Makanan Penyebab Keputihan yang Harus Dihindari, Apa Saja?
ยทwaktu baca 4 menit

Sejak dulu, masalah keputihan selalu menjadi persoalan yang pelik bagi kaum wanita. Beberapa orang kerap menganggap remeh masalah kesehatan ini. Padahal, jika ditangani secara asal-asalan, keputihan bisa berakibat fatal.
Mengutip buku Penyuluhan Kesehatan dalam Siklus Hidup Perempuan karya Rosa Mutianingsih (2022), keputihan (Fluor Albus) merupakan kondisi ketika cairan vagina keluar secara berlebihan. Keputihan dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni keputihan normal (fisiologis) dan abnormal (patologis).
Biasanya, keputihan normal ditandai dengan warna cairan yang bening, tidak berbau, dan tidak gatal. Sementara keputihan abnormal umumnya berwarna putih kekuning-kuningan, berbau, dan menimbulkan gatal.
Keputihan bisa muncul karena beberapa sebab, salah satunya adalah faktor makanan. Apa saja makanan penyebab keputihan? Untuk mengetahuinya, simaklah penjelasan dalam artikel berikut ini.
Makanan Penyebab Keputihan
Pada dasarnya, penyebab keputihan itu sangat beragam tergantung pada jenisnya. Misalnya keputihan normal atau fisiologis yang biasa timbul akibat rangsangan secara seksual atau mengalami stres emosional.
Keputihan tersebut sangat wajar terjadi pada wanita. Biasanya, keputihan fisiologis terjadi pada masa ovulasi, yaitu kurang lebih 12-14 hari setelah menstruasi.
Sementara keputihan patologis biasanya disebabkan oleh faktor kebersihan (hygine). Dijelaskan dalam buku Edukasi Kesehatan Reproduksi dan Seksual pada Remaja Tunanetra susunan Kurniaty Ulfah, dkk., keputihan ini dapat dipengaruhi oleh pertumbuhan jamur Candidas, parasit Trichomonas vaginalis, dan bakteri Gardnella.
Di sisi lain, keputihan abnormal juga bisa disebabkan oleh pemakaian obat-obatan dalam waktu lama, stres, gaya hidup tidak sehat, alergi, penyakit organ kandungan, dan asupan makanan. Sejumlah peneliti menyebutkan bahwa makanan dengan kadar gula tinggi dapat memperparah keadaannya.
Hal ini karena makanan dengan kadar gula tinggi sangat rendah serat. Makanan ini dapat menciptakan lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan jamur dan bakteri jahat di dalam tubuh.
Adapun contoh makanan tinggi gula yang sebaiknya dihindari, yaitu minuman kemasan, yoghurt, selai, granola, kopi susu, aneka kue, susu cokelat, jus buah, permen, dan soft drink. Makanan tersebut dapat memperparah kondisi keputihan Anda.
Makan Apa agar Tidak Keputihan?
Agar tidak keputihan, Anda perlu menerapkan pola makan yang sehat. Perbanyak konsumsi sayuran dan buah-buahan yang kaya serat, vitamin, serta mineral.
Kemudian, hindari makanan yang tinggi kadar gulanya seperti kue, boba, kopi, jus buah, dan lain-lain. Lalu, jauhkan pula makanan yang bisa memicu tingkat stres Anda.
Masyarakat Indonesia kerap mempercayai mitos tertentu tentang makanan penyebab keputihan. Sebagian orang percaya bahwa nanas dan timun dapat menyebabkan keputihan, sehingga tidak boleh dikonsumsi selama masa haid atau setelahnya.
Faktanya, tidak ada penelitian yang menunjukkan adanya hubungan antara makan timun dengan penyebab keputihan pada perempuan. Sebaliknya, timun justru memiliki khasiat yang cukup banyak bagi tubuh seperti menjaga cairan tubuh, melancarkan pencernaan, dan menurunkan kolesterol.
Pada dasarnya, keputihan adalah respons alami yang normal terjadi pada vagina perempuan. Walaupun Anda jarang makan timun, keputihan tersebut tetap bisa muncul.
Justru lendir atau cairan yang keluar dari vagina dapat membantu membersihkan dan melindungi vagina dari iritasi atau infeksi. Umumnya, seorang perempuan akan mengalami keputihan yang banyak saat akan terjadi ovulasi atau saat hamil.
Hal terpenting yang harus diperhatikan yaitu memastikan apakah keputihan yang Anda alami normal atau tidak. Keputihan yang normal biasanya tidak berbau, warnanya bening dan agak keputihan, serta tidak menyebabkan gatal. Sementara keputihan yang tidak normal berwarna pekat, berbau, dapat disertai rasa gatal atau nyeri.
Baca Juga: 9 Penyebab Keputihan Berwarna Coklat yang Perlu Diketahui
Cara Mengatasi Keputihan
Untuk mengatasi keputihan, Anda perlu menjaga kebersihan organ kewanitaan. Ada beberapa tips yang bisa dicoba, yakni sebagai berikut:
Mencuci bagian vulva (luar vagina) setiap hari dan menjaganya agar tetap kering untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.
Saat menstruasi, biasakan mengganti pembalut apabila sudah terasa basah dan lembab.
Menggunakan sabun non-parfum saat mandi untuk mencegah timbulnya iritasi pada vagina.
Menghindari penggunaan cairan pembersih kewanitaan yang mengandung deodoran dan bahan kimia terlalu berlebihan. Hal ini dapat mengganggu pH cairan kewanitaan dan dapat merangsang munculnya jamur atau bakteri.
Setelah buang air besar, bersihkan dengan air dan keringkan dari arah depan ke belakang untuk mencegah penyebaran bakteri dari anus ke vagina.
Menjaga kuku tetap bersih dan pendek. Kuku dapat terinfeksi Candida akibat gesekan pada kulit yang terinfeksi. Candida yang tertimbun di bawah kuku dapat menular ke vagina saat mandi atau cebok.
Menghindari seks bebas atau berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan alat pelindung seperti kondom.
Mengendalikan stres.
Rajin berolahraga agar stamina tubuh meningkat untuk melawan infeksi.
Mengonsumsi diet yang tinggi protein. Mengurangi makanan tinggi gula dan karbohidrat karena dapat mengakibatkan pertumbuhan bakteri yang merugikan.
Menjaga berat badan tetap ideal dan seimbang. Kegemukan dapat membuat kedua paha tertutup rapat sehingga mengganggu sirkulasi udara dan meningkatkan kelembaban sekitar vagina.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(MSD)
Frequently Asked Question Section
Apa itu keputihan?

Apa itu keputihan?
Keputihan (Fluor Albus) merupakan kondisi ketika cairan vagina keluar secara berlebihan.
Apa penyebab keputihan?

Apa penyebab keputihan?
Keputihan normal atau fisiologis yang biasa timbul akibat terangsang secara seksual atau mengalami stres emosional. Sedangkan keputihan patologis disebabkan oleh faktor kebersihan (hygine).
Apa saja jenis keputihan?

Apa saja jenis keputihan?
Keputihan dapat dibagi menjadi dua jenis, yakni keputihan normal (fisiologis) dan abnormal (patologis).
