Konten dari Pengguna

Susunan Acara Malam 1 Suro, Tradisi Tahunan Masyarakat Jawa

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Susunan Acara Malam 1 Suro. Unsplash.com/Masjid Pogung Raya
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Susunan Acara Malam 1 Suro. Unsplash.com/Masjid Pogung Raya

Salah satu tradisi tahunan yang masih lestari di kalangan masyarakat Jawa adalah tradisi perayaan malam 1 Suro. Dengan susunan acara malam 1 Suro menandai pergantian tahun dalam kalender Jawa yang bertepatan dengan 1 Muharam kalender Hijriah.

Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang identik dengan pesta dan hiburan, malam 1 Suro lebih banyak diisi dengan kegiatan spiritual, refleksi diri, dan pelestarian budaya nenek moyang dan leluhur.

Dikutip dari tazkia.ac.id, tradisi malam 1 Suro sudah berlangsung sejak masa pemerintahan Sultan Agung ketika kalender Jawa diselaraskan dengan kalender Islam pada tahun 1633 Masehi. Sejak saat itu, masyarakat Jawa memaknai bulan Suro ini sebagai waktu sakral untuk melakukan introspeksi, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Susunan Acara Malam 1 Suro dari dan untuk Masyarakat

Ilustrasi Susunan Acara Malam 1 Suro. Unsplash.com/Reyhan Aviseno

Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda, namun secara umum susunan acara malam 1 Suro di kalangan masyarakat Jawa biasanya meliputi beberapa hal berikut ini:

1. Pembukaan dan Doa Bersama

Acara perayaan dibuka oleh tokoh masyarakat atau sesepuh desa. Selanjutnya adalah pembacaan doa bersama sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan untuk tahun yang akan datang.

2. Tirakatan

Tirakatan adalah bagian penting dalam malam 1 Suro. Kegiatan ini dilakukan dengan berdiam diri, berdzikir, membaca doa, dan melakukan perenungan hingga larut malam. Tujuan tirakatan sendiri adalah meningkatkan ketenangan batin dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

3. Kenduri atau Selametan

Masyarakat pada umumnya mengadakan kenduri dengan menyajikan berbagai makanan tradisional. Hidangan kenduri biasanya dinikmati bersama sebagai simbol dari kebersamaan, rasa syukur, dan harapan akan keberkahan di tahun yang baru.

4. Jamasan Pusaka

Di lingkungan keraton dan komunitas adat tertentu, terdapat ritual jamasan atau pencucian benda pusaka. Tradisi ini turut melambangkan penyucian diri dan penghormatan terhadap warisan budaya leluhur.

5. Kirab Pusaka

Kirab pusaka adalah acara yang paling identik dalam peringatan malam 1 Suro. Prosesi ini dilakukan dengan mengarak pusaka keraton atau benda-benda bersejarah sambil berjalan kaki dengan suasana khidmat.

Di Surakarta, kirab pusaka ini dilengkapi dengan tradisi tapa bisu, yaitu berjalan tanpa berbicara sebagai bentuk refleksi dan pengendalian diri.

6. Renungan dan Penutupan

Di akhir acara, masyarakat melakukan renungan bersama dan doa penutup. Kegiatan ini adalah sebuah harapan agar tahun yang baru membawa kedamaian, keselamatan, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat.

Bagi masyarakat Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai waktu yang tepat untuk membersihkan diri lahir dan batin, memohon keselamatan, dan merenungkan perjalanan hidup selama setahun terakhir. Oleh karena itu, berbagai ritual di atas banyak yang masih dilestarikan di sejumlah daerah, khususnya wilayah Yogyakarta dan Surakarta.

Susunan acara malam 1 Suro di atas mencerminkan nilai-nilai luhur budaya Jawa yang mengedepankan introspeksi, spiritualitas, dan kebersamaan. Tradisi ini tetap dipertahankan sampai sekarang sebagai bagian dari identitas budaya Nusantara. (Win)

Baca juga: Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni Tentang Tahun Baru Islam Singkat