Kitab Peninggalan Sejarah dalam Bentuk Karya Sastra oleh Mpu Tantular

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kitab yang merupakan peninggalan sejarah dalam bentuk karya sastra dikarang oleh Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit di abad ke-14 merupakan sumber inspirasi dirumuskannya semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika. Kitab apa yang dimaksud?
Pertanyaan ini muncul dalam pembahasan sejarah dan sastra Nusantara karena berkaitan dengan salah satu karya penting pada masa Kerajaan Majapahit yang memiliki pengaruh besar terhadap nilai persatuan di Indonesia hingga sekarang.
Kitab yang Merupakan Peninggalan Sejarah dalam Bentuk Karya Sastra oleh Mpu Tantular pada Masa Kerajaan Majapahit
Kitab yang merupakan peninggalan sejarah dalam bentuk karya sastra dikarang oleh Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit di abad ke-14. merupakan sumber inspirasi dirumuskannya semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika. Kitab apa yang dimaksud?
Jawabannya adalah Kakawin Sutasoma, karya sastra berbahasa Jawa Kuno yang ditulis oleh Mpu Tantular pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit dan dikenal memiliki nilai toleransi serta persatuan yang masih relevan hingga saat ini.
Berdasarkan informasi perpustakaan.kemendagri.go.id, Kitab Sutasoma dikenal sebagai salah satu karya sastra penting peninggalan Majapahit yang mengandung nilai moral, filsafat, dan toleransi antarumat beragama.
Dalam kakawin tersebut terdapat kalimat terkenal “Bhinneka Tunggal Ika” yang kemudian menjadi semboyan resmi negara Indonesia.
Kakawin Sutasoma ditulis sekitar abad ke-14 pada masa kejayaan Majapahit di bawah pemerintahan Raja Hayam Wuruk atau Rajasanagara. Kitab ini menceritakan perjalanan tokoh Sutasoma yang dikenal bijaksana dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta kedamaian.
Salah satu bagian paling terkenal dari kitab ini adalah frasa “Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa.” Kalimat tersebut memiliki makna bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan tetap menjadi satu kesatuan.
Nilai inilah yang kemudian dijadikan inspirasi dalam perumusan semboyan negara Indonesia. Kitab Kakawin Sutasoma tidak hanya berisi cerita sastra, tetapi juga mengandung ajaran filsafat dan harapan agar pemimpin Majapahit dapat membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.
Kitab tersebut juga menunjukkan kehidupan masyarakat Siwa-Buddha di Majapahit yang hidup berdampingan dalam semangat persatuan. Kajian sastra Jawa Kuno menyebutkan bahwa Kakawin Sutasoma mengandung banyak ajaran moral dan nilai budi pekerti.
Dalam kitab tersebut, ajaran agama tidak dipandang sebagai sesuatu yang saling bertentangan, melainkan sebagai bagian dari kesatuan yang harmonis. Kitab Sutasoma awalnya ditulis di atas daun lontar menggunakan bahasa Jawa Kuno.
Hingga saat ini, karya tersebut masih dipelajari sebagai warisan sastra dan sejarah Indonesia karena memiliki pengaruh besar terhadap nilai persatuan bangsa.
Nama Mpu Tantular juga dikenang sebagai salah satu pujangga besar Nusantara yang memberikan kontribusi penting dalam perkembangan sastra Jawa Kuno.
Kitab yang merupakan peninggalan sejarah dalam bentuk karya sastra dikarang oleh Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit di abad ke-14. merupakan sumber inspirasi dirumuskannya semboyan negara, Bhinneka Tunggal Ika. Kitab apa yang dimaksud?
Jawabannya adalah Kitab Sutasoma, karya sastra bersejarah yang mengandung nilai toleransi, persatuan, dan kemanusiaan yang masih relevan hingga sekarang. (Rahma)
Baca juga: Bentuk Tarian dengan Ciri Khas Masing-masing
