Perbedaan Siklus Litik dan Lisogenik dalam Reproduksi Bakteriofage

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Reproduksi bakteriofage dapat terjadi melalui dua siklus, yakni siklus litik dan lisogenik. Kedua siklus tersebut memiliki sejumlah tahapan yang berbeda satu sama lain.
Perbedaan siklus litik dan lisogenik bisa dilihat dari pengertian, kondisi awal bakteri, kelanjutan siklus, hingga kondisi akhir bakterinya. Mengutip buku Virus dan Perannya: Materi Ajar IPA Biologi Fase E Kelas X karya Drs. Akmal (2022), virus melakukan siklus tersebut tergantung virulensi atau ketahanan sel inang terhadap virus penginfeksi.
Jika sel inang memiliki ketahanan yang lemah, virus dapat melakukan siklus litik. Sebaliknya, jika sel inang memiliki ketahanan yang tinggi, virus melakukan siklus lisogenik.
Kedua siklus tersebut berperan penting dalam reproduksi virus di dalam tubuh sel inang. Agar lebih memahami perbedaan siklus litik dan lisogenik, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Perbedaan Siklus Litik dan Lisogenik
Virus menunjukkan satu ciri khas makhluk hidup, yakni bereproduksi. Dijelaskan dalam buku Biologi 1 SMA dan MA untuk Kelas X karya Diah Aryulina, dkk., proses reproduksi virus hanya dapat terjadi jika berada dalam sel organisme lain. Maka, dapat disimpulkan bahwa virus hidup sebagai parasit.
Reproduksi virus terjadi dengan cara yang bervariasi. Misalnya bakteriofage yang bereproduksi melalui siklus litik dan lisogenik.
Biasanya, siklus litik berlangsung lebih cepat dibandingkan siklus lisogenik. Ada beberapa aspek yang membedakan kedua siklus tersebut, yakni sebagai berikut:
1. Pengertian
Siklus litik adalah siklus replikasi virus yang terjadi ketika sel inang mengalami lisis (mati) pada fase akhir siklusnya. Sementara di siklus lisogenik, sel inang tidak mengalami lisis (mati).
Dikutip dari buku Siap Menghadapi Ujian Nasional SMA/MA 2010 Biologi susunan R. Gunawan, alasannya yaitu karena sel inang memiliki virulensi. Sehingga, ia mampu bertahan dari serangan yang dilakukan oleh virusnya.
Baca juga: Fungsi Lempeng Dasar pada Virus dan Struktur Lainnya
2. Kondisi awal bakteri (sel inang)
Kondisi inang yang virulen memungkinkan terjadinya siklus lisogenik. Sementara sel inang yang dalam kondisi nonvirulen memungkinkan terjadinya siklus litik.
3. Jumlah tahapan
Siklus litik terdiri dari 5 tahapan utama, yakni adsorbsi, penetrasi, replikasi, perakitan, dan lisis. Sementara siklus lisogenik terdiri dari 4 tahapan meliputi adsorbsi, penetrasi, penggabungan, dan pembelahan.
4. Kelanjutan siklus
Di akhir siklus litik, kelanjutannya akan terhenti karena sel inangnya rusak atau mengalami lisis (mati). Sementara siklus lisogenik dapat dilanjutkan dengan siklus litik apabila virulensi bakteri hilang.
5. Proses
Pada siklus lisogenik, DNA/RNA virus akan disisipkan pada kromosom sel inang. Nantinya, kromosom yang tersisipi DNA/RNA virus akan mengadakan replikasi.
Proses tersebut terjadi secara terus-menerus selama pembelahan sel, sehingga materi genetik virus akan diwariskan pada anakan sel inang. Pada siklus lisogenik, infeksi virus akan memasuki masa laten, di mana sel inang tidak pecah (mati).
Baca juga: Pengertian Replikasi Virus, Jenis-Jenis, dan Proses Perkembangannya
(MSD)
