Konten dari Pengguna

Kenapa Daging Kurban Alot? Cari Tahu di Sini

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kenapa Daging Kurban Alot. Foto: Shutterstock/ KumparanNEWS
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kenapa Daging Kurban Alot. Foto: Shutterstock/ KumparanNEWS

Kenapa daging kurban alot? Pertanyaan ini sering muncul setiap momen Iduladha, terutama ketika banyak orang merasa hasil olahan daging menjadi keras meski sudah dimasak dalam waktu lama.

Tekstur daging yang alot memang bisa memengaruhi cita rasa dan kenikmatan saat disantap, baik untuk sate, gulai, maupun rendang.

Banyak orang mengira penyebab utama daging alot hanya karena cara memasaknya, padahal ada beberapa faktor lain yang turut memengaruhi kualitas tekstur daging kurban.

Kenapa Daging Kurban Alot Setelah Disembelih?

Ilustrasi Kenapa Daging Kurban Alot. Foto: Shutterstock/ KumparanNEWS

Kenapa daging kurban alot? Dikutip dari laman gizi.almaata.ac.id, dan rri.co.id, kondisi ini sebenarnya merupakan proses alami yang terjadi setelah hewan disembelih. Dalam dunia pangan dan kedokteran hewan, fase tersebut dikenal sebagai rigor mortis.

Setelah hewan mati, aliran oksigen dan energi dalam tubuh berhenti sehingga otot tidak lagi bisa bekerja secara normal. Akibatnya, serat-serat otot mengalami kontraksi terus-menerus dan menjadi kaku. Inilah yang membuat daging kurban yang baru dipotong sering terasa keras atau alot ketika langsung dibakar, direbus, maupun dimasak menjadi sate dan gulai.

Banyak orang mengira daging yang alot menandakan kualitas daging buruk, padahal kondisi tersebut merupakan reaksi fisiologis normal. Pada fase rigor mortis, otot belum mengalami proses relaksasi sehingga teksturnya masih keras.

Karena itu, daging segar sebenarnya belum ideal untuk langsung diolah sesaat setelah penyembelihan. Dibutuhkan waktu agar otot melewati fase kekakuan dan kembali lebih lentur secara alami.

Selain proses biologis alami, cara penyimpanan daging juga sangat memengaruhi teksturnya. Kesalahan yang sering dilakukan adalah langsung memasukkan daging segar ke dalam freezer.

Pendinginan yang terlalu cepat sebelum fase rigor mortis selesai dapat menyebabkan fenomena cold shortening, yaitu kondisi ketika serat otot menyusut secara berlebihan akibat suhu dingin. Hal inilah yang membuat daging menjadi semakin keras dan sulit empuk meski sudah dimasak lama.

Agar tekstur daging lebih empuk, daging kurban sebaiknya disimpan terlebih dahulu di chiller atau kulkas bagian bawah dengan suhu sekitar 0-4 derajat Celsius selama 12-24 jam.

Proses ini dikenal sebagai aging atau pelayuan alami. Selama penyimpanan tersebut, enzim alami yang terdapat di dalam daging akan bekerja memecah jaringan dan melunakkan serat otot secara perlahan. Setelah melewati fase ini, daging biasanya menjadi lebih empuk, juicy, serta memiliki cita rasa yang lebih kuat ketika dimasak.

Selain itu, daging juga dianjurkan tidak dicuci sebelum disimpan. Mencuci daging dalam kondisi mentah justru dapat meningkatkan kelembapan yang memicu pertumbuhan bakteri lebih cepat. Pencucian sebaiknya dilakukan sesaat sebelum daging akan diolah.

Dengan penanganan dan penyimpanan yang tepat, daging kurban tidak hanya lebih awet, tetapi juga menghasilkan tekstur dan rasa yang jauh lebih nikmat saat disantap.

Itulah jawaban atas pertanyaan kenapa daging kurban alot, yang ternyata dipengaruhi oleh proses alami pada otot hewan setelah penyembelihan serta cara penyimpanan daging sebelum diolah. (Idaf)

Baca juga: Cara Mengempukkan Daging Kambing untuk Sate secara Efektif dan Mudah