Konten dari Pengguna

Rahina Tilem: Sejarah, Makna, dan Prosesinya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi rahina tilem. Foto: Unsplash.com/Artem-Beliaikin
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi rahina tilem. Foto: Unsplash.com/Artem-Beliaikin

Rahina Tilem dikenal sebagai salah satu ibadah umat Hindu. Persembahyangan ini dilakukan satu bulan sekali, setiap bulan mati atau Krsna Paksa yang jatuh setiap 30 atau 29 hari sekali.

Rahina Tilem memiliki makna penting bagi umat Hindu di nusantara. Rahina atau hari suci tersebut dirayakan untuk memohon berkah dan karunia dari Ida Sang Hyang Widhi.

Berikut ini akan diungkap tentang sejarah, makna, serta prosesi dan pelaksanaan Rahina Tilem yang dilakukan umat Hindu.

Sejarah Rahina Tilem

ilustrasi sejarah rahina tilem. Foto: dokumentasi bali.kemenkumham.go.id.

Rihana Tilem merupakan ibadah wajib dilaksanakan oleh umat Hindu setiap bulannya. Selain memohon berkah pada Pencipta, ritual ini bertujuan untuk meningkatkan Sraddha dan Bhakti manusia agar lebih memahami sejarah dan ajaran agama.

Menyadur jurnal Hakekat Ritual Tilem dalam Agama Hindu di Pura Pasraman Saraswati Tiga Ketintang Surabaya karya Eko Budi Prasetyo, Tilem adalah hari ketika bulan tidak terlihat sama sekali.

Oleh karena itu, hari tersebut dinamakan bulan mati atau disamakan dengan kegelapan. Hitungan bulan mati didasarkan pada ilmu astronomi bahwa bumi mengelilingi matahari selama 1 tahun, 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik.

Hitungan astronomi di atas dikenal dengan hukum rtam. Dari hitungan inilah Rahina Tilem dilaksanakan setiap bulan.

Dari beberapa sumber sejarah, Rahina Tilem di Indonesia erat kainnya dengan keberadaan Dinasti Candra yang menganut kepercayaan bahwa bulan Tilem menjadi salah satu hari suci dari bangsa yang bersangkutan.

Makna Rahina Tilem

ilustrasi makna rahina tilem. Foto: dokumentasi bali.kemenkumham.go.id.

Berdasarkan laman resmi Pemerintah Kabupaten Buleleng, ritual ibadah yang dilakukan dalam Rahina Tilem dimaksudkan sebagai pelebur segala dosa dan mala petaka.

Selain itu, umat Hindu percaya bahwa orang yang melakukan ibadah di hari Tilem akan diberi jalan ke swarga loka oleh Sang Hyang Yamadipati ketika meninggal.

Dalam sastra Hindu berjudul Lontar Purwagama disebutkan bahwa Rahina Tilem bertujuan agar setiap umat Hindu selalu meningkatkan kesucian diri lahir dan batin. Dengan kondisi tersebut, pikiran, perkataan, dan perbuatan akan bersih pula.

Bulan Tilem juga sering disimbolkan dengan hati atau pikiran manusia yang sedang keruh. Jadi, jika pikiran seseorang sedang dalam keadaan tidak baik dan dipenuhi angkara murka, pikiran tersebut sedang menyusut menuju kegelapan.

Dengan demikian, Rahina Tilem berfungsi untuk menghilangkan kegelapan dalam tubuh manusia berupa sifat jahat, seperti hawa nafsu, kemarahan, ketamakan, kesombongan, iri hati atau kebencian, hingga keterikatan.

