Konten dari Pengguna

Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026 yang Menyejukkan Hati

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teks khutbah Jumat 24 Juli 2026. Foto: Unsplash.com/Nahrizul Kadri
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teks khutbah Jumat 24 Juli 2026. Foto: Unsplash.com/Nahrizul Kadri

Teks khutbah Jumat 24 Juli 2026 dapat dijadikan pilihan untuk disampaikan pada pelaksanaan salat Jumat dengan tema ketakwaan, perjuangan, dan pembinaan akhlak.

Nilai-nilai yang terkandung dalam khutbah ini mengajak setiap muslim memperkuat amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap kesempatan beribadah layak dimanfaatkan untuk memperbaiki diri serta memperkokoh hubungan dengan Allah Swt.

Teks Khutbah Jumat 24 Juli 2026: Bekal Memperkuat Iman

Ilustrasi teks khutbah Jumat 24 Juli 2026. Foto: Unsplash.com/Rumman Amin

Dikutip dari kemenag.go.id, berikut adalah teks khutbah Jumat 24 Juli 2026 yang mengangkat pelajaran dari Perang Badar sebagai bekal memperkuat iman, membangun kedisiplinan, serta menumbuhkan semangat musyawarah dan tanggung jawab.

Khutbah Pertama

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt dengan melaksanakan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Ketakwaan bukan hanya tampak melalui ibadah yang dikerjakan, melainkan juga melalui sikap jujur, amanah, sabar, dan kesungguhan dalam menjalankan setiap tanggung jawab.

Perang Badar merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam. Peristiwa tersebut berlangsung pada 17 Ramadan tahun kedua Hijriah.

Kaum Muslimin saat itu berjumlah sekitar 313 orang dengan perlengkapan yang sangat terbatas. Kondisi tersebut jauh berbeda dibandingkan pasukan Quraisy yang memiliki jumlah personel lebih besar dan persenjataan lebih lengkap.

Allah Swt memberikan izin kepada kaum Muslimin untuk mempertahankan diri setelah mengalami penindasan dalam waktu yang panjang. Firman Allah Swt dalam Surah Al-Hajj ayat 39 menyebutkan:

﴿ اُذِنَ لِلَّذِيْنَ يُقَاتَلُوْنَ بِاَنَّهُمْ ظُلِمُوْاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ عَلٰى نَصْرِهِمْ لَقَدِيْرٌ ﴾

Artinya, "Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya telah dizalimi. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuasa memberikan pertolongan kepada mereka."

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Peristiwa Badar mengajarkan bahwa kemenangan tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasukan ataupun kelengkapan perlengkapan.

Kemenangan lahir melalui keimanan yang kokoh, ikhtiar yang sungguh-sungguh, kepemimpinan yang bijaksana, serta kepatuhan terhadap aturan yang telah disepakati bersama.

Pelajaran pertama ialah pentingnya perencanaan yang matang. Rasulullah saw tidak mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan keadaan.

Beliau mengutus sahabat untuk mengumpulkan keterangan mengenai kondisi lawan, mempelajari medan, dan menyusun strategi yang paling tepat. Sikap tersebut menunjukkan bahwa tawakal harus berjalan berdampingan dengan usaha terbaik.

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap pekerjaan memerlukan persiapan yang baik. Niat yang lurus perlu disertai kerja keras, ketelitian, serta kemampuan mengatur langkah agar tujuan yang diridhai Allah dapat dicapai dengan cara yang benar.

Pelajaran kedua ialah pentingnya musyawarah. Rasulullah saw tetap meminta pendapat para sahabat walaupun memperoleh wahyu.

Ketika Al-Hubab bin Al-Mundzir mengusulkan lokasi yang lebih strategis di dekat sumber air, Rasulullah saw menerima pendapat tersebut karena membawa kemaslahatan bagi seluruh pasukan.

Musyawarah melatih kerendahan hati sekaligus membangun kebersamaan. Pendapat yang baik layak diterima tanpa memandang kedudukan penyampainya. Sikap seperti ini memperkuat persatuan dan menghindarkan perpecahan yang muncul akibat rasa paling benar.

Pelajaran ketiga ialah kedisiplinan. Rasulullah saw menyusun barisan pasukan secara teratur sehingga setiap orang mengetahui tugas masing-masing.

Keteraturan tersebut menciptakan kekuatan yang saling melengkapi dan menjaga kekompakan selama menghadapi berbagai keadaan.

Kedisiplinan juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketepatan waktu, kesungguhan menunaikan amanah, serta komitmen menjalankan kewajiban merupakan bagian dari akhlak mulia yang perlu dipelihara sepanjang waktu.

Pelajaran berikutnya ialah hubungan yang baik antara pemimpin dan umat. Para sahabat berusaha menjaga keselamatan Rasulullah saw dengan membangun pos komando yang aman.

Rasulullah saw tetap rendah hati, terus memimpin, memanjatkan doa, serta membersamai perjuangan para sahabat tanpa mengutamakan kemuliaan pribadi.

Sikap saling menghormati antara pemimpin dan masyarakat melahirkan suasana yang penuh tanggung jawab.

Amanah kepemimpinan dijalankan dengan kejujuran, sedangkan masyarakat memberikan dukungan melalui ketaatan terhadap kebaikan dan semangat menjaga persatuan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Badar memberikan pelajaran bahwa setiap ujian dapat dihadapi melalui keteguhan iman, kesabaran, ikhtiar yang terarah, musyawarah yang tulus, serta kedisiplinan dalam menjalankan amanah.

Semoga Allah saw menguatkan hati setiap hamba agar tetap istiqamah dalam jalan kebaikan dan memperoleh pertolongan-Nya di dunia maupun akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللهَ عِبَادَ اللهِ، وَاعْمَلُوا الصَّالِحَاتِ، وَاجْتَنِبُوا الْمُنْكَرَاتِ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى:

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Itulah contoh eks khutbah Jumat 24 Juli 2026 yang dapat digunakan sebagai bahan khutbah dengan susunan yang runtut serta pesan yang menguatkan ketakwaan, kedisiplinan, musyawarah, dan tanggung jawab dalam kehidupan.

Setiap nasihat yang diamalkan secara konsisten akan memperkuat akhlak, menjaga persatuan, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt. (Khoirul)

Baca Juga: Teks Khutbah Jumat 17 Juli 2026 yang Menyentuh dan Penuh Hikmah