Pengertian Tekanan Osmotik dan Faktor yang Mempengaruhinya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembahasan tentang pengertian tekanan osmotik sering ditemukan di dalam mata pelajaran kimia yang memiliki arti sebagai tekanan untuk menghentikan terjadinya peristiwa osmosis. Osmosis adalah gerakan air melewati membran semipermeabel dari area dengan konsentrasi zat terlarut rendah ke area dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi.
Menyadur buku Mudah dan Aktif Belajar Kimia untuk Kelas XII SMA yang disusun oleh Yayan Sunarya, berikut beberapa contoh osmosis dalam kehidupan sehari-hari yang sering tidak disadari.
Ketimun yang ditempatkan dalam larutan garam akan kehilangan airnya akibat osmosis sehingga terjadi pengerutan.
Wortel menjadi lunak akibat kehilangan air karena menguap. Ini dapat dikembalikan dengan merendam wortel dalam air. Wortel akan tampak segar karena menyerap kembali air yang hilang.
Penyerapan air oleh akar tanaman.
Terjadinya plasmolisis pada sel tumbuhan saat direndam ke larutan garam.
Terjadinya hemolisis pada eritrosit saat direndam aquades.
Contoh-contoh osmosis di atas memiliki hubungan yang erat dengan tekanan osmotik. Itu sebabnya tidak sedikit yang merasa kebingungan untuk membedakan pengertian tekanan osmotik dan osmosis.
Ingin mengetahui lebih banyak tentang pengertian dari tekanan osmotik? Simak informasinya pada artikel di bawah ini.
Pengertian Tekanan Osmotik
Sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya tekanan osmotik memiliki keterkaitan dengan osmosis. Menurut buku Cerdas Belajar Kimia karangan Nana Sutresna, tekanan osmotik adalah tekanan yang diperlukan untuk mempertahankan agar pelarut tidak berpindah dari larutan encer ke larutan pekat.
Artinya, apabila dua buah larutan yang memiliki tekanan osmotik sama-sama dipisahkan oleh suatu membran semipermeabel, larutan tersebut tidak akan mengalami proses osmosis. Pasalnya, proses osmosis hanya terjadi pada dua buah larutan yang memiliki perbedaan tekanan osmotik.
Adapun beberapa istilah yang terdapat dalam pengertian tekanan osmotik, yakni:
Larutan isotonik adalah dua buah larutan yang memiliki tekanan osmotik sama.
Hipotonik adalah larutan yang memiliki tekanan osmotik lebih rendah dibandingkan tekanan osmotik larutan lainnya.
Hipertonik adalah larutan yang memiliki tekanan osmotik lebih tinggi dibandingkan tekanan osmotik larutan lainnya.
Contoh dapat terlihat ketika pemberian nutrisi bagi pasien melalui infus. Pada infus, larutan nutrisi dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah. Larutan ini harus memiliki tekanan osmotik yang sama dengan tekanan osmotik darah.
Tujuannya agar sel darah tidak mengalami krenasi atau hemolisis yang akan membahayakan jiwa pasien tersebut. Biasanya, tekanan osmotik darah pada suhu 25°C adalah 7,7 atm. Itu sebabnya, apabila seorang pasien diberikan larutan glukosa melalui infus, konsentrasi glukosa yang digunakan harus memiliki persen massa 5,3%.
Menyadur laman resmi Badan Pengawasan Obat dan Makanan, larutan glukosa sebanyak 5,3% merupakan jumlah paling umum yang biasanya diberikan. Hal tersebut karena larutan glukosa berfungsi untuk mengganti kekurangan air dalam tubuh.
Kendati demikian, adapun injeksi yang mengandung glukosa lebih dari 10% dan bersifat iritan. Jadi, harus diberikan ke dalam central venous line (vena utama). Bahkan, ada yang mencapai 12,5% dan dapat diberikan dalam jangka waktu sedang ke vena perifer.
Dalam buku Kimia Dasar karangan Raymond Chang, tekanan osmotik juga berperan penting dalam mekanisme utama pengangkutan air ke bagian atas pada tumbuhan. Pasalnya, daun terus-menerus kehilangan air ke udara, dalam proses yang disebut dengan transpirasi, sehingga konsentrasi zat dalam cairan daun meningkat.
Sebagai gambaran, nantinya air didorong ke atas melalui batang, cabang, dan ranting-ranting pohon oleh tekanan osmotik. Supaya bisa bekerja dengan baik, diperlukan tekanan sebesar 10-15 atm untuk mengangkut air ke daun di pucuk pohon redwood di California yang tingginya mencapai sekitar 120 meter.
Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Osmotik
Dalam penerapannya, tekanan osmotik dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti faktor temperatur, tebal membran semipermeabel, hingga ukuran molekul pelarutnya.
Ingin memahami lebih jelas apa saja penjelasan dari masing-masing faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan osmotik? Simak informasinya di bawah ini.
1. Temperatur
Temperatur adalah suatu faktor yang dapat memengaruhi pergerakan partikel dalam suatu larutan. Pasalnya, pada suhu tinggi, pergerakan partikel akan menjadi lebih cepat, sehingga molekul pelarut akan lebih mudah dalam melalui membran semipermeabel.
2. Ukuran molekul pelarut
Adapun ukuran molekul pelarut yang bisa memengaruhi proses terjadinya osmotik. Ukuran molekul pelarut menjadi faktor karena semakin ukuran molekul pelarut, lajunya akan terhambat. Sebagai informasi, pelarut air cenderung memiliki ukuran kecil, sehingga lebih leluasa dalam melalui membran semipremeabel.
3. Tebal membran semipermeabel
Faktor yang terakhir adalah tebal membran semipermeabel. Semakin besar membran semipermeabel yang menghalang, maka pelarut yang melaluinya menjadi lebih lama dan lebih sulit.
Baca Juga: Mengenal Rumus PH beserta Contoh Soal dan Cara Menghitungnya
(JA)
Frequently Asked Question Section
Apa pengaruh ukuran molekul pelarut dalam tekanan osmotik?

Apa pengaruh ukuran molekul pelarut dalam tekanan osmotik?
Adapun ukuran molekul pelarut yang bisa mempengaruhi proses terjadinya osmotik. Ukuran molekul pelarut menjadi faktor karena semakin ukuran molekul pelarut, lajunya akan terhambat.
Apa pengaruh temperatur dalam tekanan osmotik?

Apa pengaruh temperatur dalam tekanan osmotik?
Temperatur adalah suatu faktor yang dapat mempengaruhi pergerakan partikel dalam suatu larutan. Pasalnya, pada suhu tinggi, pergerakan partikel akan menjadi lebih cepat, sehingga molekul pelarut akan lebih mudah dalam melalui membran semipermeabel.
Apa contoh tekanan osmotik?

Apa contoh tekanan osmotik?
Sebagai contoh, ketika pemberian nutrisi bagi pasien melalui infus. Pada infus, larutan nutrisi dimasukkan langsung ke dalam pembuluh darah. Larutan ini harus memiliki tekanan osmotik yang sama dengan tekanan osmotik darah. Tujuannya agar sel darah tidak mengalami krenasi atau hemolisis yang akan membahayakan jiwa pasien tersebut.
