Konten dari Pengguna

Library Passport: Fungsi, Cara Membuat, dan Manfaatnya

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Library Passport. Foto: Unsplash.com/Alexei Maridashvili
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Library Passport. Foto: Unsplash.com/Alexei Maridashvili

Library Passport hadir sebagai media perjalanan literasi yang mengajak pengunjung mengenal berbagai perpustakaan independen di Bandung.

Program berbentuk buku kecil ini memberikan cara berbeda untuk mencatat pengalaman saat mendatangi ruang baca pilihan.

Setiap perpustakaan memiliki karakter unik yang membuat aktivitas berkunjung terasa lebih menarik dan berkesan.

Library Passport Bandung untuk Pencinta Buku Bacaan

Ilustrasi Library Passport. Foto: Unsplash.com/Dex Ezekiel

Dikutip dari akun Threads @ppydwip, Library Passport merupakan buku panduan perjalanan yang berisi daftar perpustakaan independen di Bandung yang dapat dikunjungi secara bertahap.

Setiap halaman menyediakan ruang untuk mendapatkan stempel dari perpustakaan yang telah didatangi, sehingga pemilik paspor dapat menyimpan catatan perjalanan literasi secara fisik.

Cara menggunakan Library Passport cukup sederhana. Pengunjung perlu memperoleh buku tersebut melalui lokasi perpustakaan yang tercantum di dalam daftar.

Setelah mendapatkan paspor, perjalanan dapat dimulai dengan mendatangi satu per satu perpustakaan independen yang berpartisipasi dalam program tersebut.

Setiap kunjungan memberikan pengalaman berbeda karena tiap perpustakaan memiliki ciri khas masing-masing.

Ada perpustakaan yang menawarkan koleksi buku khusus, ruang baca dengan konsep tertentu, hingga komunitas yang menjalankan kegiatan literasi.

Stempel yang dikumpulkan menjadi tanda bahwa pemilik paspor telah menjelajahi ruang-ruang tersebut.

Peluncuran program ini dilakukan dalam acara Bagi Baca pada 18–19 Juli 2026.

Acara tersebut menjadi tempat awal bagi masyarakat untuk mengenal konsep paspor perpustakaan sekaligus mendapatkan akses terhadap buku perjalanan tersebut.

Program ini dirancang agar aktivitas berkunjung ke perpustakaan terasa seperti sebuah perjalanan dengan tujuan yang jelas.

Selain menjadi media pencatatan kunjungan, buku paspor ini juga dapat menjadi koleksi pribadi yang menyimpan kenangan dari setiap tempat yang telah didatangi.

Setiap cap yang terkumpul memiliki cerita tersendiri mengenai perpustakaan yang dikunjungi, buku yang ditemukan, serta pengalaman selama berada di ruang literasi tersebut.

Program serupa sebelumnya dikenal melalui konsep Museum Passport yang mengajak masyarakat mengunjungi berbagai museum dengan sistem pengumpulan tanda kunjungan.

Melalui pendekatan yang mirip, Library Passport membawa konsep tersebut ke lingkungan perpustakaan agar kegiatan membaca dan menjelajah ruang literasi terasa lebih interaktif.

Aliansi Perpustakaan Independen Bandung membuka peluang agar konsep ini dapat berkembang ke wilayah lain.

Beberapa masyarakat juga menyampaikan ketertarikan agar program serupa tersedia di daerah seperti Jakarta, Depok, dan Bogor. Pengembangan wilayah akan membuat lebih banyak ruang baca lokal dapat dikenal oleh masyarakat luas.

Fungsi Library Passport tidak hanya sebagai buku pencatat perjalanan, tetapi juga menjadi penghubung antara pengunjung dan berbagai perpustakaan independen.

Program ini memberikan cara berbeda untuk menikmati dunia literasi melalui aktivitas berkunjung, mengenal tempat baru, dan mengumpulkan pengalaman dari setiap perjalanan.

Dengan adanya Library Passport, kegiatan menjelajahi perpustakaan dapat terasa lebih terarah dan menyenangkan.

Inovasi ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk membangun kebiasaan mengunjungi ruang baca sekaligus mengenal keberagaman perpustakaan independen di Bandung. (Suci)

Baca Juga: Museum Passport, Program Baru dari Kementerian Kebudayaan