Penerapan Konsep Dasar Differentiated Learning dalam Pembelajaran PAI

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jelaskan bagaimana konsep dasar differentiated learning dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam? Pertanyaan ini menggambarkan kondisi yang dihadapi pendidik di kelas saat ini.
Pemahaman terhadap konsep pembelajaran berdiferensiasi menjadi isu penting dalam upaya menciptakan pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang bermakna dan berkeadilan bagi peserta didik. Jadi, bagaimana konsep dasar differentiated learning dapat diterapkan?
Penerapan Konsep Dasar Differentiated Learning dalam Pembelajaran PAI
Jelaskan bagaimana konsep dasar differentiated learning dapat diterapkan dalam pembelajaran PAI untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang beragam? Berikut penjelasan lengkapnya:
Mengutip jurnal Penerapan Model Pembelajaran Berdiferensiasi (Differentiated Instruction) dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Sri Dewi Tavip Perwani Pohan, 2025):
Konsep dasar pembelajaran berdiferensiasi (differentiated learning) menekankan penyesuaian konten, proses, dan produk pembelajaran.
Penyesuaian tersebut dilakukan agar sesuai dengan kebutuhan, minat, gaya belajar, serta tingkat kemampuan siswa yang beragam dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI).
Pendekatan ini memungkinkan guru memenuhi keragaman siswa melalui pengelompokan berdasarkan karakteristik individu sehingga dapat meningkatkan motivasi, pemahaman, dan prestasi belajar PAI.
Prinsip Dasar
Pembelajaran berdiferensiasi didasarkan pada tiga prinsip utama, yaitu:
Konten (penyesuaian materi dengan tingkat pemahaman, seperti penjelasan sederhana untuk siswa lemah dan topik kompleks untuk siswa unggul).
Proses (metode bervariasi sesuai gaya belajar, misalnya diskusi untuk visual atau praktik ibadah untuk kinestetik).
Produk (tugas fleksibel seperti esai atau proyek kreatif).
Dalam PAI, prinsip ini menghubungkan ajaran agama dengan pengalaman sehari-hari siswa, seperti simulasi hukum Islam atau video prosedur shalat, untuk membentuk karakter berbasis Profil Pelajar Pancasila.
Implementasi di PAI
Guru menerapkan differentiated learning dengan langkah awal asesmen diagnostik seperti pre-test untuk mengidentifikasi kemampuan siswa, diikuti pengelompokan dan pemilihan media PAI yang beragam, seperti video, infografis, atau diskusi kelompok.
Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan dan fleksibel, misalnya melalui tugas praktik wudhu bagi siswa yang belajar lebih efektif melalui kegiatan langsung.
Selain itu, penilaian juga dapat dilakukan melalui laporan tertulis atau penjelasan lisan bagi siswa yang lebih mudah memahami materi melalui membaca dan berbicara.
Proses penilaian ini selaras dengan Kurikulum Merdeka dengan memanfaatkan proyek P5 dan kegiatan ekstrakurikuler, seperti tilawah, untuk memperkuat pemahaman dan pembentukan karakter siswa.
Pendekatan ini menciptakan kelas inklusif di SMP atau SD, di mana siswa belajar sesuai potensi tanpa stigma.
Manfaat dan Tantangan
Manfaat utama meliputi peningkatan pemahaman materi PAI yang kompleks, motivasi intrinsik melalui relevansi dengan kehidupan nyata, serta pengembangan kecerdasan emosional dan sosial siswa.
Tantangan seperti keterbatasan waktu, sumber daya, atau kesiapan guru diatasi dengan pelatihan, teknologi sederhana, dan kolaborasi sekolah-murid. Hasil studi kasus di sekolah menunjukkan peningkatan partisipasi dan prestasi PAI secara signifikan.
Demikianlah penerapan konsep dasar differentiated learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dapat menjadi strategi penting untuk menjawab keberagaman kemampuan, minat, dan gaya belajar siswa.
Melalui penyesuaian konten, proses, dan produk pembelajaran yang didukung asesmen berkelanjutan, pembelajaran PAI dapat berlangsung lebih inklusif, bermakna, dan selaras dengan prinsip Kurikulum Merdeka.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman akademik, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter peserta didik sesuai nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila. (Fikah)
Baca juga: Penerapan Experiential Learning dalam Pembelajaran Bersama dengan Guru Lain
