Konten Media Partner

Tradisi Perang Air Awali Tahun Baru di Desa Suwat Gianyar

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Festival air di desa Suwat, Gianyar, Bali - IST
zoom-in-whitePerbesar
Festival air di desa Suwat, Gianyar, Bali - IST

GIANYAR, kanalbali.id - Festival Air Suwat kembali digelar untuk ke-10 kalinya pada  Rabu (1/1). Kemeriahannya mengukuhkan keberadaan Desa Wisata Suwat sebagai destinasi unggulan di Gianyar.

Acara yang dikembangkan dari tradisi siat yeh atau perang air itu diawali dengan ritual di  perempatan desa atau catus pata.

Warga yang terdiri dari orang dewasa laki perempuan hingga anak-anak berjalan bertelanjang dada hanya mengenakan udeng, sarung dan selendang di pinggang.

Usai ritual, air dalam gentong tesebut dicampur dengan air yang berada di empat mobil damkar dan gentong-gentong yang ukurannya lebih besar. Dipimpin Bendesa Adat, siat yeh atau perang air pun dilakukan.

kumparan post embed

Laki-laki dan perempuan hingga anak anak saling melempar air dengan gayung yang telah dibagikan panitia.

Hentakan gambelan baleganjur yang memacu semangat membuat suana menjadi semarak dan meriah. Semua warga basah, bersuka cita mensyukuri berkah yang dilimpahkan di desa tersebut.

Ditengah-tengah ratusan warga itu, sejumlah wisatawan mancanegara pun ikut meramaikan festival di Bali yang telah berlangsung 10 kali tersebut.

BACA JUGA: Hilang di Gunung Agung, Pendaki asal Korsel Ditemukan Tewas

Setiap awal tahun warga selalu mengadakan siat yeh atau perang air. Perang air tersebut sebagai wujud syukur warga atas limpahan air yang memberikan kesejahteraan untuk warga. Dimana air di Suwat elain untuk keberlangsungan hidup, juga untuk objek wisata yang memberikan pendapatan untuk desa adat.

Festival air di desa Suwat, Gianyar, Bali - IST

"Kami terus berdoa agar hasil usaha desa semakin besar sehingga manfaat yang diterima masyarakat pun bertambah. Festival ini adalah bagian dari proses menuju kesejahteraan bersama," ujar Jro Bendesa Adat Suwat, Ngakan Putu Sudibya, Rabu (1/1).

Sebelum perang air di mulai, setiap tahun diberikan ruang berkreasi kepada pelaku seni, untuk tahun ini diawali dengan pementasan Tari Amerta Jiwa.

"Air sebagai sumber kehidupan" . "Karya ini merupakan representasi dalam memuliakan alam," kata koreografer I Gede Gusman Adhi Gunawan dari Sanggar Seni Gumiart. (kanalbali/IST)