Konten dari Pengguna

Kegiatan Sensori Berguna untuk Anak Usia Dini, Ketahui Manfaatnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kegiatan Sensori Berguna untuk Anak Usia Dini, Ketahui Manfaatnya, Foto:Unsplash/Andy Quezada
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kegiatan Sensori Berguna untuk Anak Usia Dini, Ketahui Manfaatnya, Foto:Unsplash/Andy Quezada

Contoh kegiatan sensori seperti bermain pasir, finger painting, bermain air, memanjat dan bermain ayunan adalah untuk mematangkan aspek aspek sensori yang berguna untuk mendukung berbagai aktivitas sehari-hari anak.

Stimulasi sensori menjadi bagian penting dalam proses tumbuh kembang karena membantu otak menerima, mengolah, dan menginterpretasikan berbagai rangsangan dari lingkungan.

Melalui kegiatan yang tepat, anak dapat mengembangkan kemampuan motorik, kognitif, hingga keterampilan dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Perkembangan anak berlangsung pada berbagai aspek, mulai dari kognitif, motorik, fisik, bahasa, hingga psikososial.

Kegiatan Sensori Berguna untuk Anak Usia Dini, Mendukung Kemampuan Motorik

Ilustrasi Kegiatan Sensori Berguna untuk Anak Usia Dini, Ketahui Manfaatnya, Foto:Unsplash/Robert Collins

Contoh kegiatan sensori seperti bermain pasir, finger painting, bermain air, memanjat dan bermain ayunan adalah untuk mematangkan aspek aspek sensori yang berguna untuk membantu anak mengembangkan kemampuan dalam belajar, bergerak, bersosialisasi, makan, minum, hingga berpakaian secara mandiri.

Aktivitas tersebut memberikan rangsangan pada berbagai sistem sensori sehingga otak mampu memproses informasi yang diterima dengan lebih baik.

Berdasarkan penjelasan keslan.kemkes.go.id, sensori integrasi merupakan proses mengenali, mengolah, dan membedakan berbagai rangsangan dari sistem sensori untuk menghasilkan respons yang sesuai.

Informasi yang diterima dapat berupa sentuhan, gerakan, suara, bau, rasa, maupun penglihatan. Seluruh informasi tersebut kemudian diorganisasikan oleh otak agar anak dapat memberikan respons yang tepat terhadap lingkungan.

Berbagai aktivitas sensori memberikan manfaat yang tidak hanya berkaitan dengan kemampuan fisik, tetapi juga perkembangan fungsi otak. Bermain pasir, misalnya, membantu anak mengenali berbagai tekstur sekaligus melatih koordinasi tangan dan jari.

Sementara itu, finger painting memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi warna dan sentuhan secara langsung. Bermain air dapat melatih koordinasi gerak sekaligus memperkenalkan konsep sebab dan akibat melalui aktivitas sederhana.

Kegiatan memanjat dan bermain ayunan juga memiliki manfaat penting karena memberikan rangsangan terhadap keseimbangan tubuh dan koordinasi gerakan. Kemampuan sensori integrasi berperan penting dalam membantu anak menjalankan berbagai aktivitas.

Proses ini memungkinkan otak menerima dan mengolah informasi sensorik sehingga anak mampu memberikan respons yang sesuai terhadap lingkungan di sekitarnya.

Kemampuan tersebut dibutuhkan dalam berbagai kegiatan, seperti belajar di sekolah, berinteraksi dengan orang lain, makan, minum, berpakaian, hingga melakukan aktivitas fisik. Apabila terjadi gangguan pada proses tumbuh kembang, anak dapat memerlukan penanganan, salah satunya melalui terapi okupasi.

Terapi okupasi merupakan bentuk terapi yang bertujuan membantu seseorang dengan gangguan fisik, sensorik, atau kognitif agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari secara lebih mandiri.

Contoh kegiatan sensori seperti bermain pasir, finger painting, bermain air, memanjat dan bermain ayunan adalah untuk mematangkan aspek aspek sensori yang berguna untuk mendukung proses belajar, aktivitas fisik, interaksi sosial, hingga kemandirian anak dalam kehidupan sehari-hari.

Pemberian stimulasi sensori yang sesuai sejak usia dini menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. (Rahma)

Baca juga: Anak Usia Dini Termasuk Kelompok yang Rentan terhadap Kekerasan