Hadits Menyambut Ramadhan sebagai Pengingat untuk Bersiap Memasuki Bulan Suci

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadits menyambut Ramadhan menjadi cahaya awal yang menuntun hati kaum muslimin ketika kerinduan terhadap bulan suci mulai terasa semakin dekat.
Menjelang hadirnya waktu yang penuh keberkahan itu, perasaan harap bercampur cemas kerap menyelinap, seolah ada panggilan lembut agar setiap diri segera bersiap dan tidak berjalan tanpa arah.
Ramadhan bukan sekadar pergantian bulan dalam penanggalan hijriah, melainkan musim kebaikan yang selalu membawa peluang baru untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus dengan sesama manusia.
Hadits Menyambut Ramadhan
Hadits menyambut Ramadhan selalu menjadi pintu pertama yang menggerakkan hati orang beriman ketika aroma bulan suci mulai terasa semakin dekat.
Kehadirannya dipahami sebagai datangnya tamu mulia yang membawa ampunan, keberkahan, serta peluang pembebasan dari api neraka. Maka wajar apabila kerinduan kepada Ramadhan tumbuh begitu kuat dan menghadirkan harapan yang dalam.
Generasi terdahulu bahkan mencontohkan kesungguhan yang jarang tertandingi; selama enam bulan mereka memohon agar dipertemukan dengannya, kemudian enam bulan berikutnya diisi dengan doa agar seluruh amal diterima oleh Allah Swt.
Rasa rindu tersebut bukan sekadar getaran emosi, melainkan cermin keyakinan terhadap janji Ilahi.
Di tengah antusiasme itu, muncul pertanyaan yang berulang di berbagai kalangan mengenai adakah doa khusus yang secara langsung diajarkan Rasulullah saw sebelum Ramadan tiba.
Beragam redaksi beredar luas, baik melalui mimbar maupun media digital. Keinginan untuk berpegang pada amalan yang memiliki dasar kuat tentu menjadi sikap yang patut dihargai, sebab kecintaan kepada Sunnah mendorong kehati-hatian dalam beribadah.
Para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat riwayat sahih tentang doa menyambut Ramadan yang dibaca jauh hari sebelumnya.
Namun terdapat hadits hasan mengenai doa ketika melihat hilal sebagai tanda masuknya bulan baru, termasuk Ramadhan.
Riwayat dari Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi saw memohon keberkahan, iman, dan keselamatan, sekaligus menegaskan tauhid bahwa bulan hanyalah makhluk di bawah kuasa Allah.
Berikut adalah doa untuk diamalkan saat malam 1 Ramadan tiba, sebagaimana dikutip dari laman pt-bengkulu.go.id:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmân, was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh.
Artinya: "Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit itu kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu (wahai bulan) adalah Allah." (HR. Tirmidzi no. 3451, Ahmad, dan Ad-Darimi. Dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani).
Makna yang terkandung di dalamnya begitu luas. Permohonan al-yumn mengarah pada harapan akan kebaikan yang terus bertambah.
Permintaan iman menunjukkan keinginan agar hati tetap kokoh. Sementara itu, keselamatan mencakup jasmani dan rohani, sehingga ibadah dapat dilakukan tanpa halangan.
Selain riwayat tersebut, dikenal pula doa dari seorang tabi’in, Yahya bin Abi Katsir rahimahullah. Walaupun bukan sabda Nabi, banyak ulama menukilnya sebagai gambaran kesiapan ruhani generasi salaf.
Doa ini memuat permintaan agar diberi kesempatan menjumpai Ramadan, diberi kemampuan memanfaatkannya dalam ketaatan, dan akhirnya memperoleh penerimaan amal.
اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِيْ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً
Allâhumma sallimnî li Ramadhâna, wa sallim Ramadhâna lî, wa tasallamhu minnî mutaqabbalan.
Artinya: "Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai Ramadhan, dan antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan." (Hilyatul Auliya, 1/420).
Pada bagian penutup doa, tersimpan inti harapan seorang hamba, yakni agar seluruh usaha tidak berakhir sia-sia. Tanpa penerimaan dari Allah, kelelahan tidak akan berubah menjadi pahala.
Ada pula doa tentang keberkahan Rajab dan Sya’ban serta permintaan agar sampai kepada Ramadaan. Sebagian besar ahli hadits menilainya lemah. Meski demikian, isinya tetap berupa permohonan baik sehingga boleh diamalkan sebagai doa harian, selama tidak diyakini sebagai sunnah yang kuat.
Di samping doa, para ulama mengingatkan pentingnya persiapan nyata. Taubat membersihkan hati, qadha menuntaskan kewajiban, pemahaman fikih menjaga keabsahan ibadah, dan sedekah melatih kepedulian. Semua itu menjadi jalan agar Ramadan tidak berlalu tanpa makna.
Dengan demikian, hadits menyambut Ramadhan tidak hanya dibaca, tetapi juga dihidupkan melalui kesungguhan memperbaiki diri, sehingga langkah menuju bulan suci dipenuhi harapan akan rahmat dan penerimaan dari-Nya.(DANI)
Baca juga: 30 Hadis Pendek yang Mudah Dihafal Anak Selama Ramadhan
