Konten dari Pengguna

Pentingnya Kontak Mata Pendongeng dengan Audience saat Story Telling

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Pentingnya Kontak Mata Pendongeng dengan Audience saat Story Telling, Foto: Unsplash/Yannis H
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pentingnya Kontak Mata Pendongeng dengan Audience saat Story Telling, Foto: Unsplash/Yannis H

Pertanyaan tentang mengapa pada saat story telling mendongeng harus melakukan kontak mata dengan audience sering muncul, karena tatapan mata ternyata memiliki peran besar.

Dikutip dari Teknik Mendongeng Untuk Mengembangkan Karakter Anak Dan Literasi Di Sekolah, oleh FKIP PGSD Universitas Esa Unggul, dalam situs fkip.esaunggul.ac.id, dongeng sangat dinanti dan diminati oleh anak-anak.

Setiap anak pada dasarnya menyukai kisah dongeng, baik yang dibacakan langsung maupun yang telah tersimpan lama dalam ingatan para orang tua.

Pentingnya Kontak Mata Pendongeng dengan Audience saat Story Telling

Ilustrasi Pentingnya Kontak Mata Pendongeng dengan Audience saat Story Telling, Foto: Unsplash/Annie Spratt

Mengapa pada saat story telling mendongeng harus melakukan kontak mata dengan audience? Kontak mata menjadi salah satu aspek penting dalam story telling.

Dikutip dari Penerapan Metode Storytelling Dalam Pembelajaran IPAS Pada Mata Pelajaran Sejarah Kelas VII Di SMP Argopuro 02 Suci Panti Jember Tahun Pelajaran 2022/2023, oleh Riska Afrianti (2023), dalam situs eprint.ivet.ac.id, penting bagi pendongeng untuk membangun hubungan visual dengan para pendengar.

Tataplah audiens sejenak sebelum melanjutkan cerita. Tatapan mata ini membantu pendengar merasa dihargai sekaligus dilibatkan dalam alur kisah.

Selain itu, melalui kontak mata, pendongeng dapat menilai sejauh mana perhatian audiens tertuju pada cerita dan memahami tanggapan yang muncul dari audience.

Tak hanya kontak mata saja, saat proses mendongeng berlangsung, ekspresi wajah pendongeng juga berperan penting dalam menghidupkan cerita yang disampaikan.

Seorang pendongeng perlu menyesuaikan raut wajahnya dengan alur dan suasana kisah yang dibawakan. Namun, menampilkan ekspresi yang mampu menggambarkan emosi tokoh secara tepat bukanlah hal yang mudah dilakukan.

Pergerakan tubuh seorang pendongeng selama proses bercerita juga dapat membantu menghadirkan alur kisah yang lebih hidup dan memikat.

Cerita akan terasa jauh lebih menarik apabila pendongeng menampilkan gerakan yang menggambarkan tindakan para tokohnya.

Sebaliknya, bila pendongeng hanya menyampaikan cerita tanpa ekspresi gerak dari awal hingga akhir, dongeng tersebut akan tampak monoton dan berpotensi membuat pendengar kehilangan minat.

Itulah dia pentingnya kontak mata pendongeng dengan audience saat story telling. Story telling dongeng dapat membantu mengembangkan kreativitas dan rasa ingin tahu anak. (IF)

Baca juga: 20 Cerita Dongeng Pendek beserta Pesan Moralnya