Konten dari Pengguna

Pengertian Jurnal Khusus, Jenis-Jenis, Cara Membuat, dan Contohnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 8 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi mengumpulkan berbagai transaksi untuk dipindahkan ke jurnal khusus. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi mengumpulkan berbagai transaksi untuk dipindahkan ke jurnal khusus. Foto: Pixabay

Dalam akuntansi, ada beberapa jenis jurnal, salah satunya adalah jurnal khusus. Jurnal khusus pun masih dibagi menjadi beberapa macam. Lantas, apa sebenarnya jurnal khusus itu?

Sebuah perusahaan yang berdiri di bidang bisnis ataupun bidang terkait, pasti memiliki berbagai jenis jurnal untuk memudahkan para akuntan membuat laporan keuangan dari banyaknya jenis jurnal transaksi.

Jurnal khusus sendiri merupakan salah satu jurnal yang memiliki peranan penting. Dalam hal ini, akuntan harus melakukan identifikasi atas segala bentuk transaksi yang terjadi pada perusahaan, untuk selanjutnya dicatat di jurnal khusus.

Pencatatan ini tidak dimasukkan ke jurnal umum, agar mudah dalam pencarian informasi dan penelusuran transaksi. Dengan adanya jurnal khusus, urnal umum hanya akan memuat transaksi yang umum (tidak dapat dicatat di jurnal khusus).

Untuk lebih memahaminya, simak pengertian, jenis, cara membuat, manfaat, hingga contohnya berikut ini.

Ilustrasi jurnal khusus yang telah dikelompokkan berdasarkan bentuk transaksi. Foto: Pixabay

Pengertian Jurnal Khusus

Mengutip dalam buku Pengantar Akuntansi oleh Suhendar, S.E., jurnal khusus adalah jurnal yang telah dikelompokkan berdasarkan bentuk transaksi. Dengan kata lain, jurnal khusus dibuat para akuntan untuk menggolongkan transaksi sesuai dengan jenisnya.

Sebagai contoh, bukti faktur penjualan sebagai bukti telah terjadinya transaksi penjualan secara kredit, akan dicatat dalam jurnal khusus penjualan.

Selain itu, terjadinya transaksi pembelian barang secara kredit, maka akan menimbulkan bukti transaksi faktur pembelian, dan bukti ini akan dicatat dalam jurnal khusus pembelian. Dapat disimpulkan, bahwa jurnal khusus hanya mencatat bukti transaksi yang sejenis.

Pencatatan dalam jurnal khusus dilakukan, agar catatan tersebut tidak memenuhi buku besar dengan cepat. Meskipun nanti, jumlah total dalam jurnal-jurnal khusus ini akan dimasukkan ke buku besar umum dalam bentuk ringkasan secara berkala.

Pada dasarnya, jika sebuah usaha semakin besar, pasti akan terjadi banyak transaksi yang terus berulang. Jurnal-jurnal khusus inilah akan mengurangi kemungkinan perubahan dalam catatan akuntansi, karena entri-entri di dalamnya dibuat dalam urutan kronologis.

Ilustrasi jurnal khusus yang dibagi menjadi empat macam. Foto: Pixabay

Jenis-Jenis Jurnal Khusus

Transaksi yang dicatat dalam jurnal khusus ada empat macam. Dihimpun dari buku 7 Langkah Praktis Membuat Pencatatan Akuntansi Keuangan Untuk Perusahaan Jasa milik Hendri Yulius, berikut masing-masing penjelasannya.

1. Jurnal pembelian

Jurnal pembelian adalah jurnal yang mempermudah akuntan dalam mencatat seluruh jenis pembelian, baik itu pembelian barang ataupun non-barang secara kredit.

Dalam hal ini, jenis-jenis transaksi pembelian meliputi pembelian barang dagang secara kredit, pembelian perlengkapan, peralatan, serta aktiva lain secara kredit.

