Konten Media Partner

Kakak Artis Luna Maya Gelar Pameran Lukisan Bertema Surfing di Kuta

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sinaga Goatama bersama salah-satu lukisan yang dipamerkan - LSU
zoom-in-whitePerbesar
Sinaga Goatama bersama salah-satu lukisan yang dipamerkan - LSU

DENPASAR, Kanalbali.id - Sinaga Goatama, kakak sulung artis Luna Maya ini selain gemar berselancar juga memiliki bakat seniman yang diwarisi dari kedua orang tuanya. Karya-karyanya kini ditampilkan dalam pameran bertajuk Dully a Surfer`s Mind hingga 28 Agustus 2022 di Park 23 Creative Hub, Kuta.

"Saya mulai suka menggambar sejak sering mengikuti lomba berselancar di luar negeri, kalau lagi tidak ada ombak, saya menggambar di pinggir pantai," kata laki-laki yang akrab disapa Dully ini.

Dully yang lahir di Bali pada 46 tahun silam sudah diperkenalkan dengan alam oleh orang tuanya, dimana sejak umur 5 tahun ia telah terbiasa mengarungi ombak di Pantai Legian. Hal ini juga mempengaruhi hasil karya Dully sebagai representasi dari makhluk hidup.

Lukisan abstrak figuratif menjadi gaya Sinaga Goatama - LSU

Sebelum menekuni seni lukis, Dully pernah dinobatkan sebagai peselancar pro yang bersaing di tingkat Internasional tertinggi, bahkan menduduki peringkat ke-239 di seluruh dunia pada tahun 1995, serta memenangkan Quicksilver Airshow di Canggu tahun 2004.

embed from external kumparan

Setelah pensiun dari selancar profesional, Dully memilih untuk mengembangkan bakat seni musik. Bersama saudaranya, ia membentuk sebuah band dan tampil sebagai penyanyi utama.

Pameran lukisan surfer di Bali - LSU

Baru-baru ini, ia menekuni seni lukis eksperimental dan lukisan digital dari studio Cemagi miliknya di Bali barat. Bergeser dari pemandangan laut konvensional dan getaran alam yang disampaikan sebagian besar Surf Artist, ia mengajak audiens untuk memasuki dunia ekspresionis seni jalanan, seniman grafiti, dan pencinta seni post punk.

Dalam pameran kali ini, ada sekitar 35 karya Dully yang dibuat secara digital, kemudian dicetak dalam media kanvas lukis. Diakui laki-laki berdarah Jawa dan Austria ini, kolektor lukisannya banyak berasal dari Australia, Perancis, dan Jepang.

"Untuk satu lukisan saya hanya menghabiskan waktu sekitar 30 menit, melukis memberikan saya kesenangan dan ketenangan," sebutnya (Kanalbali/LSU)