Mengenal Mantilla, Kerudung Khas Umat Katolik yang Punya Makna Mendalam

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerudung mantilla adalah penutup kepala khas umat Katolik yang dikenakan kaum wanita ketika hendak menghadiri berbagai acara keagamaan. Kerudung ini berupa potongan renda hitam atau putih berbentuk lingkaran atau segitiga.
Sama seperti kerudung pada umumnya, kerudung mantilla dipakai di kepala dengan cara disampirkan. Biasanya, kerudung mantilla dikenakan saat perayaan ekaristi atau upacara liturgi lainnya. Kerudung yang dikenal pula dengan nama kerudung kapel ini juga kerap digunakan sebagai bagian dari gaun pengantin.
Penggunaan kerudung mantilla telah menjadi tradisi yang lazim selama 2000 tahun pertama gereja Katolik. Lebih dari sekadar aksesori, kerudung mantilla memiliki makna mendalam bagi para umat. Seperti apa filosofinya?
Kerudung Mantilla
Mengutip laman The Catholic Company, kerudung mantilla berasal dari kata manta yang artinya jubah. Potongan renda ini biasanya disampirkan di kepala wanita saat menghadiri Misa atau di hadapan Sakramen mahakudus.
Secara tradisional, kerudung mantilla berwarna hitam dipakai oleh wanita yang sudah menikah atau menjanda. Sedangkan, mantilla putih ditujukan kepada gadis muda atau wanita yang belum menikah.
Kerudung mantilla merupakan bagian dari identitas Katolik sejak berabad-abad lalu. Penggunaan Mantilla dilakukan untuk menutupi keindahan fisik seorang wanita, sehingga keindahan Tuhan dapat dimuliakan. Ini juga merupakan cara untuk meneladani Bunda Maria yang merupakan teladan kemurnian dan kerendahan hati.
Baca juga: Makna Sakramen Ekaristi sebagai Sumber dan Puncak Kehidupan Umat Katolik
Dikutip dari situs Lay Cistercians of South Florida, dalam tradisi Katolik, mulanya kerudung mantilla dijadikan sebagai pengingat atas hubungan Kristus dengan gereja-Nya.
Kerudung tersebut juga mengingatkan umat akan kesucian dan martabat perempuan. Mengenakan kerudung mantilla menandakan tunduknya seorang wanita kepada pria dalam pernikahannya.
Seiring berjalannya waktu, kerudung mantilla tidak lagi menjadi simbol kepatuhan perempuan terhadap laki-laki. Kini, kerudung tersebut digunakan sebagai simbol melindungi sesuatu yang disayangi, dihormati, dipuja, dan dianggap sakral.
Itu sebabnya kerudung mantilla tidak hanya digunakan sebagai penutup kepala kaum wanita, tetapi juga untuk menutup altar dan tabernakel tempat penyimpanan sakramen di gereja.
Piala yang menampung darah Kristus (dilambangkan dengan anggur) diselubungi dengan mantilla sampai Persiapan Persembahan, sementara tabernakel terselubung di antara Misa. Kedua bejana itu menampung Ekaristi, lambang kehidupan Yesus.
Dengan cara yang sama, wanita dianugerahi Tuhan karunia khusus untuk melahirkan kehidupan manusia yang baru. Oleh sebab itu, wanita sebagai manusia yang kudus dan suci sudah semestinya memakai kerudung mantilla.
Sebelum Konsili Vatikan II, wanita diwajibkan memakai kerudung mantilla ketika menghadiri Misa sebagai bentuk kesopanan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Meskipun tidak lagi diwajibkan, beberapa gereja masih sangat menganjurkan jemaat wanitanya memakai kerudung mantilla sebagai tanda penghormatan dan kesalehan saat berada di hadirat tuhan.
(ADS)
Baca juga: Pengertian dan Tata Cara Perayaan Ekaristi dalam Ibadah Katolik
