Mengapa Penting Menggunakan APD di Laboratorium? Ini Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa penting menggunakan APD saat melakukan aktivitas di laboratorium atau bengkel fakultas teknik? Keselamatan kerja diperlukan agar kegiatan praktik berlangsung secara tertib dan risiko cedera dapat ditekan.
Laboratorium dan bengkel memiliki karakter pekerjaan berbeda, tetapi keduanya dapat melibatkan bahan, alat, mesin, panas, atau partikel yang berbahaya.
Karena itu, perlindungan tubuh perlu disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan potensi bahaya yang mungkin muncul selama praktik.
Mengapa Penting Menggunakan APD di Laboratorium atau Bengkel Fakultas Teknik Terkait Keselamatan Kerja?
Mengapa penting menggunakan APD saat melakukan aktivitas di laboratorium atau bengkel fakultas teknik? Alat Pelindung Diri (APD) berfungsi sebagai lapisan perlindungan untuk mengurangi dampak paparan bahaya yang masih mungkin terjadi selama kegiatan berlangsung.
Dikutip dari ehs.stanford.edu, APD tidak menggantikan pengamanan mesin, ventilasi, prosedur kerja, atau pengendalian bahaya lainnya.
Perannya melengkapi langkah keselamatan tersebut ketika risiko belum dapat dihilangkan sepenuhnya atau ketika pengendalian teknis belum cukup melindungi tubuh dari paparan.
Di laboratorium, risiko dapat berasal dari bahan kimia, mikroorganisme, benda tajam, percikan cairan, debu, maupun zat yang menghasilkan uap.
Jas laboratorium atau pakaian pelindung membantu menjaga tubuh dari percikan dan kontaminasi, sedangkan sarung tangan memberikan perlindungan pada tangan dari kontak langsung dengan bahan tertentu.
Pelindung mata juga memiliki fungsi penting ketika kegiatan melibatkan cairan kimia, serpihan material, atau proses yang dapat menghasilkan percikan.
Kacamata keselamatan atau pelindung wajah perlu dipilih sesuai karakter bahaya karena tidak semua jenis pelindung memberikan tingkat perlindungan yang sama.
Perlindungan pernapasan diperlukan pada pekerjaan yang menghasilkan debu, uap, atau partikel udara tertentu. Jenis masker atau respirator harus disesuaikan dengan sumber bahaya, sebab penggunaan perlindungan pernapasan yang tidak sesuai belum tentu memberikan perlindungan yang memadai.
Di bengkel fakultas teknik, potensi bahaya dapat muncul dari mesin berputar, proses pemotongan, pengelasan, panas, serpihan logam, benda berat, serta permukaan yang licin. Sepatu tertutup dengan perlindungan yang sesuai membantu menjaga kaki dari benda jatuh, material tajam, dan tumpahan tertentu.
Sarung tangan dapat digunakan pada pekerjaan tertentu, tetapi pemilihannya harus memperhatikan jenis aktivitas.
Pada mesin dengan bagian berputar, penggunaan sarung tangan yang berpotensi tersangkut justru dapat menimbulkan risiko tambahan. Karena itu, APD harus disesuaikan dengan penilaian bahaya dan karakter alat yang digunakan.
Pemeriksaan APD sebelum dipakai juga penting dilakukan. Sarung tangan yang robek, kacamata yang retak, tali pelindung yang rusak, atau pakaian kerja yang tidak layak perlu diganti sebelum aktivitas dimulai agar fungsi perlindungannya tetap terjaga.
Kebersihan APD turut berkaitan dengan keselamatan, terutama ketika perlengkapan digunakan dalam kegiatan yang melibatkan bahan kimia atau kontaminan.
Peralatan perlu dirawat, disimpan dengan benar, dan digunakan sesuai petunjuk agar tidak berubah menjadi sumber kontaminasi atau gangguan saat bekerja.
Penggunaan APD juga perlu disertai pelatihan mengenai cara memakai, melepas, merawat, menyimpan, serta memahami keterbatasannya.
Langkah tersebut membuat perlindungan tidak berhenti pada pemakaian perlengkapan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan kerja yang aman.
Terkait keselamatan dan kesehatan kerja, mengapa penting menggunakan APD di laboratorium? APD membantu melindungi tubuh dari paparan bahan berbahaya, percikan, kontaminasi, maupun risiko cedera selama kegiatan praktikum.
Pemilihan perlengkapan yang tepat, pemeriksaan kondisi, serta kepatuhan terhadap prosedur membuat kegiatan praktik dapat berlangsung dengan risiko yang lebih terkendali. (Suci)
Baca Juga: 5 Contoh Perilaku yang Mencerminkan Budaya K3 di Tempat Kerja
