Pemukulan Pelajar Diduga oleh Polisi di Bali Usai Korban Nonton Balap Liar
ยทwaktu baca 4 menit

DENPASAR- Kasus penganiayaan diduga dilakukan seorang oknum anggota Polda Bali dilaporkan pelajar SMP di Denpasar berinisial MRSAW (14). Ia mengaku diinjak kakinya hingga patah dan sempat kena setrum.
Kronologi peristiwa itu diungkapkan kuasa hukum korban sekaligus advokat dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Anargya, AKBP Purnawirawan, Joni Lay, Sabtu (2/10/2021).
"Peristiwa itu berawal, pada Jumat (25/9) lalu, saat korban izin kepada orangtuanya untuk keluar ke rumah temannya di wilayah Suwung, Denpasar Selatan. Korban keluar bersama pacarnya berinisial EAE (17) dan sepupu korban berinisial GM (17) dan seorang temannya," jelasnya.
Singkat cerita, saat mereka di perjalanan tepatnya didekat POM Bensin Suwung, Sanur, mereka melihat keramaian dan ternyata ada balap liar dan spontan mereka ikut menonton.
"Mereka tidak mungkin ikut (balap liar). Karena, motor yang dibawa adalah matic biasa. Apalagi, badan korban besar, jadinya tidak bisa ngebut. Mereka hanya menonton kurang lebih setengah jam lalu bergeser karena kegiatannya sudah selesai," imbuhya.
Selanjutnya, mereka pulang dan melintas di Jalan By Pass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar Selatan. Waktu itu, mereka diduga berbarengan dengan penonton lain sekitar 15 sepeda motor. Tetapi, posisi mereka paling belakang hingga melewati restoran The Hub Sanur, tepatnya pukul 02.00 pada Sabtu (25/9).
Rombongan itu tiba-tiba berhenti karena ada sesuatu di depan mereka. "Kira-kira 100 meter ke depan rombongan ini terhenti dan anak ini (korban) ada dibelakang dan mendengar teriakan begal-begal dan teriakan berikutnya polisi-polisi. Dan akhirnya (rombongan) balik kanan, lawan arus. Namun, korban tidak balik kanan," ungkapnya.
Mendengar teriakkan itu, rombongan tersebut pun langsung kalang kabut dan kabur termasuk sepupu korban yang membonceng temannya. Namun, korban yang membonceng pacarnya malah berdiam diri.
Lalu, datang dua orang berboncengan mengendarai motor Honda Scoopy berpakaian preman. Salah satunya turun untuk menghadang dengan menendang-nendang rombongan itu.
Kemudian, orang yang berpakaian preman itu datang ke arah korban yang saat itu korban menggunakan sepeda motor vario. Lalu menendang dan mengenai kaki pacar korban sehingga korban melepas sepeda motornya.
"Ketika ditendang itu, kena kaki pacarnya dan sepeda motornya dilepas. Dia lari, pacarnya juga lari," ujarnya.
Pacar korban lari di dekat Pos Satpam The Hub Sanur, untuk menyelamatkan diri. Korban lari sekitar 15 meter dan dikejar oleh seorang berpakaian preman lalu didorong dan jatuh hingga lututnya luka lecet.
Setelah itu, orang berpakaian preman itu mengeluarkan alat setrum dan korban disetrum di bagian paha kanan dan di rusuk kirinya. Karena sakit disetrum, oleh korban ditepis dan saat ditepis oleh pria berpakaian preman itu langsung menginjak betis kanan korban hingga patah.
Saat diinjak korban tak merasakan apa-apa tetapi saat disuruh bangun untuk mengambil sepeda motor yang ditinggalnya, korban baru sadar bahwa kakinya patah. Tapi saat dia mengatakan kepada orang berpakaian preman itu, korban malah dipukul dibagian bibirnya.
"Dia (korban) merasa kram, dan tidak bisa bangun karena kakinya patah. Setelah bilang begitu, dia pukul lagi di bibirnya. Setelah itu, dia disuruh jalan dan tidak bisa jalan, terus dibawa ke sebuah jalan keluar restoran The Hub," ujarnya.
Tetapi, saat korban kembali dipukul oleh orang berpakaian preman itu, seorang Satpam melihat kejadian termasuk sang pacar yang sembunyi di Pos Satpam. Lalu si satpam itu berteriak 'Woy' karena khawatir ada pembunuhan di lokasi.
"Ketika dipukul itu kan ada satpam. Karena (Satpam) lihat (korban) dipukul dia teriak. Akhirnya dia (orang berpakaian preman) bilang, "Saya polisi dari Polda. Karena dia bilang Polisi Polda, satpam-nya tidak bicara apa-apa lagi," ujarnya.
Kemudian, orang berpakaian preman itu menelpon rekannya dan berkata,"Dapat satu, bawakan mobil'. Lalu, tak berselang lama datanglah rombongan polisi sekitar 6 atau 8 orang berseragam dinas lengkap bersenjata menaiki motor trail dan membawa mobil.
"Kira-kira tidak selang lama dapat motor trail dengan berpakaian dinas kurang lebih 6 sampai 8 orang. Setelah dia telpon," ujarnya.
Ketika akan dibawa, korban mengatakan kakinya patah dan meminta tolong menghubungi orang tuanya untuk dibawa ke rumah sakit. Ia kemudian mendapat pertolongan dari sepupu korban yang sempat lari balik lagi dan melihat korban.
Mereka lalu menelepon orangtua korban untuk datang. Setibanya ayah korban berinisial MTJS di lokasi, dia melihat sang anak dalam kondisi tersebut. Lalu dibantu oleh orang berpakaian preman itu ke mobil orang tua korban untuk dibawa ke rumah sakit.
Sayangnya, karena ayah korban konsentrasi menolong anaknya sehingga tidak memperhatikan ciri-ciri orang yang berpakaian preman itu. Namun, ayah korban sempat menanyakan kepada oknum tersebut dan juga kepada anggota kepolisian yang berseragam lengkap itu.
Seperti yang diberitakan, pihak kepolisian Polda Bali, sedang melakukan penyelidikan soal kasus pelajar SMP berinisial MR (14) di Denpasar, Bali, yang diduga menjadi korban penganiayaan oleh seorang oknum anggota kepolisian Polda Bali. Pelajar itu, diduga diinjak kakinya hingga patah dan juga disetrum tubuhnya.
Dari data yang dihimpun, peristiwa itu diduga terjadi di kawasan By Pass Sanur, Denpasar Selatan, Bali, pada Sabtu (25/9) lalu, sekitar pukul 02.00 lalu. (kanalbali/KAD)