2. Jurnal penjualan

Jurnal penjualan adalah jurnal yang dapat akuntan gunakan dalam mencatat seluruh transaksi penjualan yang berlangsung secara kredit. Informasi yang disimpan dalam jurnal ini adalah ringkasan dari faktur yang dikeluarkan untuk pelanggan.

Transaksi penjualan per hari akan dicatat pada jurnal penjualan, yang kemudian disederhanakan untuk diposting ke dalam buku besar di akhir periodenya.

3. Jurnal penerimaan kas

Jurnal ini dapat mempermudah akuntan dalam mencatat seluruh transaksi yang berhubungan dengan penerimaan uang. Jurnal penerimaan kas memiliki fungsi untuk mencatat transaksi yang terjadi secara tunai.

Adapun transaksi yang tercatat dalam jurnal penerimaan kas seperti penjualan tunai, penerimaan pelunasan utang, retur pembelian secara tunai, serta penerimaan pendapatan.

4. Jurnal pengeluaran kas

Jurnal pengeluaran kas memiliki fungsi untuk mencatat seluruh transaksi yang berkaitan dengan pengeluaran uang. Dalam hal ini, jurnal akan mencatat secara rinci seluruh transaksi yang terjadi secara tunai.

Adapun transaksi yang termasuk ke dalam jurnal pengeluaran kas, yaitu pembelian secara tunai, pelunasan utang, retur penjualan, pembayaran beban, serta pengambilan uang tunai untuk kepentingan pribadi.

Ilustrasi membuat jurnal khusus. Foto: Pixabay

Cara Membuat Jurnal Khusus

Menurut buku Ekonomi dan Akuntansi Membina Kompetensi karya Eeng Ahman dkk, cara membuat kolom pada jurnal khusus pembelian adalah sebagai berikut:

  1. Mencatat tahun, bulan, dan tanggal.

  2. Mencatat sumber data dari pemasok (biasanya dicatat nama toko atau sumber lainnya).

  3. Mencatat tanggal faktur.

  4. Mencatat syarat pembayaran secara kredit.

  5. Mencatat tanda check mark (v), jika telah diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  6. Mencatat jumlah pembelian.

  7. Mencatat jumlah pembelian perlengkapan.

  8. Mencatat nomor akun, diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  9. Mencatat nama akun yang tidak disediakan pada kolom khusus.

  10. Mencatat jumlah akun yang tidak disediakan pada kolom khusus.

  11. Mencatat jumlah utang dagang.

Sementara itu, cara mengisi kolom pada jurnal penjualan ialah sebagai berikut:

  1. Mencatat tahun, bulan, dan tanggal transaksi.

  2. Mencatat nomor bukti penjualan barang.

  3. Mencatat nama debitur.

  4. Mencatat tanda check mark (v), jika telah diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  5. Mencatat syarat pembayaran.

  6. Mencatat jumlah yang tertera pada faktur.

Lain halnya ketika mencatat pada jurnal penerimaan kas, cara pengisian kolomnya ialah:

  1. Mencatat tahun, bulan, dan tanggal.

  2. Mencatat sumber penerimaan kas atau nama transaksi atas akun yang dikredit.

  3. Mencatat tanda check mark (v), jika telah diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  4. Mencatat jumlah kas yang diterima.

  5. Mencatat jumlah potongan tunai penjualan.

  6. Mencatat jumlah penjualan tunai.

  7. Mencatat jumlah piutang dagang.

  8. Mencatat nomor akun, jika telah diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  9. Mencatat akun yang tidak disediakan pada kolom khusus.

  10. Mencatat jumlah akun yang ada pada kolom serba-serbi.

Untuk mengisi kolom pada jurnal pengeluaran kas, berikut caranya:

  1. Mencatat tahun, bulan, dan tanggal.

  2. Mencatat sumber penerimaan kas atau nama transaksi atas akun yang dikredit.

  3. Mencatat tanda check mark (v), jika telah diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  4. Mencatat jumlah piutang dagang.

