Pahami Perilaku Syaja’ah dalam Islam beserta Contohnya dalam Kehidupan

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika dilihat dari segi bahasa, perilaku syaja’ah berasal dari bahasa Arab yang artinya keberanian atau keperwiraan. Sedangkan secara etimologi, kata syaja’ah memiliki arti berani. Perilaku syaja’ah menjadi salah satu akhlak terpuji yang diajarkan agama islam.
Mengutip dari website resmi cendekia.kemenag.go.id, syaja’ah menjadi akhlak mulia yang harus dimiliki umat muslim. Syaja'ah adalah kemampuan menundukkan jiwa agar tetap tegar, teguh, tetap maju saat berhadapan dengan masalah hidup, musuh, dan musibah.
Syaja’ah mengajarkan umat muslim untuk selalu berani bertindak dalam kebenaran. Sudah seharusnya setiap muslim memiliki sifat syaja;ah dalam dirinya. Ditambah lagi sifat syaja’ah tersebut memiliki kaitan dengan sifat jujur dan sifat terpuji lainnya, seperti amanah.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Perilaku Syaja’ah dalam Islam
Tak hanya keberanian saja, perilaku syaja’ah juga memiliki makna nyata atau jelas kekuatan, tekun, kegagahannya, kekuatan hati dalam menghadapi keputusan, tenang, sabar, dan menguasai diri.
Syaja’ah adalah perilaku berani karena benar, serta berani membela kebenaran. Lawan kata dari syaja’ah adalah al-jubn yang berarti pengecut. Sifat ini merupakan sifat tercela yang sangat berbahaya apabila dimiliki oleh seorang muslim.
Orang yang pengecut sudah harus bersiap untuk menerima kekalahan, kehinaan, serta kegagalan yang datang ke dalam hidupnya. Terlebih jika pengecut dalam hal berkomitmen terhadap kebenaran karena lebih takut dicela oleh manusia, serta takut risiko yang membahayakan dunianya.
Selain itu, dalam diri seorang pengecut juga susah untuk memiliki sikap sabar, berani, dan jujur pada diri sendiri.
Sifat syaja’ah sangatlah penting, karena keberanian yang dilandasi oleh sebuah kebenaran dalam syariat islam tidak akan memihak hal yag salah. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hud ayat 112 berikut ini:
... فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
Artinya: Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (Q.S. Hūd/11 : 112).
Memiliki sifat syaja’ah bisa menjadi sebuah jalan untuk mewujudkan kemenangan dalam keimanan seorang muslim. Apabila ingin memperoleh sebuah kemenangan, umat muslim tidak boleh takut dalam mengemban sebuah tugas dan tanggung jawab.
Dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 139, Allah berfirman untuk memerintahkan para hambanya untuk berani dalam melakukan sesuatu karena kebenaran.
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
Bahasa latin: wa lâ tahinû wa lâ taḫzanû wa antumul-a'launa ing kuntum mu'minîn.
Artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Q.S. Ali Imran/3: 139)
Jenis-jenis Perilaku Syaja’ah
Berikut adalah jenis-jenis dari sifat syaja’ah yang harus diketahui:
1. Syaja’ah Harbiyah
Jenis sifat syaja’ah yang pertama adalah syaja’h harbiyah. Syaja’ah harbiyah adalah keberanian dari yang kelihatan atau yang tampak, seperti misalnya keberanian yang berkaitan dengan peperangan atau melawan musuh. Hal tersebut telah dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 244 berikut ini:
وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
Bacaan latin: wa qâtilû fî sabîlillâhi wa'lamû annallâha samî'un 'alîm.
Artinya: “Dan berperanglah kamu di jalan allah, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui “ ( Qs. Al- baqarah: 244)
2. Syaja’ah Nafsiyah
Syaja’ah nafsiyah adalah keberanian dalam menegakkan dan membela kebenaran, serta berani dalam menghadapi bahaya atau penderitaan. Berani menyatakan sebuah perkara yang benar meskipun nantinya akan dibenci orang lain.
Adapun bentuk-bentuk sifat syaja’ah nafsiyah antara lain adalah sebagai berikut:
Keberanian dalam menyatakan kebenaran.
Keberanian dalam mengendalikan nafsu marah.
Keberanian alam mengakui kesalahan.
Keberanian dalam menghadapi kesulitan, penderitaan, serta ujian.
Keberanian dalam menjaga rahasia.
Perwujudan Sikap Syaja’ah
Berikut ini, penerapan syajā’ah dalam kehidupan, antara lain sebagai berikut:
1. Memiliki Daya Tahan yang Besar
Seseorang yang memiliki sifat berani akan memiliki daya tahan yang besar dalam menghadapi kesulitan, penderitaan, bahaya, dan mungkin saja penyiksaan, karena orang yang berani berada di jalan Allah Swt.
Islam telah banyak memberi teladan terkait dengan syajā’ah, di antaranya adalah kisah perjuangan Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya, baik pada periode Mekah maupun Madinah yang keselurahannya memiliki sikap syaja’ah.
