Nawaitu Shauma Ghadin An Ada I Fardhi Syahri Ramadhana sebagai Niat Puasa

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Nawaitu shauma ghadin an ada i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala sebagai niat puasa pada bulan Ramadan wajib diketahui oleh umat Islam. Dengan membaca niat tersebut, maka siap menjalankan puasa sebagai ibadah wajib pada bulan Ramadan.
Puasa merupakan salah satu ibadah wajib untuk menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa dan dilakukan dengan niat khusus. Niat ini menjadi bagian penting dalam menegaskan kesungguhan hati dalam melaksanakan perintah Allah Swt.
Nawaitu Shauma Ghadin An Ada I Fardhi Syahri Ramadhana Niat Apa di Bulan Ramadan?
Niat yang berbunyi naawaitu shauma ghadin an ada i fardhi syahri ramadhana hadzihis sanati lillahi ta'ala kerap dibaca sebelum menjalankan puasa. Niat tersebut menjadi bagian penting dari ibadah puasa, sebab segala amal perbuatan tergantung dari niatnya.
Dikutip dari situs baznas.go.id, niat puasa tersebut termasuk lafaz niat harian, yang berarti, “Aku berniat puasa esok hari untuk menunaikan kewajiban Ramadan tahun ini karena Allah Ta’ala." Sementara, untuk lafaz niat berpuasa sebulan penuh adalah sebagai berikut.
Nawaitu shauma jami’i syahri Ramadhana hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.
Arti: "Aku berniat puasa di sepanjang bulan Ramadan tahun ini, wajib karena Allah Ta’ala."
Umumnya niat puasa dapat dilafalkan di dalam hati. Namun, melafalkan niat secara lisan dianggap sebagai anjuran, dikutip dari situs kotayogya.baznas.go.id. Sebab, dapat membantu memfokuskan pikiran dan menguatkan tekad dalam menjalani ibadah puasa.
Dalam agama Islam, niat berfungsi sebagai penjaga kesadaran. Oleh karena itu, niat puasa dapat dilakukan sebelum terbit fajar seperti sebelum sahur maupun sejak malam hari.
Jika tidak berniat, maka puasa hanya akan menjadi rutinitas yang melelahkan. Sementara, apabila memulai puasa dengan niat yang tulus, maka rasa haus dan lapar akan bertransformasi menjadi pahala.
Namun, jika lupa melafalkan niat puasa, tetapi sudah memiliki niat dalam hati untuk berpuasa sejak malam harinya, maka puasa yang dilaksanakan tetap sah. Karena itulah, disarankan untuk melafalkan niat dengan penuh kesadaran, agar ibadah puasa menjadi lebih lancar.
Dalam melakukan setiap ibadah haruslah diawali dengan niat yang tulus dan ikhlas. Oleh sebab itu, niat puasa Ramadan dapat membantu umat muslim untuk lebih sadar dalam menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. (Prima)
Baca juga: Apakah Boleh Puasa Ikut Muhammadiyah Lebaran Ikut NU? Ini Penjelasannya
