Konten dari Pengguna

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 121

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 121. Foto: Unsplash.com/Ionela Mat
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 121. Foto: Unsplash.com/Ionela Mat

Kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 121 berkaitan dengan keterampilan membaca puisi secara ekspresif melalui penekanan kata, intonasi, serta ketepatan pelafalan.

Materi ini menekankan hubungan antara bunyi bahasa, pilihan kata, dan suasana yang dibangun penyair melalui larik-larik puitis.

Pemahaman yang tepat akan membantu pembacaan puisi menjadi selaras dengan suasana, emosi, dan pesan yang terkandung di dalamnya.

Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 8 Halaman 121

Ilustrasi kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 121. Foto: Unsplash.com/Kit (formerly ConvertKit)

Dikutip dari Buku Bahasa Indonesia Kelas VIII di situs buku.kemendikdasmen.go.id, berikut adalah kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 121 yang disertai soal bernomor serta pembahasan rinci terkait penekanan kata dalam puisi Tanah Kelahiran 1 dan Senjakala Gunung Merapi.

C. Puisi Tanah Kelahiran 1 karya Ramadhan K.H.

Soal:

1. Bacalah larik-larik puisi “Tanah Kelahiran 1” dengan saksama.

2. Perhatikan kata-kata yang perlu mendapat penekanan kuat saat dibacakan.

3. Tekankan pembacaan pada kata-kata tersebut sesuai makna dan suasana puisi.

4. Mintalah penilaian teman terkait kejelasan lafal dan ketepatan penekanan kata.

Pembahasan:

Puisi Tanah Kelahiran 1 menghadirkan suasana alam yang kering, lirih, dan penuh kesan batin. Kata-kata yang perlu mendapat penekanan kuat antara lain seruling, meratap, semerut, menetes, gubuk, dan hati.

Kata seruling perlu ditekan karena menjadi simbol suara alam yang menggantikan ungkapan perasaan manusia. Kata meratap menegaskan suasana sedih dan kehilangan yang menjadi ruh puisi.

Kata semerut dan menetes muncul berulang untuk menggambarkan gerak perlahan dan berkesinambungan, sehingga penekanan membantu pendengar merasakan proses tersebut.

Kata gubuk menandai ruang kehidupan sederhana, sedangkan kata hati menandai ruang batin yang menjadi pusat perasaan.

Penilaian teman diperlukan untuk memastikan bahwa tekanan suara, irama, dan kejelasan pengucapan sudah selaras dengan isi puisi.

D. Puisi Senjakala Gunung Merapi karya Linus Suryadi A.G.

Soal:

1. Perhatikan dengan saksama puisi “Senjakala Gunung Merapi”.

2. Tentukan kata-kata yang perlu mendapat penekanan kuat saat dibacakan.

3. Jelaskan alasan pemilihan kata-kata tersebut.

4. Bacakan puisi secara tepat dan mintalah penilaian teman sekelompok terkait pengucapan dan intonasi.

Pembahasan:

Puisi Senjakala Gunung Merapi membangun suasana muram, tegang, dan penuh ancaman melalui pilihan diksi dan pengulangan.

Kata-kata yang perlu mendapat penekanan kuat meliputi gemercik, bandang pang, remas kelam, kulum, lereng-lereng curam, kerling api, dan pintu hati.

Kata gemercik dan bandang pang perlu ditekan untuk menonjolkan kontras bunyi lembut dan keras sebagai gambaran gejolak alam.

Frasa remas kelam dan kulum berulang kali muncul sehingga harus dibaca dengan tekanan konsisten untuk menegaskan suasana gelap dan tertekan.

Kata lereng-lereng curam dan kerling api menggambarkan kondisi alam berbahaya, sehingga penekanan membantu membangun ketegangan.

Kalimat “Pintu hati terkatup” perlu dibaca dengan tekanan emosional lebih dalam karena menjadi simbol penutupan batin dan keheningan akhir.

Penilaian teman sekelompok berfungsi menilai ketepatan tekanan, kelancaran irama, serta kesesuaian intonasi dengan makna puisi.

Sebagai penutup, kunci jawaban Bahasa Indonesia kelas 8 halaman 121 di atas dapat digunakan sebagai bahan pembanding dan referensi belajar mandiri dalam memahami penekanan kata pada pembacaan puisi.

Jawaban bersifat tidak mutlak karena proses apresiasi puisi tetap membuka ruang penafsiran sesuai konteks, penghayatan, dan ketepatan pembacaan masing-masing pembaca. (Khoirul)

Baca Juga: Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 12 Halaman 121 Terbaru untuk Siswa SMA