Makan dalam Nampan, Rasa dalam Kebersamaan: Ngidang & Ngobeng dari Palembang

Mahasiswa Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia dan Culinary Educator
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Kaiman tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia dikenal sebagai negeri dengan keragaman budaya yang luar biasa. Di antara ribuan pulau dan ratusan suku bangsa, tiap daerah memiliki tradisi kuliner yang khas, lengkap dengan tata cara penyajian dan makna filosofis di baliknya. Dalam konteks Sumatera Selatan, khususnya Palembang dan sekitarnya, dua tradisi makan yang masih hidup dan sarat nilai adalah ngidang dan ngobeng. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, tradisi ini bukan hanya perlu dilestarikan, tetapi juga sangat potensial untuk diangkat sebagai bagian dari strategi gastronomy tourism.
Gastronomy tourism atau wisata gastronomi, tak sekadar menawarkan makanan enak. Ia adalah pengalaman budaya yang utuh—mulai dari bahan baku lokal, cara memasak tradisional, hingga tata cara penyajian dan makan bersama. Di sinilah makan ngidang dan ngobeng memiliki keunikan yang layak dikenalkan kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Ngidang: Menyantap dalam Kesetaraan
Ngidang adalah cara penyajian makanan secara bersamaan di atas satu wadah besar (biasanya nampan atau dulang), di mana 4–8 orang duduk melingkar dan makan bersama. Tradisi ini umumnya hadir dalam acara hajatan adat seperti pernikahan, khitanan, atau syukuran. Semua tamu dihidangkan makanan yang sama dalam jumlah cukup, dengan prinsip kesetaraan yang tinggi. Tidak ada layanan meja ala restoran, tak ada pembedaan menu berdasarkan status sosial—semuanya duduk sejajar dan makan serempak.
Nilai-nilai yang terkandung dalam ngidang sangat relevan dengan filosofi hidup masyarakat Palembang yang menjunjung kebersamaan (serasan sekate), kerukunan, dan hormat terhadap sesama. Dalam praktik ngidang, terlihat jelas bahwa makan bukan hanya soal mengisi perut, melainkan juga mempererat hubungan sosial.
Ngobeng: Gotong Royong dalam Sajian
Berbeda dari ngidang yang lebih pada cara makan, ngobeng mencerminkan semangat gotong royong dalam penyajian makanan untuk tamu hajatan. Dalam sistem ini, masyarakat sekitar bersama-sama memasak, menyajikan, dan bahkan mencuci peralatan secara sukarela. Para ibu-ibu di dapur menanak nasi dalam jumlah besar, mengolah lauk pauk khas seperti pindang tulang, malbi, dan sambal tempoyak, sementara para pria menyiapkan tenda dan logistik lainnya.
Ngobeng bukan hanya soal membantu tuan rumah, tapi juga bentuk nyata dari solidaritas sosial yang masih kuat di desa-desa. Bahkan, kegiatan ngobeng sering kali menjadi ajang silaturahmi dan memperkuat hubungan antarwarga.
Mengapa Ini Relevan dalam Gastronomi Tourism?
Dalam beberapa tahun terakhir, tren pariwisata mengalami pergeseran besar. Wisatawan kini tidak lagi sekadar ingin melihat pemandangan atau menginap di hotel mewah. Mereka ingin merasakan pengalaman otentik, berinteraksi dengan budaya lokal, dan memahami cara hidup masyarakat setempat. Di sinilah kekuatan tradisi ngidang dan ngobeng.
Bayangkan jika wisatawan asing diundang untuk menghadiri acara adat di desa wisata, ikut serta dalam ngobeng, melihat langsung proses memasak, kemudian duduk makan ngidang bersama warga setempat. Itu adalah pengalaman yang tak bisa mereka dapatkan di restoran mana pun. Tradisi ini memiliki value proposition yang kuat: keaslian, keterlibatan, dan makna budaya.
Selain itu, pengembangan wisata kuliner berbasis tradisi seperti ini juga berdampak positif pada ekonomi lokal. UMKM kuliner bisa dilibatkan, petani dan nelayan lokal menjadi pemasok bahan baku, dan warga mendapatkan tambahan penghasilan dari kegiatan wisata ini.
Tantangan dan Langkah Strategis
Namun, mengangkat ngidang dan ngobeng ke dalam skema pariwisata bukan tanpa tantangan. Modernisasi telah membuat sebagian masyarakat, terutama di perkotaan, meninggalkan tradisi ini. Katering dengan sistem prasmanan dianggap lebih praktis dan prestisius. Sementara itu, generasi muda banyak yang tidak lagi memahami nilai-nilai di balik tradisi ini.
Untuk itu, dibutuhkan pendekatan strategis dan kolaboratif antara pemerintah daerah, pelaku pariwisata, akademisi, dan komunitas lokal. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
1. Mendokumentasikan dan mempromosikan tradisi ngidang dan ngobeng dalam berbagai media, termasuk video, artikel, dan platform digital lainnya.
2. Mengintegrasikan tradisi ini dalam program desa wisata, termasuk paket pengalaman wisata kuliner otentik.
3. Melibatkan generasi muda dalam pelestarian budaya, melalui pendidikan, lomba, dan kegiatan kreatif berbasis tradisi.
4. Membuat standar pelayanan agar pengalaman makan ngidang atau ngobeng dapat diadaptasi untuk wisatawan dengan tetap menjaga keasliannya.
Menutup dengan Optimisme
Tradisi ngidang dan ngobeng bukan hanya cara makan, melainkan cermin dari identitas dan nilai luhur masyarakat Palembang. Jika dikemas dengan baik, tradisi ini dapat menjadi daya tarik wisata yang unik dan berkelanjutan. Di tengah dunia yang semakin homogen, justru keberagaman budaya lokal seperti inilah yang menjadi kekuatan.
Sudah saatnya Sumatera Selatan tidak hanya dikenal lewat pempek atau Jembatan Ampera, tetapi juga lewat kekayaan tradisi makan yang sarat makna. Makan bukan sekadar soal rasa, tapi juga soal rasa hormat, rasa syukur, dan rasa memiliki. Mari kita jadikan ngidang dan ngobeng sebagai menu utama dalam sajian wisata gastronomi Indonesia.