Menurut jurnal Persembahyangan Purnama dan Tilem sebagai Momen Strategis untuk Peningkatan Sraddha Bhakti serta Pembinaan Umat Yogyakarta oleh I Nyoman Santiawan, Rahina Tilem dapat menumbuhkan sikap kebersamaan serta memperkuat tali silaturahmi dan toleransi antar sesama umat maupun masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Makna Melasti sebelum Nyepi bagi Umat Hindu

Prosesi dan Pelaksanaan Rahina Tilem

Ilustrasi prosesi dan pelaksanaan rahina tilem. Foto: Unsplash.com/Wisnu-Widjojo

Dirangkum dari karya ilmiah berjudul Makna Sesajen dalam Ritual Tilem dan Implikasinya Terhadap Kehidupan Sosial Keagamaan oleh Leni Erviana, Rahina Tilem terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

1. Persiapan

Persiapan yang dilakukan dalam Rahina Tilem adalah menyiapkan berbagai alat, syarat dan bahan yang digunakan serta dirangkai dalam bentuk pejati atau sesajen sederhana.

Bahan sesajen yang digunakan tak boleh diambil dari kuburan dan tidak boleh jatuh atau layu. Harus diambil dari pohonnya langsung.

2. Pembersihan Tempat

Sebelum melaksanakan ritual tilem, umat Hindu membersihkan pura dalem yang akan digunakan sebagai tempat sembahyang. Selanjutnya, para pemangku akan mempersiapkan beberapa alat yang dibutuhkan ketika upacara ritual berlangsung.

Air yang ada dalam bejana diletakkan di depan pintu masuk pura. Tikar atau karpet digelar digunakan sebagai tempat duduk bagi umat yang melakukan ritual, pengeras suara digunakan saat darma wacana, dan mempersiapkan tempat sesajen.

3. Persiapan Lahir dan batin

Persiapan lahir dan batin dilakukan oleh setiap umat Hindu. Sikap badan pada saat bersembahyang adalah dengan cara duduk bersila untuk laki-laki dan bersimpuh untuk wanita.

Sementara untuk persiapan batin adalah selalu bersikap tenang dengan hati yang suci, percaya sepenuhnya pada Tuhan, penyerahan diri secara total, dan menumbuhkan rasa tulus ikhlas kepada-Nya.

Setelah ketiga persiapan tersebut, ritual Rahina Tilem dapat dilakukan dengan sungguh-sungguh agar apa yang diharapkan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dapat tercapai dengan benar.

Makna Sesejan Rahina Tilem

Makna sesajen rahina tilem. Foto: Unsplash.com/Ruben-Hutabarat

Masih dari sumber yang sama, berikut ini makna sesajen atau pejati yang digunakan pada ritual Rahina Tilem.

  1. Pisau: digunakan untuk mengukur dan memotong janur.

  2. Srobong daksina seperti baskom atau keranjang digunakan sebagai alas.

  3. Daun/plawa: digunakan sebagai lambang kesejukan

  4. Bunga: lambang benih-benih kesucian.

  5. Air: lambang prawitra atau ametra

  6. Api: lambang saksi dan pendeta yajna

  7. Bakul atau alas bedongan: simbol arda candra

  8. Kelapa dengan sambuk maperucut: simbol paitra atau air keabadian. Air ini juga digunakan sebagai lambang semesta yang terdiri dair tujuh lapisan luar dan tujuh lapisan dalam.

  9. Kojong papselan: Simbol andanereswa yang terbuat dari lima dedaunan yang diikat menjadi salah satu lambang panca devata, daun duku lambang Iswara, daun Manggis lambang Brahma, daun Durian lambang Maha Dewa, daun salak lambang Wisnu, dan daun Nangka lambang Siwa.

  10. Kojong gegantusan: Simbol pertiwi yang terbuat dari kacang-kacangan dan bumbu-bumbunan sebagai lambang kemakmuran.

  11. Telur bebek/itik: simbol windu dan satyam yang dibungkus dengan ketupat telur adalah lambang awal kehidupan atau getar-getar kehidupan.

  12. Tampelan: digunakan sebagai simbol tri murti.

  13. Irisan pisang, tabu dan kojong: simbol dhara yakni simbol yang menghuni bumi yang hidup dengan tri kaya parisudhanya.

  14. Benang putih/tukelan: simbol siwa atau simbol dari naga anantabhoga dan naga Basuki dalam proses pemutaran mandara giri untuk mendapatkan tirta amertha.

  15. Uang kepeng: lambang dewa Brahma yang menjadi inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan.

  16. Berasa: lambang hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di bumi.

(IPT)