  5. Mencatat nomor akun, jika telah diposting ke buku besar umum atau buku besar pembantu.

  6. Mencatat jumlah akun yang ada pada kolom serba-serbi.

  7. Mencatat jumlah kas yang diterima.

  8. Mencatat jumlah potongan tunai pembelian.

Ilustrasi contoh jurnal khusus untuk mencatat transaksi pada perusahaan dagang. Foto: Pixabay

Contoh Jurnal Khusus

Diambil pada sumber yang sama di penjelasan sebelumnya, berikut pencatatan transaksi ke dalam jurnal khusus dengan contoh transaksi yang terjadi pada "PD Usaha Keluarga untuk Juni 2007".

  • 2 Juni, dijual barang dagangan seharga Rp. 12.300.000,00 kepada CV Prima secara kredit dengan syarat 2/10, n/30 dan bukti transaksinya berupa faktur No.213.

  • 4 Juni, dibeli barang dagangan secara kredit dari PT Pratama seharga Rp. 7. 401.000,00 dengan syarat 2/10, n/60.

  • 5 Juni, dijual barang dagangan secara tunai dengan harga Rp. 3.231.000,00 kepada Tuan Alfin.

  • 6 Juni, dibeli peralatan kantor secara tunai dengan harga Rp. 6.555.000,00 dengan menggunakan cek N0. 854.

  • 7 Juni, diterima pendapatan bunga dari bank sebesar Rp. 5.325.000,00.

  • 9 Juni, dijual barang dagangan kepada CV Mutiara secara kredit seharga Rp. 16.650.000,00 dengan bukti transaksi berupa faktor No. 214.

  • 10 Juni, dibeli barang dagangan tunai seharga Rp. 3. 429.000,00 dengan menggunakan cek No. 855.

  • 12 Juni, diterima pelunasan piutang dari CV Prima atas transaksi 2 Juni 2007.

  • 13 Juni, dikeluarkan cek No. 856 untuk membayar utang kepada PT Pratama sebesar Rp. 7.401.000,00.

  • 13 Juni, dibeli perlengkapan kantor secara kredit dari Firma Murah seharga Rp. 1.323.000,00 dengan syarat-syarat pembayaran n/eom.

  • 15 Juni, dijual barang dagangan secara kredit kepada Nyonya Nurul seharga Rp. 1.995.000,00 dengan bukti transaksi berupa faktur No. 215.

  • 17 Juni, dikeluarkan memo kredit untuk pengembalian sebagian barang dagangan yang dibeli Nyonya Nurul pada 15 Juni 2007 seharga Rp. 95.000,00.

  • 18 Juni, dijual barang dagangan kepada CV Prima secara kredit seharga Rp. 1.071.000,00 dengan bukti transaksi berupa faktor No. 216. Syarat pembayaran yang ditetapkan, yaitu n/eom.

  • 19 Juni, diterima kas dari CV Mutiara sebesar Rp. 16.650.000,00 untuk seluruh piutang atas transaksi 9 Juni 2007.

20 Juni, dibeli barang dagangan secara kredit dari PT Lautan seharga Rp. 6.141.000,00 dengan syarat-syarat pembayaran n/30.

  • 22 Juni, dibeli peralatan kantor seharga Rp. 1.935.000,00 dari PT Pratama dengan syarat pembayaran 3/10, n/60.

  • 24 Juni, dikeluarkan cek No. 857 sebesar Rp. 12.000.000,00 untuk membayar premi asuransi selama 1 tahun. Transaksi ini dicatat sebagai asuransi dibayar di muka.

  • 25 Juni, dikeluarkan cek No. 858 sebesar Rp. 1.350.000, 00 untuk membayar beban perjalanan dinas karyawan.

  • 28 Juni, dibeli barang dagangan secara kredit Rp. 2.025.000,00 dari Firma Murah dengan syarat pembayaran 2/10, n/30.

  • 29 Juni, dijual barang dagangan kepada CV Mutiara secara tunai seharga Rp. 1.500.000,00 dengan bukti transaksi berupa faktur No. 217.

  • 29 Juni, dikembalikan sebagian barang dagangan yang dibeli dari Firma Murah seharga Rp. 725.000,00 karena rusak.

