Penjelasan Hadits 70 Ribu Yahudi dan Sumbernya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hadits 70 ribu Yahudi sering dikutip dalam berbagai diskusi keagamaan dan sosial tanpa penjelasan yang memadai serta latar periwayatan lengkap.
Pemahaman yang terpotong dapat menimbulkan kesimpulan keliru mengenai ajaran Islam dan relasinya dengan komunitas Yahudi sepanjang sejarah.
Kajian mendalam terhadap riwayat, konteks eskatologis, serta penjelasan ulama diperlukan agar maknanya tidak disalahartikan atau dipolitisasi.
Hadits 70 Ribu Yahudi
Dikutip dari yaqeeninstitute.org, hadits 70 ribu Yahudi terdapat dalam sejumlah riwayat sahih yang berbicara tentang peristiwa akhir zaman, khususnya kemunculan Dajjal dan turunnya Nabi Isa.
Riwayat yang paling sering dirujuk tercantum dalam Sahih Muslim nomor 2944, yang menyebutkan bahwa Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan dengan ciri tertentu.
Teks tersebut menjadi bagian dari narasi panjang tentang pertarungan besar antara kebenaran dan kebatilan menjelang hari kiamat.
Kajian hadis menuntut pemahaman menyeluruh terhadap seluruh jalur periwayatan dan keterangan tambahan yang menyertainya.
Riwayat tentang tujuh puluh ribu itu tidak berdiri sendiri sebagai seruan terhadap kelompok etnis atau agama tertentu, melainkan menggambarkan satu kelompok spesifik yang memilih mengikuti Dajjal sebagai sosok yang mereka anggap mesias.
Dalam literatur syarah, jumlah tersebut dipahami sebagai kelompok kecil, bukan representasi keseluruhan populasi Yahudi di dunia.
Penjelasan ulama klasik menegaskan bahwa yang dimaksud adalah sekte atau kelompok tertentu pada masa kemunculan Dajjal.
Sebagian komentar hadis menyebutkan bahwa angka tujuh puluh ribu menunjukkan jumlah terbatas, bahkan sangat kecil dibanding populasi global.
Fokus riwayat bukan identitas etnis, melainkan pilihan moral dan teologis untuk berpihak kepada figur yang mengaku sebagai tuhan dan menebar kerusakan.
Riwayat lain yang masih berkaitan menyebutkan bahwa dalam pertempuran tersebut, batu dan pohon berbicara menunjukkan keberadaan pasukan Dajjal yang bersembunyi.
Versi dalam Musnad Ahmad nomor 3546 menggunakan redaksi “seorang yang kufur bersembunyi di belakangku,” tanpa menyebut identitas agama tertentu.
Variasi redaksi ini menunjukkan bahwa inti pesan terletak pada posisi sebagai pengikut kebatilan, bukan pada latar belakang etnis.
Dalam kerangka teologi Islam, akhir zaman dipahami sebagai fase ketika dunia terbelah antara kebenaran dan kebatilan secara tegas.
Al-Qur’an surah An-Nisa ayat 159 menjelaskan bahwa seluruh Ahlul Kitab akan beriman kepada Nabi Isa sebelum wafatnya.
Makna ayat tersebut dipahami sebagai persatuan orang-orang beriman di bawah tauhid pada masa itu. Dengan demikian, orang saleh dari kalangan Yahudi, Nasrani, dan Muslim berada di barisan yang sama melawan Dajjal.
Hadis-hadis lain bahkan menyebutkan bahwa sebagian pengikut Dajjal berasal dari kalangan yang mengaku Muslim, termasuk kelompok munafik atau menyimpang.
Riwayat dalam Sahih Bukhari nomor 1881 mengisyaratkan bahwa ada penduduk yang sebelumnya tampak beriman namun bergabung dengan Dajjal.
Gambaran tersebut memperlihatkan bahwa parameter utama adalah iman dan integritas, bukan label identitas.
Prinsip umum ajaran Islam secara tegas melarang kekerasan terhadap nonkombatan dan warga sipil. Al-Qur’an surah Al-Ma’idah ayat 32 menyatakan bahwa membunuh satu jiwa tanpa hak seolah membunuh seluruh manusia.
Surah Al-Mumtahanah ayat 8 menegaskan kebolehan berbuat baik dan berlaku adil kepada pihak yang tidak memerangi.
Landasan normatif ini menjadi kerangka utama dalam memahami riwayat eskatologis agar tidak ditarik ke ranah kebencian kontemporer.
Teladan Nabi Muhammad juga menunjukkan hubungan sosial yang baik dengan komunitas Yahudi di Madinah. Dalam sebuah riwayat di Sahih Bukhari nomor 1250 disebutkan bahwa beliau berdiri menghormati jenazah seorang Yahudi yang lewat.
Sikap tersebut menegaskan penghormatan terhadap martabat manusia tanpa memandang agama.
Pemaknaan yang utuh terhadap riwayat eskatologi menuntut kehati-hatian metodologis serta kesadaran akan genre teksnya. Narasi apokaliptik bersifat simbolik dan futuristik, tidak dimaksudkan sebagai pedoman tindakan sosial sehari-hari.
Oleh sebab itu, pendekatan parsial berisiko melahirkan generalisasi yang tidak sejalan dengan prinsip keadilan dalam Islam.
Hadits 70 ribu Yahudi perlu dipahami dalam konteks eskatologi dan pilihan moral individu, bukan sebagai legitimasi kebencian kolektif terhadap komunitas tertentu.
Pembacaan komprehensif terhadap seluruh riwayat dan prinsip dasar ajaran Islam membantu menjaga keadilan makna serta mencegah distorsi penafsiran. (Shofia)
Baca Juga: Hadits Menyambut Ramadhan sebagai Pengingat untuk Bersiap Memasuki Bulan Suci
