Guru dan Murid dalam Wawasan Wiyata Mandala yang Perlu Dipahami