Pentingnya Kontak Mata dengan Audience saat Story Telling

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa pada saat story telling pendongeng harus melakukan kontak mata dengan audience? Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang berlatih berbicara di depan umum atau sedang berusaha membawakan cerita yang menarik.
Dalam dunia komunikasi, terutama dalam seni bercerita, cara seorang pendongeng berinteraksi dengan pendengar sangat menentukan seberapa kuat pesan dapat diterima.
Tidak cukup hanya dengan memiliki alur cerita yang menarik, intonasi yang dinamis, atau ekspresi wajah yang hidup kontak mata menjadi unsur penting yang menghadirkan kedekatan emosional antara pencerita dan audiens.
Pentingnya Kontak Mata dengan Audience saat Story Telling
Mengapa pada saat story telling pendongeng harus melakukan kontak mata dengan audience? Dikutip dari laman binus.ac.id, menjaga kontak mata adalah bentuk komunikasi nonverbal yang menunjukkan rasa percaya diri, empati, dan ketulusan seorang komunikator terhadap pendengarnya.
Dalam konteks story telling, kontak mata membantu menciptakan suasana yang akrab dan interaktif. Tatapan mata yang tepat dapat menyampaikan berbagai emosi kegembiraan, kesedihan, ketegangan, hingga kehangatan tanpa perlu banyak kata.
Pendongeng yang mampu menatap audiens dengan tulus akan membuat ceritanya terasa lebih hidup dan mudah dipahami. Selain itu, kontak mata juga memungkinkan pencerita membaca reaksi pendengar, seperti ekspresi tertarik, bingung, atau tersentuh, sehingga ia bisa menyesuaikan gaya bicara atau tempo penyampaiannya secara spontan.
Lebih jauh lagi, kontak mata memiliki peran penting dalam menjaga perhatian audiens. Dalam kegiatan bercerita, pendengar bisa dengan mudah kehilangan fokus jika pembicara hanya melihat naskah atau memandang ke arah lain. Namun ketika menatap mereka, perhatian audiens akan kembali tertuju.
Tatapan mata menjadi sinyal bahwa pencerita hadir sepenuhnya dalam momen itu dan ingin melibatkan setiap orang yang mendengarkan. Hal ini tidak hanya memperkuat kepercayaan, tetapi juga menciptakan rasa keterhubungan yang alami di antara mereka.
Oleh karena itu, kemampuan menjaga kontak mata sebaiknya dilatih sejak dini, terutama bagi mereka yang sering berbicara di depan umum. Tidak perlu menatap terus-menerus hingga terasa kaku, cukup dengan mengalihkan pandangan dari satu pendengar ke pendengar lain secara bergantian.
Cara ini akan membuat setiap orang merasa diperhatikan. Dengan kontak mata yang tulus dan penuh makna, story telling menjadi lebih hidup, membangun keakraban, serta meninggalkan kesan mendalam bagi setiap pendengar. (Yolan)
Baca juga: 15 Contoh Teks Story Telling Bahasa Inggris dan Artinya
