Kenapa Bisa Terjadi Gempa? Begini Penjelasan Lengkapnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kenapa bisa terjadi gempa?" Pertanyaan ini sering muncul ketika permukaan bumi tiba-tiba bergetar dengan kekuatan yang menimbulkan kepanikan.
Getaran itu terkadang hanya berlangsung beberapa detik, tetapi dampaknya dapat meninggalkan jejak yang begitu lama bagi kehidupan di permukaan.
Fenomena alam ini sesungguhnya menyimpan proses panjang yang bekerja di dalam bumi, namun sering kali kehadirannya datang secara mendadak tanpa tanda yang mudah dikenali.
Kenapa Bisa Terjadi Gempa?
Kenapa bisa terjadi gempa? Dikutip dari bbmkg3.bmkg.go.id, peristiwa ini pada dasarnya disebabkan oleh pelepasan energi yang tersimpan di dalam bumi akibat adanya tekanan pada lapisan batuan.
Tekanan tersebut timbul karena pergerakan lempeng tektonik yang membentuk kerak bumi, di mana setiap lempeng terus bergerak perlahan di atas mantel bumi yang panas dan cair.
Ketika dua lempeng bertemu, mereka dapat saling mendekat, menjauh, atau bergeser, dan saat pergerakan itu terhambat maka energi akan terakumulasi.
Akumulasi energi ini berlangsung hingga batuan tidak mampu lagi menahan tekanan, lalu pecah secara tiba-tiba sehingga terjadi pelepasan energi mendadak yang memunculkan getaran disebut gempa bumi.
Energi yang dilepaskan merambat ke segala arah dalam bentuk gelombang seismik, membuat tanah di permukaan ikut bergetar.
Faktor inilah yang menyebabkan gempa sering menimbulkan kerusakan, terutama bila terjadi di dekat permukiman padat penduduk atau wilayah dengan kondisi tanah yang rentan.
Parameter utama yang digunakan untuk memahami suatu gempa mencakup waktu terjadinya, lokasi pusat gempa (episenter), kedalaman sumber gempa, serta magnitudonya.
Perbedaan kedalaman pusat gempa sangat memengaruhi besar kecilnya guncangan yang dirasakan di permukaan. Gempa dangkal biasanya menimbulkan kerusakan lebih besar karena energi yang dilepaskan tidak terlalu jauh dari permukaan tanah.
Menurut teori lempeng tektonik, bumi terbagi menjadi beberapa lempeng besar yang terus bergerak sepanjang waktu.
Pergerakan inilah yang melahirkan berbagai zona rawan gempa seperti zona subduksi, zona sesar transform, serta patahan kerak dangkal.
Indonesia termasuk wilayah yang berada di pertemuan tiga lempeng besar, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, sehingga tingkat kegempaan di wilayah ini sangat tinggi.
Kondisi geografis tersebut menjadikan gempa bumi dan potensi tsunami sebagai risiko nyata bagi masyarakat di berbagai daerah.
Selain itu, gempa juga memiliki karakteristik yang membuatnya sulit diprediksi. Kejadiannya berlangsung sangat singkat, namun dapat menimbulkan kerusakan besar serta berpotensi berulang di lokasi tertentu.
Meskipun tidak bisa dicegah, dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan melalui upaya mitigasi, pembangunan infrastruktur tahan gempa, serta sistem peringatan dini.
Upaya mitigasi menjadi sangat penting karena gempa bumi dapat menimbulkan bahaya sekunder seperti longsor, likuifaksi, kebakaran akibat arus pendek listrik, maupun tsunami.
Oleh sebab itu, pemahaman mengenai penyebab dan mekanisme terjadinya gempa perlu terus dikembangkan sebagai langkah antisipasi menghadapi risiko di masa mendatang.
Secara keseluruhan, kenapa bisa terjadi gempa? Hal itu berkaitan erat dengan pergerakan lempeng tektonik yang memicu pelepasan energi secara mendadak sehingga menimbulkan guncangan di permukaan bumi. (Shofia)
Baca Juga: Apakah PPPK Bisa Pindah Tugas? Inilah Penjelasan dan Dasar Hukumnya
