Hewan yang Hidup di Tempat Gelap Memiliki Kemampuan Ekolokasi, Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa pada umumnya hewan yang tinggal di tempat gelap atau hidup di malam hari contohnya kelelawar, paus, dan lumba-lumba memiliki kemampuan untuk berekolokasi? Pertanyaan tersebut berkaitan erat dengan kebutuhan bertahan hidup di lingkungan minim cahaya.
Kemampuan mengenali arah, mencari makanan, serta menghindari rintangan menjadi bagian penting bagi hewan yang aktif pada malam maupun kedalaman air.
Sistem sensor alami pada beberapa hewan berkembang mengikuti kondisi habitat sehingga tubuh mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya.
Mengapa Hewan yang Tinggal di Tempat Gelap atau Hidup di Malam Hari Memiliki Kemampuan Berekolokasi?
Mengapa pada umumnya hewan yang tinggal di tempat gelap atau hidup di malam hari contohnya kelelawar, paus, dan lumba-lumba memiliki kemampuan untuk berekolokasi? Jawabannya karena kondisi lingkungan yang minim cahaya membuat penglihatan saja tidak cukup membantu proses navigasi dan pencarian makanan.
Dikutip dari pmc.ncbi.nlm.nih.gov, ekolokasi merupakan kemampuan mendeteksi benda menggunakan pantulan suara.
Hewan akan mengeluarkan gelombang bunyi tertentu, kemudian mendengarkan pantulan suara tersebut setelah mengenai objek di sekitar.
Pantulan bunyi membantu hewan mengetahui jarak, ukuran, arah, bahkan bentuk benda yang berada di hadapannya.
Kelelawar menjadi salah satu contoh hewan dengan kemampuan ekolokasi paling terkenal. Sebagian besar kelelawar hidup di gua gelap atau aktif mencari makan pada malam hari.
Situasi tersebut membuat penglihatan sulit digunakan secara maksimal. Oleh sebab itu, kelelawar memanfaatkan suara ultrasonik untuk mengenali lingkungan sekitar ketika terbang.
Gelombang ultrasonik yang dihasilkan kelelawar dipantulkan kembali oleh pohon, dinding gua, serangga, maupun permukaan air. Otak kelelawar kemudian mengolah pantulan suara itu menjadi gambaran spasial.
Proses tersebut membantu kelelawar terbang cepat tanpa menabrak benda meskipun kondisi sangat gelap.
Penelitian terhadap Egyptian fruit bats menunjukkan bahwa kelelawar tetap memakai ekolokasi walaupun berada pada siang hari dengan cahaya terang.
Hewan tersebut diketahui memiliki penglihatan cukup baik, tetapi tetap menggabungkan penglihatan dan pantulan suara saat menghindari rintangan atau mendekati objek tertentu.
Kelelawar juga mampu meningkatkan kecepatan bunyi klik ketika mendekati penghalang. Perubahan ritme suara itu membuat informasi mengenai posisi objek menjadi lebih akurat.
Sistem seperti ini membantu proses pendaratan, mencari buah, serta menghindari tabrakan saat terbang.
Paus dan lumba-lumba memiliki prinsip serupa, tetapi digunakan di lingkungan air. Cahaya matahari sulit menembus kedalaman laut secara maksimal.
Air laut juga dapat mengurangi jarak pandang akibat kekeruhan, gelombang, maupun kondisi malam hari. Situasi tersebut membuat ekolokasi jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan mata.
Lumba-lumba menghasilkan bunyi klik melalui organ khusus di bagian kepala. Bunyi tersebut bergerak melalui air dan dipantulkan kembali setelah mengenai ikan, batu karang, atau benda lain.
Pantulan suara diterima rahang bawah lalu diteruskan menuju sistem pendengaran dan otak.
Kemampuan ini membantu lumba-lumba menentukan arah gerakan mangsa dengan sangat presisi. Hewan tersebut bahkan dapat membedakan ukuran objek dan memperkirakan jarak hanya dari perubahan pantulan bunyi.
Sistem ekolokasi juga mempermudah komunikasi antarindividu ketika berenang dalam kelompok.
Paus bergigi seperti paus pembunuh dan paus sperma memakai ekolokasi untuk berburu di lautan dalam yang hampir tidak memiliki cahaya.
Pantulan suara memungkinkan paus mendeteksi keberadaan cumi-cumi atau ikan dari jarak cukup jauh. Adaptasi ini sangat penting karena tekanan lingkungan laut dalam membuat penglihatan menjadi terbatas.
Kemampuan berekolokasi berkembang melalui proses adaptasi jangka panjang.
Hewan yang mampu mengenali lingkungan secara efektif memiliki peluang hidup lebih tinggi dibanding hewan yang hanya mengandalkan penglihatan pada habitat gelap.
Sistem pendengaran dan otak kemudian berkembang semakin kompleks agar proses pengolahan suara menjadi lebih cepat dan akurat.
Namun, ekolokasi tidak sepenuhnya menggantikan fungsi penglihatan. Banyak hewan tetap menggunakan kombinasi penglihatan, pendengaran, dan memori ruang untuk bergerak lebih aman.
Penggabungan berbagai indra tersebut membantu hewan membaca kondisi lingkungan secara lebih lengkap.
Mengapa pada umumnya hewan yang tinggal di tempat gelap atau hidup di malam hari contohnya kelelawar, paus, dan lumba-lumba memiliki kemampuan untuk berekolokasi? Karena pantulan suara membantu proses navigasi dan pencarian makanan saat cahaya sangat terbatas.
Kemampuan tersebut menjadi bentuk adaptasi alami yang membuat hewan mampu bertahan hidup, menghindari bahaya, serta bergerak efisien pada habitat gelap maupun bawah air. (Suci)
Baca Juga: Kenapa Ikan Sapu Sapu Hama? Ini Faktor Penyebabnya
