Kenapa Ikan Sapu Sapu Dianggap Hama? Simak Penjelasannya di Sini

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa ikan Sapu sapu dianggap hama? Hal ini terkait banyaknya ikan sapu-sapu yang ditemukan di berbagai perairan Indonesia, terutama di sungai-sungai perkotaan.
Ikan yang dikenal memiliki bentuk tubuh unik dengan mulut pengisap ini awalnya populer sebagai ikan pembersih akuarium. Namun, ketika dilepas ke alam bebas, keberadaannya justru menimbulkan masalah serius.
Populasinya yang cepat berkembang dan kemampuannya bertahan di kondisi air yang tercemar membuat ikan ini sulit dikendalikan. Tak heran jika kini ikan sapu-sapu mulai dianggap sebagai ancaman bagi keseimbangan ekosistem perairan.
Kenapa Ikan Sapu Sapu Dianggap Hama Bagi Ekosistem Perairan?
Kenapa Ikan Sapu Sapu Dianggap Hama? Mengutip dari laman Instagram @kumparancom, ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) menjadi ancaman karena sifatnya yang invasif dan mampu bertahan di lingkungan ekstrem.
Penelitian dalam Jurnal Berita Biologi Vol. 24 No. 2 (2025) mencatat lonjakan populasi yang sangat signifikan di Sungai Ciliwung, dari hanya 12 ekor pada 2011 menjadi 287 ekor pada periode 2023–2024.
Secara keseluruhan, ditemukan 296 ekor di 18 titik pemantauan sepanjang 9 kilometer aliran sungai. Ikan ini bahkan mendominasi wilayah hilir, khususnya di kawasan DKI Jakarta dengan kualitas air yang rendah. Tanpa adanya predator alami dan dengan tubuh berlapis pelindung keras, ikan sapu-sapu berkembang tanpa kendali.
Populasinya kini mencapai 19,08 persen dari total 1.551 ikan yang terdata, menjadikannya spesies paling dominan dibandingkan 36 jenis ikan lainnya.
Statusnya sebagai spesies invasif juga telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/KKP/2020 yang melarang pemasukan serta peredarannya karena berpotensi merusak ekosistem.
Kehadiran ikan ini menyebabkan tekanan besar pada ikan lokal seperti Mystacoleucus marginatus, Barbodes binotatus, Glyptothorax platypogon, dan Channa limbata akibat persaingan ruang hidup dan sumber makanan.
Tidak hanya berdampak pada lingkungan, ikan sapu-sapu juga berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Beberapa penelitian menemukan kandungan bakteri koliform, logam berat, hingga mikroplastik dalam tubuh ikan ini, terutama yang hidup di perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung.
Hal ini tentu membuat ikan sapu-sapu tidak aman untuk dikonsumsi dan semakin memperkuat alasan mengapa spesies ini dianggap sebagai hama di perairan Indonesia.
Ikan sapu-sapu bukan sekadar ikan biasa, melainkan spesies invasif yang berdampak luas. Pengendalian dan kesadaran masyarakat sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem perairan tetap lestari. (Yolan)
Baca juga: 6 Karung Ikan Sapu-sapu Ditangkap Petugas PPSU di Samping Mal Bundaran HI
