Konten dari Pengguna

Pembelajaran Luring dan Daring sebagai Modus Pembelajaran

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi pembelajaran luring dan daring sebagai modus pembelajaran. Foto: Unsplash.com/Annie Spratt
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pembelajaran luring dan daring sebagai modus pembelajaran. Foto: Unsplash.com/Annie Spratt

Menggabungkan pembelajaran luring dan daring merupakan modus pembelajaran yang memadukan interaksi langsung dengan kegiatan belajar menggunakan teknologi digital.

Pola tersebut memberikan ruang bagi kegiatan tatap muka sekaligus memungkinkan materi atau tugas dikerjakan melalui platform pembelajaran jarak jauh.

Perpaduan dua bentuk belajar ini dapat disusun sesuai kebutuhan peserta didik, karakter materi, serta tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

Menggabungkan Pembelajaran Luring dan Daring sebagai Modus Pembelajaran

Ilustrasi pembelajaran luring dan daring sebagai modus pembelajaran. Foto: Unsplash.com/Nik

Menggabungkan pembelajaran luring dan daring merupakan modus pembelajaran blended learning, yaitu pendekatan yang memadukan pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran daring atau e-learning secara terencana.

Dikutip dari digitallearninginstitute.com, istilah lain yang juga digunakan untuk konsep ini adalah hybrid learning, mixed-mode learning, atau technology-enhanced learning.

Blended learning tidak sekadar memindahkan sebagian kegiatan kelas ke internet. Setiap metode memiliki fungsi yang saling melengkapi dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Kegiatan luring dapat digunakan untuk diskusi langsung, praktik, kerja kelompok, demonstrasi, maupun interaksi dengan pengajar, sedangkan kegiatan daring dapat digunakan untuk mengakses materi, mengerjakan tugas, mengikuti aktivitas mandiri, dan memperdalam topik tertentu.

Salah satu ciri penting blended learning adalah adanya fleksibilitas dalam mengatur proses belajar.

Peserta didik dapat menyelesaikan sebagian aktivitas secara mandiri sesuai waktu yang tersedia, terutama ketika kegiatan daring bersifat asynchronous. Pola tersebut memungkinkan waktu belajar tidak sepenuhnya bergantung pada jadwal pertemuan di ruang kelas.

Penerapan blended learning juga dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih personal. Materi digital dapat dipelajari kembali ketika peserta didik membutuhkan waktu tambahan untuk memahami konsep tertentu.

Pengajar juga memiliki kesempatan untuk memantau perkembangan peserta didik melalui aktivitas daring sehingga kesulitan belajar dapat diketahui lebih cepat.

Dalam pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan, perpaduan luring dan daring dapat digunakan untuk menyesuaikan metode dengan karakter kemampuan yang dipelajari.

Keterampilan digital seperti pemrograman, desain grafis, pengelolaan produk digital, atau analisis data dapat dilatih melalui perangkat lunak secara langsung.

Pertemuan tatap muka kemudian dapat dimanfaatkan untuk membahas kendala, melakukan praktik terarah, atau mengembangkan kemampuan melalui kerja kelompok.

Blended learning memiliki beberapa model penerapan. A La Carte Model menempatkan pembelajaran tatap muka sebagai kegiatan utama, sedangkan kelas daring menjadi tambahan yang dipilih untuk melengkapi program utama.

Flex Model memiliki pola berbeda karena kegiatan belajar lebih banyak dilakukan secara daring, sementara pertemuan tatap muka digunakan sebagai pendukung, misalnya untuk diskusi kelompok atau konsultasi.

Rotation Model mengatur perpindahan peserta didik di antara beberapa bentuk kegiatan belajar dengan jadwal tertentu. Model ini dapat berupa Station Rotation, Lab Rotation, Individual Rotation, dan Flipped Classroom.

Pada Flipped Classroom, materi dipelajari sebelum pertemuan kelas sehingga waktu tatap muka dapat digunakan untuk diskusi, latihan, pemecahan masalah, dan pendalaman konsep.

Model lainnya adalah Enriched Virtual Model, yaitu pola yang menempatkan pembelajaran daring sebagai bagian utama dan bersifat mandiri, tetapi tetap memiliki kegiatan tatap muka yang wajib diikuti.

Pertemuan tersebut dapat digunakan untuk kegiatan tertentu seperti evaluasi, praktik, atau aktivitas yang membutuhkan interaksi langsung.

Pemilihan model perlu disesuaikan dengan kondisi lembaga pendidikan, kesiapan pengajar, kemampuan peserta didik, ketersediaan perangkat, serta karakter materi.

Perencanaan yang tepat membuat pembelajaran luring dan daring tidak berjalan sebagai dua kegiatan terpisah, melainkan saling terhubung dalam satu pengalaman belajar.

Pada akhirnya, perpaduan pembelajaran tatap muka dan digital memberikan pilihan metode yang lebih fleksibel tanpa menghilangkan fungsi interaksi langsung.

Menggabungkan pembelajaran luring dan daring merupakan modus pembelajaran blended learning yang dapat mengoptimalkan kegiatan kelas, pembelajaran mandiri, serta penggunaan teknologi secara terarah. (Khoirul)

Baca Juga: Perkembangan Murid Dilihat berdasarkan Hasil Tes Pengetahuan, Simak di Sini