Kumparan Logo
Konten Media Partner

Dionicol: Manfaat, Dosis, Aturan Pakai, dan Efek Samping

Kata Dokter

·waktu baca 8 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi obat Dionicol. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi obat Dionicol. Foto: Unsplash

Dionicol obat apa? Dionicol adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi saluran pernapasan. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dinding sel bakteri dalam tubuh.

Dionicol termasuk golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai resep dokter. Obat ini dapat dikonsumsi oleh orang dewasa dengan dosis sesuai.

Table Embed

Menampilkan 10 data dari 8 data

Dionicol 500 mg
Harga
Rp12.000 - Rp28.000 per strip (10 tablet)
Indikasi dan Manfaat
Mengobati infeksi bakteri, seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi saluran pernapasan.
Komposisi
Thiamphenicol 500 mg
Dosis dan Aturan Pakai
Dewasa: dosis 500 mg per hari dalam 2-3 dosis terbagi. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 3.000 mg per hari untuk infeksi yang parah.
Efek Samping
Sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, diare, dan nyeri otot.
Cara Penyimpanan
Simpan pada tempat sejuk dan kering, serta terlindung dari cahaya matahari langsung.
Peringatan
Tidak boleh digunakan untuk pasien yang alergi terhadap kandungan obat, menderita depresi sumsum tulang belakang, serta ibu hamil dan menyusui.
Golongan Obat
Obat Keras

Pengertian Dionicol

Ilustrasi konsumsi Dionicol. Foto: Pexels

Dionicol adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri tertentu. Obat ini hanya dapat mengobati infeksi bakteri dan tidak akan bekerja untuk mengatasi infeksi virus, jamur, ataupun cacing.

Dionicol bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri, dengan menghambat langkah terakhir dalam sintesis peptidoglikan, yaitu senyawa heteropolimer yang memberikan stabilitas mekanik pada dinding sel bakteri.

Beberapa kondisi infeksi bakteri yang dapat diobati dengan Dionicol meliputi infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran kemih, serta infeksi saluran pencernaan, kulit, dan jaringan lunak. Obat ini juga biasa digunakan untuk mengatasi infeksi menular seksual seperti gonore.

Kandungan dan Kegunaan Dionicol

Ilutrasi obat Dionicol. Foto: Unsplash

Dionicol mengandung zat aktif thiamphenicol dengan komposisi 500 mg yang dapat digunakan untuk mengobati banyak jenis infeksi bakteri, kecuali jika infeksi resisten terhadap obat ini.

Mengutip jurnal Thiamphenicol: An Overview oleh J. K. Aronson, dkk., Dionicol bekerja dengan cara mengikat tempat aktif enzim transpeptidase, sehingga menghambat reaksi transpeptidasi dan menghentikan sintesis peptidoglikan. Cara kerjanya ini dapat menyebabkan sel bakteri cepat mati.

Kandungan thiamphenicol yang terdapat dalam Dionicol telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk mengobati berbagai penyakit infeksi bakteri, seperti:

  • Infeksi saluran pernapasan, seperti pneumonia dan bronkitis

  • Infeksi saluran kemih, seperti uretritis

  • Infeksi menular seksual, seperti gonore

  • Infeksi pada kulit, tulang, sendi, dan jaringan lunak

  • Infeksi gigi

  • Infeksi saluran pencernaan

  • Tonsilitis atau radang amandel

  • Meningitis atau infeksi pada selaput pelindung yang menyelimuti otak dan saraf tulang belakang

Baca Juga: 6 Ciri-Ciri Paru-Paru Bermasalah yang Perlu Diwaspadai

Anjuran Dosis Dionicol

Ilustrasi konsumsi Dionicol harus sesuai anjuran dosis. Foto: Unsplash

Sebagai golongan obat keras, penggunaan Dionicol tidak boleh sembarangan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi obat ini, yaitu:

  • Konsumsi Dionicol harus sesuai dengan anjuran dokter dan tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

  • Dionicol tidak boleh digunakan pada pasien yang alergi terhadap kandungan obat.

  • Dionicol tidak dapat digunakan dalam jangka waktu panjang karena dapat menyebabkan pendarahan, neuritis optik, dan perifer.

Dokter biasanya akan meresepkan obat sesuai kondisi pasien. Adapun anjuran dosis dan aturan pakai obat Dionicol secara umum adalah sebagai berikut.

  • Dewasa: dosis 500 mg per hari dalam 2-3 dosis terbagi atau sesuai anjuran dosis. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 3.000 mg per hari untuk infeksi yang parah. Obat ini dapat dikonsumsi paling tidak dua jam sebelum atau sesudah makan.

Jika ingin menggunakan Dionicol, pastikan sudah mengikuti anjuran dosis tersebut dengan benar. Sebab, penyalahgunaan obat ini dapat mengakibatkan beberapa kondisi kulit, seperti:

  • Angioedema, yaitu gangguan pada area bawah kulit yang ditandai dengan adanya pembengkakan pada bagian tubuh yang biasanya berada di sekitar mata, pipi, atau bibir.