Cara mereka bertahan dalam suasana tekanan yang luar biasa dari kaum Quraisy mencerminkan sifat Syaja’ah. Hingga sebagian mereka gugur syahid, seperti Sumayyah dan Yasir, sebagiannya lagi mengalami penyiksaan, seperti Bilal dan Ammar bin Yasir.
Tak hanya itu, sebagian dari mereka harus rela berhijrah meninggalkan tanah airnya menuju Habasyah demi mempertahankan iman.
2. Berterus Terang dalam Menyampaikan Kebenaran
Nabi Muhammad saw bersabda yang artinya “Katakan kebenaran itu, meskipun terasa pahit” (HR. Imam Baihaqi dalam Syu’abul Iman, No. 4737)
Berkata terus terang dan konsisten untuk menyatakan sebuah kebenaran adalah ciri-ciri jika seseorang itu memiliki sikap berani. Apalagi dilakukan di depan penguasa yang zalim. Tentu memiliki resiko yang besar, boleh jadi nyawa yang menjadi taruhannya.
Meskipun begitu, harus dipahami bahwa menyuarakan kebenaran harus tetap dilandasi dengan kesantunan, kesopanan, dan memperhitungkan kemajemukan di berbagai bidang.
Seperti yang telah dicontohkan oleh teladan kita Nabi Musa a.s. Saat beliau berhadapan dengan Firaun yang telah melewati batas, Nabi Musa tetap menggunakan tutur kata yang santun, sopan, dan enak didengar.
Nabi Musa a.s tetap memperhatikan betul siapa yang sedang dihadapi, meskipun pada akhirnya belum berhasil mencapai sasaran. Tidak sedikit, kita melihat orang yang berdusta atau diam karena khawatir d dengan risiko-resiko yang akan diterimanya.
Sikap ini dipilih untuk mencari jalan selamat atau memang ia seorang pengecut dan penakut. Padahal, sangat mungkin penguasa itu akan mendapatkan hidayah, bila ada yang menyampaikan kebenaran, tanpa rasa takut kepadanya.
3. Memegang Rahasia
Seseorang yang memiliki sifat syaja’ah tentunya memiliki keberanian untuk memegang rahasia. Ambil contoh, di zaman Rasulullah saw. tidak banyak sahabat yang diberi amanah memegang rahasia.
4. Mengakui Kesalahan
Mengakui kesalahan menjadi salah satu ciri pribadi pemberani. Sebaliknya, orang yang suka menyalahkan orang lain atas kesalahannya adalah orang yang pengecut. Tidak mudah mengakui kesalahan.
Terkadang tumbuh rasa malu, khawatir dikucilkan, bahkan cemas dipandang sinis oleh pihak lain, meski mengakui kesalahan.
5. Bersikap Objektif Kepada Diri Sendiri
Orang yang berani akan bersikap objektif kepada dirinya sendiri, orang dengan sifat syaja’ah akan mengerti jika diri memiliki kelebihan dan kelemahan.
Pribadi seperti ini membuka kesempatan pihak lain berperan untuk saling melengkapi dan menutupi, bahkan pribadi tersebut tidak menolak jika dirinya membutuhkan keberadaan orang lain.
Di sisi lain, pribadi ini tidak akan meremehkan kemampuan dirinya, sehingga akan lebih banyak potensi yang bisa dikembangkan dari dirinya sendiri.
6. Menguasai Diri Saat Marah
Mampu melawan nafsu dan amarah, menekan beragam keinginan, meski ia memiliki kemampuan adalah masuk ke dalam kategori pemberani. Amarah itu menjatuhkan manusia pada sikap serampangan, ceroboh dan kehilangan kontrol diri.
Oleh karena itu, Islam memerintahkan untuk bisa mengendalikan diri dari amarah. Bahkan Rasulullah saw selalu mengajarkan untuk tidak marah secara terus menerus atau berulang.
Jika masih muncul perasaan marah, maka ubahlah posisi dirinya. Bila juga masih berkobar-kobar, maka pergilah dan ambillah wudhu. Karena rasa marah itu berasal dari setan.
Hubungan Syaja’ah dengan Kejujuran
Berikut adalah hubungan atau keterkaitan antara perilaku syaja’ah dan kejujuran yang perlu diketahui:
Konsisten menyuarakan kebenaran, meskipun di hadapan penguasa yang zalim. Itu hanya dilakukan oleh para pemberani. Sebaliknya, para pengecut hanya menyampaikan yang diinginkan oleh penguasa.
Setiap manusia pasti pernah bersalah. Itu artinya, dibutuhkan manusia pemberani yang lantang mengakui kesalahannya. Berani mengakui kesalahan, merupakan indikator sikap syaja’ah dan jujur.
Selalu senang berbuat baik. Karena pada dasarnya setiap manusia akan senang, jika diperlakukan secara jujur, sebaliknya sangat marah dan benci, jika dibohongi atau dicurangi. (sesuai dengan isi dan kandungan ayat dalam Al-Qur’an Surah Al-Muthaffifīn/83 ayat 1-3).
Demikian adalah penjelasan mengenai perilaku syaja’ah beserta contohnya yang bisa menambah wawasan dan diterapkan pada diri sendiri. (Nisa)
Baca juga: Bacaan Dzikir Ketika Angin Kencang dan Hujan untuk Menenangkan Hati