  • 30 Juni, dikeluarkan cek No. 859 sebesar Rp. 1.323.000,00 untuk membayar utang kepada Firma Murah.

  • 30 Juni, diterima kas sebesar Rp. 1.071.000,00 dari CV Prima untuk pelunasan utang atas transaksi 18 Juni 2007.

  • 30 Juni, dikeluarkan cek No.860 sebesar Rp. 6.500.000,00 untuk membayar gaji karyawan bulan Juni.

  • Jurnal khusus yang dibuat untuk mencatat transaksi tersebut, yaitu:

Jurnal Pembelian. Foto: Ekonomi dan Akuntansi Membina Kompetensi karya Eeng Ahman dkk.
Jurnal Penerimaan Kas. Foto: Ekonomi dan Akuntansi Membina Kompetensi karya Eeng Ahman dkk.
Jurnal Pembelian. Foto: Ekonomi dan Akuntansi Membina Kompetensi karya Eeng Ahman dkk.
Jurnal Pengeluaran Kas. Foto: Ekonomi dan Akuntansi Membina Kompetensi karya Eeng Ahman dkk.
Ilustrasi mempermudah pembuatan laporan keuangan. Foto: Pixabay

Manfaat Jurnal Khusus

Menurut buku Membuka Cakrawala Ekonomi tulisan Imamul Arifin dkk, inilah manfaat menggunakan jurnal khusus dalam pencatatan transaksi:

1. Mempermudah pembuatan laporan keuangan

Dengan jurnal khusus, pengelompokan sudah dilakukan secara otomatis per akun. Hal ini akan sangat menghemat waktu dalam proses pemindahan ke buku besar.

Pemindahan juga dapat dilakukan secara berkala, sehingga pekerjaan tidak menumpuk. Hal ini akan mempercepat pembuatan laporan keuangan.

2. Memudahkan pengecekan transaksi

Melalui bantuan jurnal khusus, transaksi dicatat dalam kelompok yang sejenis. Hal ini akan memudahkan proses pengecekan transaksi dan apabila ditemukan kesalahan, dapat dikoreksi secepat mungkin.

3. Mengurangi kemungkinan adanya perubahan data

Dalam jurnal khusus, mencatat transaksi harus dilakukan secara berurutan sesuai tanggal transaksi. Tidak hanya itu, informasi yang lengkap untuk setiap transaksi tersimpan di sini, seperti nama supllier/customer dan tanggal jatuh tempo. Pencatatan yang urut dan lengkap seperti ini akan mengurangi risiko adanya perubahan data atau kecurangan.

4. Mengurangi kesalahan pencatatan

Masing-masing pencatatan sebaiknya dipegang oleh staf yang berbeda. Dengan begini, pembagian tanggung jawabnya jelas dan kebenaran pencatatan juga dapat ditingkatkan. Hal ini secara otomatis akan mengurangi tingkat kesalahan yang mungkin terjadi.

5. Menjadi fungsi kontrol

Dengan jurnal khusus, setiap transaksi akan terpantau pencatatannya. Bila mana ada yang terlewat, pasti akan segera diketahui dan ada pihak yang dapat diminta pertanggungjawabannya. Itulah mengapa, fungsi kontrol telah berjalan dengan baik.

(VIO)

Frequently Asked Question Section

Jurnal khusus ada 4 apa saja?

chevron-down

Jurnal pembelian, penjualan, penerimaan kas, dan pengeluaran kas.

Kenapa disebut jurnal khusus?

chevron-down

Pencatatan dalam jurnal khusus tidak dimasukkan ke jurnal umum, agar mudah dalam pencarian informasi dan penelusuran transaksi. Dengan adanya jurnal khusus, urnal umum hanya akan memuat transaksi yang umum (tidak dapat dicatat di jurnal khusus).

Berapa jenis jurnal khusus?

chevron-down

Empat, jurnal pembelian, penjualan, penerimaan kas, dan pengeluaran kas.