Dua Planet Bertabrakan, Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena dua planet bertabrakan menarik perhatian para astronom setelah bukti tabrakan kosmik tersebut terdeteksi sangat jauh dari Bumi.
Peristiwa langka di ruang angkasa sering kali hanya dapat dipahami melalui pengamatan panjang menggunakan teleskop dan analisis data astronomi.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tabrakan antarplanet dapat memberikan gambaran penting mengenai proses pembentukan planet dalam sistem bintang.
Dua Planet Bertabrakan
Dikutip dari usatoday.com, dua planet bertabrakan terdeteksi sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi setelah para astronom menemukan tanda aneh pada cahaya sebuah bintang jauh.
Penemuan tersebut berawal dari penelitian yang dilakukan oleh astronom Anastasios Tzanidakis dari University of Washington. Penelitian itu memanfaatkan data teleskop lama yang awalnya tidak menunjukkan sesuatu yang mencolok.
Saat meninjau kembali data pengamatan lama, Tzanidakis menemukan bahwa sebuah bintang bernama Gaia20ehk menunjukkan perilaku yang tidak biasa. Bintang tersebut berada di rasi bintang Puppis di langit selatan.
Sejak sekitar tahun 2016, cahaya bintang tersebut beberapa kali mengalami penurunan terang secara singkat. Penurunan tersebut terjadi berulang kali dan tidak sesuai dengan pola aktivitas normal sebuah bintang seperti Matahari.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa fenomena tersebut tidak berasal dari aktivitas bintang itu sendiri. Cahaya bintang tampak meredup karena tertutup oleh sejumlah besar material berupa batuan dan debu yang melintas di depannya.
Material tersebut ternyata berasal dari sisa tabrakan dua planet dalam sistem bintang yang sama. Debu dan pecahan batuan mengorbit bintang sehingga sesekali menghalangi cahaya yang mencapai teleskop di Bumi.
Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, Tzanidakis bekerja bersama astronom James Davenport yang juga berasal dari University of Washington. Kedua peneliti memeriksa perubahan cahaya bintang dalam spektrum cahaya tampak dan inframerah.
Pengamatan inframerah memberikan petunjuk penting. Setiap kali cahaya tampak dari bintang meredup, intensitas cahaya inframerah justru meningkat secara signifikan.
Peningkatan radiasi inframerah menunjukkan bahwa material debu di sekitar bintang memiliki suhu sangat tinggi. Kondisi tersebut menandakan bahwa material tersebut kemungkinan besar baru saja terbentuk akibat tabrakan planet berskala besar.
Peneliti memperkirakan proses tabrakan tidak terjadi secara langsung dalam satu benturan besar. Dua planet kemungkinan saling mendekat secara bertahap hingga mengalami beberapa benturan kecil terlebih dahulu.
Benturan awal tersebut dikenal sebagai grazing impact, yaitu tabrakan ringan yang hanya mengenai sebagian permukaan planet.
Setelah beberapa kali pertemuan orbit, kedua planet akhirnya mengalami tabrakan besar yang menghasilkan ledakan material batuan dan debu.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Astrophysical Journal Letters pada Maret 2026. Studi tersebut menjadi salah satu bukti observasional pertama mengenai tabrakan planet secara langsung dalam sistem bintang jauh.
Fenomena tersebut juga memberikan petunjuk mengenai proses pembentukan planet di alam semesta. Planet biasanya terbentuk dari cakram gas dan debu yang mengelilingi bintang muda yang baru terbentuk.
Partikel debu, es, dan batuan kecil saling bertabrakan secara perlahan. Jika tabrakan terjadi cukup lembut, material tersebut akan saling menempel dan membentuk benda yang lebih besar yang disebut planetesimal.
Planetesimal kemudian terus bertumbuh melalui proses akresi hingga akhirnya membentuk planet yang stabil dalam orbitnya. Namun proses ini tidak selalu berjalan tenang karena tabrakan besar juga dapat terjadi selama evolusi sistem planet.
Peneliti bahkan menduga tabrakan yang diamati memiliki kemiripan dengan peristiwa yang membentuk Bumi dan Bulan sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Dalam teori pembentukan Bulan, sebuah objek sebesar Mars diperkirakan menabrak Bumi purba sehingga menghasilkan awan puing yang kemudian membentuk satelit alami tersebut.
Dua planet bertabrakan menjadi salah satu fenomena kosmik langka yang memberikan gambaran penting mengenai proses dinamis pembentukan planet di alam semesta.
Penelitian astronomi terhadap peristiwa serupa dapat membantu memperluas pemahaman tentang evolusi sistem planet serta sejarah terbentuknya dunia seperti Bumi. (Shofia)
Baca Juga: Mengenal Planet Terdingin di Sistem Tata Surya beserta Karakteristiknya
