Teori Bukti Segitiga Merupakan Teori Apa? Simak Penjelasannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teori bukti segitiga merupakan teori menarik dalam dunia hukum dan kriminalistik karena berkaitan erat dengan proses pengungkapan suatu tindak pidana.
Istilah ini muncul ketika penyidik berusaha menemukan keterkaitan antara berbagai unsur yang ada di tempat kejadian perkara.
Teori Bukti Segitiga Merupakan Teori
Dikutip dari Jurnal Scientific Investigation dalam Penyidikan Tindak Pidana Pembunuhan oleh Riza (2021) teori bukti segitiga merupakan teori ini tentang ilmu forensik dan kriminalistik yang dikenal dengan istilah Triangle Crime Scene.
Teori ini menjelaskan hubungan antara pelaku, korban, dan barang bukti dalam suatu tindak pidana. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan membentuk pola segitiga yang membantu penyidik menemukan fakta dalam proses penyelidikan maupun penyidikan.
Dalam dunia hukum dan kepolisian, teori bukti segitiga sering digunakan dalam metode Scientific Investigation atau penyidikan ilmiah.
Melalui teori ini, penyidik tidak hanya bergantung pada pengakuan pelaku, tetapi juga memanfaatkan bukti ilmiah yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP). Teori ini menjadi salah satu dasar penting dalam pengungkapan kasus pidana, terutama kasus pembunuhan.
Teori bukti segitiga berkaitan erat dengan Prinsip Locard yang terkenal dengan kalimat “Every contact leaves a trace” atau setiap kontak akan meninggalkan jejak.
Prinsip tersebut menjelaskan bahwa ketika pelaku melakukan tindakan kejahatan, pasti ada jejak yang tertinggal, baik berupa darah, sidik jari, rambut, serat pakaian, maupun DNA.
Jejak inilah yang kemudian dianalisis untuk menghubungkan pelaku dengan korban dan lokasi kejadian.
Dalam konsep segitiga bukti, korban menjadi salah satu titik utama karena tubuh korban sering menyimpan berbagai jejak dari pelaku.Barang bukti dapat berupa benda yang digunakan dalam tindak kejahatan atau benda lain yang ditemukan di TKP.
Pelaku sebagai titik lainnya biasanya dapat diidentifikasi melalui hasil pemeriksaan forensik terhadap bukti-bukti tersebut.
Penerapan teori bukti segitiga sangat membantu proses penyidikan modern. Dengan bantuan ilmu forensik, penyidik dapat mengungkap kasus secara lebih objektif dan akurat.
Pemeriksaan DNA, sidik jari, hingga analisis laboratorium kriminalistik menjadi bagian penting dalam membuktikan hubungan antara pelaku, korban, dan barang bukti.
Itulah penjelasan teori bukti segitiga merupakan teori apa? yang dapat dipahami sebagai salah satu konsep penting yang membantu proses pembuktian dalam penyidikan tindak pidana. (shr)
Baca juga: Bagaimana Cara Mendapatkan Status Kewarganegaraan dengan Alasan Hukumnya
