Konten dari Pengguna

Musim Kemarau 2026 sampai Bulan Apa? Cari Tahu di Sini

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi musim kemarau 2026 sampai bulan apa. Foto: Unsplash.com/engin akyurt
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi musim kemarau 2026 sampai bulan apa. Foto: Unsplash.com/engin akyurt

Perbincangan mengenai musim kemarau 2026 sampai bulan apa mulai muncul seiring prakiraan iklim terbaru yang menunjukkan perubahan pola musim di banyak wilayah Indonesia.

Perubahan dinamika atmosfer global seperti pergeseran fase ENSO dan sirkulasi angin muson turut memengaruhi awal, puncak, serta durasi musim kemarau tahun 2026.

Kondisi tersebut membuat pola hujan di berbagai daerah mengalami pergeseran waktu, sehingga periode kering diperkirakan datang lebih awal dibandingkan pola klimatologi biasanya.

Musim Kemarau 2026 sampai Bulan Apa

Ilustrasi musim kemarau 2026 sampai bulan apa. Foto: Unsplash.com/Kouji Tsuru

Musim kemarau 2026 sampai bulan apa? Dikutip dari bmkg.go.id, musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung hingga sekitar September dan secara bertahap mulai berakhir menjelang Oktober di sebagian wilayah Indonesia.

Prediksi tersebut berasal dari pemantauan kondisi iklim global yang dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau lebih awal dibandingkan rata-rata klimatologinya. Salah satu faktor yang memengaruhi kondisi ini adalah berakhirnya fenomena La Niña lemah pada Februari 2026.

Setelah fase tersebut berakhir, kondisi iklim global beralih menuju fase netral. Nilai indeks ENSO tercatat berada di kisaran -0,28 yang menunjukkan kondisi netral. Situasi ini diperkirakan bertahan hingga sekitar Juni 2026 sebelum kemungkinan munculnya El Niño kategori lemah hingga moderat pada pertengahan tahun.

Selain ENSO, faktor lain yang turut memengaruhi pola musim di Indonesia adalah perubahan arah angin muson. Peralihan dari angin baratan yang berasal dari Asia menuju angin timuran dari Australia menjadi penanda utama dimulainya musim kemarau di wilayah Indonesia.

BMKG mencatat sekitar 114 Zona Musim atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah yang lebih dulu mengalami kondisi tersebut meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, serta wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Gelombang berikutnya terjadi pada Mei 2026 ketika sekitar 184 Zona Musim atau sekitar 26,3 persen wilayah Indonesia mulai memasuki periode kemarau. Periode ini memperluas wilayah kering ke berbagai daerah di Jawa, Kalimantan, hingga sebagian Sulawesi.

Pada Juni 2026, tambahan sekitar 163 Zona Musim atau sekitar 23,3 persen wilayah Indonesia juga mulai mengalami musim kemarau. Dengan demikian, hampir separuh wilayah Indonesia diperkirakan telah memasuki musim kering pada pertengahan tahun tersebut.

Jika melihat distribusi waktunya, sekitar 325 Zona Musim atau 46,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal kemarau yang lebih maju dibandingkan kondisi normal. Sebagian wilayah lainnya mengalami waktu awal kemarau yang relatif sama dengan pola klimatologi sebelumnya.

Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 dan mencakup sekitar 429 Zona Musim atau sekitar 61,4 persen wilayah Indonesia. Pada periode ini kondisi kering akan mendominasi sebagian besar wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan, Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi.

Wilayah tertentu mengalami puncak kemarau lebih awal pada Juli, terutama sebagian daerah di Sumatra dan Kalimantan. Sementara itu beberapa wilayah lain baru mencapai puncak kemarau pada September, terutama di wilayah Nusa Tenggara Timur, sebagian Lampung, dan beberapa daerah di Maluku serta Papua.

Karakter musim kemarau tahun 2026 juga diperkirakan cenderung lebih kering dibandingkan kondisi normal. Sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan potensi periode kering yang lebih panjang di banyak daerah.

Durasi musim kemarau juga diperkirakan lebih lama dari biasanya di sekitar 57,2 persen wilayah Indonesia. Kondisi tersebut berkaitan dengan pola atmosfer global serta kemungkinan berkembangnya El Niño pada paruh kedua tahun 2026.

Situasi kemarau yang lebih panjang berpotensi memengaruhi berbagai sektor seperti pertanian, ketersediaan air, hingga risiko kebakaran hutan dan lahan. Penyesuaian jadwal tanam, pengelolaan sumber daya air, serta kesiapsiagaan terhadap dampak lingkungan menjadi langkah penting menghadapi kondisi tersebut.

Pemantauan iklim secara berkala menjadi bagian penting untuk memahami perkembangan musim secara lebih akurat di setiap wilayah Indonesia yang memiliki karakter cuaca berbeda.

Sebagai penutup, pembahasan mengenai musim kemarau 2026 sampai bulan apa menunjukkan bahwa periode kering diperkirakan berlangsung hingga sekitar September sebelum perlahan beralih menuju musim hujan berikutnya.

Perkembangan kondisi atmosfer global dan regional tetap menjadi faktor utama yang menentukan panjang pendeknya musim kemarau di berbagai wilayah Indonesia. (Shofia)

Baca Juga: Musim Kemarau 2026 Kapan? Cari Tahu Cara Menghadapinya di Sini