Hubungan antara KBC dengan PM yang Diimplementasikan di Madrasah

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan antara KBC dengan PM menjadi topik penting dalam penguatan pendidikan madrasah saat ini. Keduanya terus ditekankan dalam berbagai pelatihan dan pengembangan kompetensi guru
Dengan penerapannya, KBC dan PM diharapkan mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih humanis, religius, dan berpihak pada perkembangan peserta didik, sekaligus membentuk karakter dan akhlak mulia.
Hubungan antara KBC dengan PM dalam Pendidikan
Berdasarkan informasi dari laman siakkab.go.id, dan dki.kemenag.go.id, hubungan PM dengan KBC memiliki keterkaitan yang kuat dalam menciptakan proses pendidikan yang utuh.
Pembelajaran Mendalam (PM) berfokus pada cara belajar yang membuat siswa memahami materi secara menyeluruh dan bermakna, bukan sekadar menghafal. Pendekatan ini mendorong berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif.
Sementara itu, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi landasan nilai dalam proses tersebut dengan menekankan kasih sayang, keteladanan, kedekatan emosional, serta pembentukan karakter dan akhlak mulia
KBC memastikan bahwa pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada perkembangan moral dan psikologis peserta didik.
Dengan demikian, PM berperan pada bagaimana proses belajar dilakukan secara mendalam, sedangkan KBC menekankan nilai dan suasana dalam pembelajaran.
Keduanya saling melengkapi untuk menghasilkan pendidikan yang mencerdaskan sekaligus membentuk karakter siswa secara menyeluruh.
Kurikulum Cinta (KBC) bukanlah pengganti kurikulum yang ada, melainkan penambahan nilai-nilai cinta ke dalam proses pembelajaran. Artinya, KBC tidak mengubah mata pelajaran atau materi, tetapi menekankan penerapan nilai cinta dalam cara guru mengajar dan siswa belajar.
Abdul Basit, Kasubdit KSKK Kementerian Agama RI, menjelaskan bahwa KBC berfokus pada menanamkan cinta kepada Allah melalui praktik seperti Shalat Dhuha dan melafalkan Asmaul Husna, berperan sebagai “jiwa” dari kurikulum tanpa menggantikan komponen yang ada.
Kepala Kantor Kemenag Jakarta Timur, Zulkarnain juga menambahkan pentingnya penerapan deep learning yang mencakup sebagai berikut.
Mindful Learning, siswa belajar dengan kesadaran penuh, aktif, termotivasi intrinsik, dan mampu mengatur diri.
Meaningful Learning, siswa merasakan manfaat dan relevansi dari materi yang dipelajari.
Joyful Learning, pembelajaran dilakukan dengan suasana menyenangkan.
Demikianlah ulasan mengenai hubungan antara KBC dengan PM yang saling melengkapi untuk diimplementasikan di madrasah, tanpa menggantikan kurikulum yang ada. (Idaf)
Baca juga: Pawai Tarhib Ramadhan 2026 dan Rangkaian Kegiatannya
