Mengenal Bulan Suro dan Tradisinya di Kalangan Masyarakat Jawa

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan suro adalah bulan yang menandakan awal tahun menurut kalender Jawa. Istilah ini diambil dari bahasa Arab, yakni bulan Muharram (asyuro) yang ditetapkan sebagai bulan pertama dalam kalender hijriyah.
Ada banyak kegiatan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Jawa untuk menyambut bulan suro. Misalnya dengan bermeditasi atau merenung di tempat sakral, memandikan benda pusaka, dan mengelilingi wilayah keraton.
Ragam tradisi tersebut sudah dilakukan sejak dulu. Tujuannya yaitu agar seseorang dapat menemukan jati dirinya, mengenal siapa dirinya, dan dari mana asal mulanya.
Bulan suro dianggap begitu sakral oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Untuk mengetahui fakta uniknya, simak penjelasan tentang bulan suro selengkapnya dalam uraian berikut ini.
Mengenal Makna Bulan Suro dan Tradisinya
Dijelaskan dalam buku Misteri Bulan Suro karya KH. Muhammad Solikhin (2010), bulan Suro berkaitan erat dengan tragedi yang terjadi pada sayyidina Hasan dan Husein. Pada 10 Muharrram, kedua cucu Rasulullah tersebut dibunuh oleh pasukan yang dipimpin oleh Ubaidullah bin Ziyad di Karbala.
Selain itu, bulan Suro juga identik dengan peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah. Umar bin Khatab dan para sahabat sepakat menetapkan 1 Muharam sebagai awal penanggalan Hijriyah.
Di Indonesia, khususnya tanah Jawa, bulan Suro selalu diperingati dengan sejumlah adat dan tradisi. Kalangan Kraton Mataram Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta menganggap bahwa Suro adalah bulan yang suci dan penuh rahmat.
Artinya pada bulan Suro, setiap orang harus melakukan introspeksi diri, menekung dan melakukan laku maladihening. Mereka disarankan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Bahkan sejak dulu, setiap bulan Suro, kalangan kraton dan kasunanan selalu menjadikannya sebagai bulan untuk melawan segala godaan hawa nafsu. Mereka menjadikan momen spesial ini sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.
Ada sejumlah tradisi laku tirakat yang dijalankan oleh pihak Kraton Ngayogyakarta Mataram dan Kasunanan Surakarta saat bulan Suro tiba. Salah satunya yaitu dengan menggelar selamatan khusus selama satu minggu berturut-turut dan tidak boleh berhenti.
Baca juga: Mitos Malam 1 Suro dan Tradisinya Menurut Kejawen
Apabila terpaksa berhenti, maka harus diulang lagi dari awal. Mengutip buku Sajen dan Ritual Orang Jawa karya Wahyana Giri (2010), selamatan tersebut dimulai pada hari Minggu dengan bentuk uborampe dan sajen sebagai berikut:
Sajen hari Minggu: Nasi uduk, ayam bumbu lambaran. Uborampe ini untuk memule Raden Mas Atasangin.
Sajen hari Senin: Berupa Jennag Pliringan. Dimaksudkan untuk memule Raden Mas Kala-kala.
Sajen hari Selasa: Uborampe-nya berupa Serabi dan Klepon. Dimaksudkan untuk memule Raden Mas Purbowisesa.
Sajen hari Rabu: Uborampe-nya berupa Jenang Abang. Dimaksudkan untuk memule Raden Mas Kumambang.
Sajen hari Kamis: Uborampe-nya berupa Nasi Punar dan daging goreng. Dimaksudkan untuk memule Raden Mas Sri Mangati.
Sajen hari Jumat: Uborampe-nya berupa Jenang Baro-baro dari katul. Dimaksudkan untuk memule Raden Mas baro-baro.
Sajen hari Sabtu: Uborampe-nya berupa Sega Megana dan ikan air tawar. Dimaksudkan untuk memule Raden Mas Halimengan.
Baca juga: Kapan Malam 1 Suro 2023? Ini Tanggal dan Tradisinya dalam Masyarakat Jawa
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Siapa yang menetapkan 1 Muharram sebagai awal tahun hijriyah?

Siapa yang menetapkan 1 Muharram sebagai awal tahun hijriyah?
Umar bin Khatab.
Apa saja tradisi di bulan Suro?

Apa saja tradisi di bulan Suro?
Ada yang bermeditasi atau merenung di tempat sakral, memandikan benda pusaka, dan mengelilingi wilayah keraton
Apa tujuan merayakan bulan Suro?

Apa tujuan merayakan bulan Suro?
Tujuannya yaitu agar seseorang dapat menemukan jati dirinya, mengenal siapa dirinya, dan dari mana asal mulanya.