  • Urtikaria atau biduran, yaitu kondisi kulit memiliki ruam merah dan terasa gatal-gatal sebagai akibat dari reaksi kulit.

  • Neuritis optik, yaitu gangguan penglihatan akibat peradangan pada saraf mata atau saraf optik. Kondisi ini ditandai dengan kehilangan penglihatan dan rasa nyeri pada mata.

Cara Mengonsumsi Dionicol dengan Benar

Ilustrasi Dionicol harus dikonsumsi dengan segelas air putih. Foto: Pexels

Dionicol termasuk golongan obat keras, sehingga tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Adapun cara mengonsumsi Dionicol dengan benar, yaitu:

  • Sebelum mengonsumsi Dionicol, konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki riwayat penyakit tertentu, obat-obatan atau suplemen yang sedang dikonsumsi, dan hal-hal lain yang perlu diperhatikan terkait penggunaan obat.

  • Konsumsi Dionicol harus sesuai dengan anjuran dokter dan informasi yang tertera pada kemasan obat. Jangan mengurangi atau melebihkan dosis obat tanpa sepengetahuan dokter.

  • Dionicol sebaiknya dikonsumsi saat perut kosong. Obat ini dapat dikonsumsi dua jam sebelum atau sesudah makan untuk membantu penyerapan obat secara maksimal.

  • Konsumsi Dionicol secara utuh dengan segelas air putih. Jangan mengunyah, menghancurkan, dan mencampurkan obat dengan makanan atau minuman.

  • Konsumsi Dionicol secara teratur pada waktu yang sama. Jangan menghentikan penggunaan obat secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

  • Jika Anda lupa mengonsumsi Dionicol pada waktu yang ditentukan, segera konsumsi obat begitu ingat selama jeda dengan waktu konsumsi berikutnya belum terlalu dekat.

  • Simpan Dionicol di tempat yang sejuk dan kering, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan penyimpanan obat berada di luar jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Interaksi Dionicol dengan Obat Lain

Ilustrasi obat-obatan yang dapat berinteraksi dengan Dionicol. Foto: Pexels

Kandungan thiamphenicol dalam Dionicol dapat berinteraksi dengan beberapa jenis obat lain. Dikutip dari laman Drug Bank, adapun interaksi Dionicol dengan obat lain yang perlu diwaspadai, yaitu:

  • Penggunaan Dionicol bersamaan dengan obat antikoagulan (obat pengencer darah), seperti warfarin atau acenocoumarol, dapat meningkatkan risiko pendarahan.

  • Penggunaan Dionicol bersamaan dengan obat diabetes, seperti tolbutamide, dapat meningkatkan toksisitas obat.

  • Penggunaan Dionicol bersamaan dengan vaksin BCG dan vaksin tifoid dapat menurunkan efektivitas vaksin.

  • Penggunaan Dionicol bersamaan dengan obat laktulosa dapat mengurangi efek terapi laktulosa.

  • Penggunaan Dionicol bersamaan dengan obat-obatan antiepilepsi, seperti phenobarbital atau phenytoin, dapat memengaruhi efektivitas thiamphenicol.

  • Penggunaan Dionicol bersamaan dengan antibiotik lain yang mengandung chloramphenicol dapat menyebabkan resistensi silang, di mana kedua obat menjadi kurang efektif dalam mengatasi infeksi.

  • Penggunaan Dionicol dengan beberapa jenis obat anestesi lokal, seperti articaine atau bupivacaine, dapat meningkatkan risiko methemoglobinemia (kelainan darah di mana hemoglobin tidak mampu mengangkut oksigen ke seluruh tubuh).

Perlu dicatat, daftar di atas belum mencakup semua interaksi obat dari Dionicol. Zat aktif thiamphenicol dapat berinteraksi dengan obat-obatan lain tergantung dari kondisi pasien.

Oleh sebab itu, pastikan Anda selalu berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum mengombinasikan Dionicol dengan obat-obatan lain.

Cara Penyimpanan Dionicol

Ilustrasi obat Dionicol harus disimpan di tempat yang sejuk dan kering. Foto: Pexels

Simpan Dionicol pada suhu ruangan yang sejuk dan kering (di bawah 30 derajat Celsius), serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung dan kelembapan.

Selain itu, jangan menaruh tempat penyimpanan obat Dionicol sembarangan. Simpan obat ini di tempat yang jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan.

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Dionicol

Ilustrasi penggunaan obat Dionicol harus sesuai anjuran dokter. Foto: Pexels

Penggunaan Dionicol harus sesuai dengan anjuran dokter. Jangan mengonsumsi obat ini apabila memiliki kondisi berikut:

  • Pasien yang alergi terhadap kandungan obat dan antibiotik yang lain.

  • Pasien yang memiliki riwayat atau sedang menderita gangguan fungsi hati dan ginjal.

  • Ibu hamil dan menyusui.

