Penerapan Experiential Learning dalam Pembelajaran Bersama dengan Guru Lain

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana menerapkan experiential learning dalam pembelajaran bersama dengan guru lain? Pertanyaan ini banyak diajukan oleh berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran, baik guru maupun siswa.
Experiential Learning atau pembelajaran berpengalaman menekankan pada proses belajar melalui pengalaman secara langsung, refleksi, konsep abstrak, dan eksperimen aktif.
Penerapan Experiential Learning dalam Pembelajaran Bersama dengan Guru Lain
Bagaimana menerapkan experiential learning dalam pembelajaran bersama dengan guru lain? Dikutip dari jurnaledukasia.org, model belajar seperti ini menggeser peran guru dari pemberi informasi menjadi fasilitator yang merancang pengalaman bermakna bagi para peserta didik.
Dalam konteks kolaborasi antar guru (co-teaching), penerapan experiential learning dapat membuka peluang untuk merancang kegiatan lintas-disiplin.
Pada praktiknya, dua atau lebih guru bersama-sama menyusun skenario pembelajaran nyata. Misalnya proyek lapangan, simulasi, atau praktik keterampilan. Sehingga siswa memperoleh pengalaman konkret dan kesempatan refleksi yang beragam.
Co-teaching juga dapat memungkinkan pembagian peran. Misalnya, seorang guru memfasilitasi aktivitas medan (concrete experience) sementara guru yang lain memandu sesi refleksi dan pengembangan konsep.
Pendekatan seperti ini meningkatkan kualitas bimbingan dan diferensiasi bagi berbagai gaya belajar siswa.
Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa diterapkan untuk menerapkan experiential learning secara kolaboratif:
Perencanaan terpadu antara guru bersama yang menyepakati tujuan pembelajaran, aktivitas pengalaman nyata, indikator penilaian, dan jadwal pelaksanaan.
Desain aktivitas pengalaman dengan merancang kegiatan yang autentik. Contohnya studi kasus, praktik keterampilan, proyek masyarakat, dan berbagi tanggung jawab instruksional antar guru.
Fasilitasi dan pengamatan bersama selama pelaksanaan. Guru berperan secara bergantian memfasilitasi, mengamati, dan mengumpulkan data untuk umpan balik.
Refleksi yang terstruktur dengan menyediakan waktu untuk refleksi individu dan kelompok. Guru juga dapat memoderasi diskusi agar siswa menghubungkan pengalaman dengan konsep teoritis.
Eksperimen dan tindak lanjut dengan mengajak siswa menerapkan konsep dalam tugas baru. Kemudian guru mengevaluasi dan menyesuaikan strategi berikutnya.
Kesimpulannya, menggabungkan experiential learning dengan kolaborasi guru dapat meningkatkan keaktifan dan keterlibatan siswa, sekaligus memperkaya praktik pengajaran profesional.
Kunci keberhasilan penerapan experiential learning dalam pembelajaran bersama dengan guru lain adalah perencanaan bersama yang matang, pembagian peran yang jelas, dan refleksi berkelanjutan untuk memperbaiki desain pembelajaran. (Aya)
Baca juga: Kriteria Utama dalam Memilih Platform untuk Pembuatan Media Pembelajaran