Selain itu, konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu apabila Anda memiliki riwayat penyakit berikut:

  • Gangguan saraf pusat

  • Penyakit diabetes

  • Penyakit jantung

  • Gangguan sendi dan tulang

  • Gangguan pendarahan atau pembekuan darah

Perlu diperhatikan, penggunaan jangka panjang obat ini dapat mengakibatkan perdarahan dan menurunkan daya tahan tubuh, sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi secara terus-menerus.

Peringatan Kehamilan

Dionicol mengandung zat aktif thiamphenicol yang termasuk dalam kategori C. Studi pada binatang menunjukkan efek berbahaya, tetapi belum ada uji klinis yang dilakukan pada wanita hamil.

Konsultasikan kepada dokter jika Anda akan menggunakan Dionicol saat hamil atau sedang merencanakan program kehamilan. Obat hanya boleh digunakan jika besarnya manfaat yang diharapkan melebihi besarnya risiko terhadap janin.

Peringatan Menyusui

Kandungan thiamphenicol dalam Dionicol dapat terserap ke dalam ASI. Jangan gunakan obat ini jika sedang menyusui tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

Efek Samping Dionicol

Ilustrasi salah satu efek samping Dionicol adalah sakit kepala. Foto: Unsplash

Sama seperti obat-obatan lain, Dionicol memiliki efek samping yang bisa terjadi. Dikutip dari Drug Central, beberapa efek samping yang dapat muncul setelah mengonsumsi obat ini, di antaranya:

  • Sakit kepala

  • Mual dan muntah

  • Diare

  • Sakit perut

  • Sariawan

Selain efek samping di atas, segera periksakan diri ke dokter apabila mengalami sejumlah efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Reaksi alergi, meliputi ruam merah pada kulit, pembengkakan pada bibir atau kelopak mata, sesak napas, dan gatal-gatal.

  • Hematuria atau kondisi ketika adanya darah di dalam urine.

  • Diare parah lebih dari 3 hari yang disertai darah atau lendir.

  • Bagian putih mata atau kulit menguning.

  • Memar atau perubahan warna pada kulit.

  • Perdarahan yang tidak biasa pada hidung, mulut, atau alat kelamin.

  • Demam, pembengkakan pada gusi, dan nyeri saat menelan.

  • Depresi sumsum tulang.

Jika merasakan efek samping yang tidak kunjung membaik, segera hentikan pemakaian obat. Konsultasikan kondisi yang dialami kepada dokter agar bisa mendapatkan penanganan medis segera.

Baca Juga: Kenapa Antibiotik Harus Dihabiskan? Ini Penjelasannya

Penyakit Terkait dengan Obat Dionicol

Ilustrasi seseorang dengan penyakit gonore bisa diobati dengan Dionicol. Foto: Unsplash

Dionicol bekerja dengan menghambat pertumbuhan dan replikasi bakteri, sehingga efektif dalam mengatasi berbagai penyakit yang disebabkan oleh infeksi patogen tersebut. Berikut adalah beberapa penyakit terkait yang bisa diobati dengan obat Dionicol.

1. Gonore

Gonore adalah penyakit menular seksual pada organ reproduksi yang disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Kondisi ini ditandai dengan nyeri saat buang air kecil dan keluarnya cairan dari alat kelamin. Dionicol dapat digunakan untuk mengatasi infeksi dan meredakan gejalanya.

2. Meningitis

Meningitis adalah peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang yang bisa disebabkan oleh infeksi bakteri. Dionicol dapat membantu mengatasi infeksi bakteri dan meredakan peradangan.

3. Uretritis

Uretritis adalah peradangan pada saluran uretra yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Kondisi ini dapat menyebabkan gejala seperti nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil. Dionicol dapat digunakan untuk mengatasi penyebabnya.

4. Tonsilitis (Radang Amandel)

Tonsilitis adalah peradangan pada amandel yang umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Streptokokus. Gejala tonsilitis meliputi sakit tenggorokan, demam, pembengkakan amandel, dan kesulitan menelan. Dionicol dapat membantu mengatasi infeksi bakteri dan meredakan gejalanya.

5. Infeksi Saluran Pencernaan

Infeksi saluran pencernaan dapat meliputi berbagai kondisi, seperti gastroenteritis bakteri atau infeksi usus. Gejala umum meliputi diare, mual, muntah, dan sakit perut. Dionicol dapat digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri yang terkait dengan kondisi ini.

Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.

(SFR)

Frequently Asked Question Section

Apa kegunaan Dionicol?
chevron-down

Dionicol adalah obat antibiotik yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, seperti infeksi saluran kemih, infeksi saluran pencernaan, dan infeksi saluran pernapasan.

Dionicol golongan obat apa?
chevron-down

Dionicol termasuk ke dalam golongan obat keras, sehingga penggunaannya harus sesuai anjuran dokter.

Bagaimana cara kerja Dionicol?
chevron-down

Dionicol bekerja dengan cara mengganggu sintesis dinding sel bakteri, dengan menghambat langkah terakhir dalam sintesis peptidoglikan. Cara kerjanya ini dapat menyebabkan sel bakteri cepat mati.