Penebalan Dinding Rahim: Gejala, Penyebab, hingga Cara Mengobatinya
ยทwaktu baca 4 menit

Penebalan dinding rahim adalah salah satu kelainan pada organ intim wanita. Gangguan ini bisa menyebabkan pendarahan hebat ataupun abnormal.
Dalam dunia medis, penebalan dinding rahim dikenal dengan istilah hiperplasia endometrium. Meskipun gangguan ini tidak bersifat kanker, hiperplasia endometrium dapat meningkatkan risiko kanker pada endometrium.
Artikel ini akan membahas lebih lanjut mengenai gangguan penebalan dinding rahim, mulai dari gejala, penyebab, hingga cara menanganinya.
Apa Itu Penebalan Dinding Rahim?
Dikutip dari jurnal Endometrial Hyperplasia oleh Gunjan Singh dan Yana Puckett, dkk, penebalan dinding rahim atau hiperplasia endometrium adalah gangguan pada organ reproduksi wanita yang ditandai dengan perubahan ukuran lapisan dinding rahim yang abnormal. Perubahan ini terjadi karena adanya peningkatan pertumbuhan sel (hiperplasia).
Endometrium sendiri merupakan jaringan yang melapisi bagian dalam rahim. Lapisan ini bisa tumbuh dan menebal setiap bulannya guna mempersiapkan diri untuk kehamilan. Jika tidak terjadi kehamilan, lapisan tersebut akan luruh (menstruasi).
Pada kasus yang tidak normal, endometrium dapat tumbuh dan menebal secara berlebihan. Meskipun tergolong jinak, gangguan penebalan dinding rahim ini bisa berkembang menjadi kanker. Hal tersebut tergantung pada jenis hiperplasia yang dialami.
Ada dua jenis hiperplasia endometrium, yakni:
Hiperplasia endometrium tanpa atipia, yakni pertumbuhan sel-sel yang tampak normal dan tidak berpotensi menjadi kanker pada endometrium. Kondisi ini dapat membaik tanpa pengobatan ataupun menggunakan terapi hormon.
Hiperplasia endometrium atipikal adalah pertumbuhan sel abnormal yang dapat meningkatkan risiko kanker endometrium ataupun kanker rahim.
Gejala Penebalan Dinding Rahim
Penebalan dinding rahim akan menimbulkan beberapa gejala yang tidak nyaman pada bagian intim wanita, seperti:
Periode menstruasi abnormal, seperti siklus menstruasi pendek atau periode menstruasi yang terlewat dalam jangka waktu yang panjang
Pendarahan menstruasi yang berat
Pendarahan setelah menopause
Anemia akibat pendarahan yang luar biasa
Penyebab Penebalan Dinding Rahim
Siklus menstruasi bergantung pada hormon estrogen dan progesteron. Hormon estrogen membantu menumbuhkan sel-sel pada lapisan rahim di masa subur untuk mempersiapkan kehamilan. Ketika tidak terjadi kehamilan, progesteron akan membantu rahim melepaskan lapisan sel-sel tersebut.
Ketika kedua hormon ini dalam keadaan seimbang, penebalan dinding rahim akan terjadi secara normal. Namun, jika kadar hormon terlalu banyak ataupun sedikit, hal ini bisa menyebabkan pertumbuhan sel abnormal di lapisan rahim.
Penyebab paling umum dari kelainan penebalan di rahim adalah ketidakseimbangan kadar hormon dalam tubuh, yakni terlalu banyak estrogen dan kadar progesteron yang rendah. Ada beberapa kondisi yang bisa menyebabkan seseorang mengalami gangguan keseimbangan hormon, yakni:
Telah mencapai menopause. Pada saat menopause, wanita tidak akan mengalami ovulasi, sehingga tubuh tidak memproduksi progesteron lagi
Berada di fase sebelum menopause. Pada fase ini, seseorang akan mengalami ovulasi yang tidak teratur.
Menjalani terapi penggantian hormon estrogen atau konsumsi pil hormon tersebut
Memiliki siklus menstruasi atau infertilitas yang tidak teratur
Menderita sindrom ovarium polikistik
Mempunyai berat badan yang berlebih
Diagnosis Penebalan Dinding Rahim
Tidak hanya hiperplasia endometrium, banyak kondisi yang dapat menyebabkan pendarahan abnormal. Untuk mengetahui apa yang menyebabkan pendarahan abnormal, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan, seperti:
USG transvaginal yang memanfaatkan gelombang suara untuk menampilkan gambar rahim. Gambar ini dapat memperlihatkan apakah lapisan rahim menebal atau tidak.
Biopsi endometrium, yakni pengambilan sampel jaringan pada lapisan rahim untuk mengetahui sifat dari sel-sel tersebut.
Histeroskopi, yaitu prosedur yang dilakukan menggunakan perangkat kecil bercahaya dan memiliki kamera. Alat ini dimasukkan ke dalam rahim untuk memeriksa adanya sesuatu yang abnormal pada rahim.
Cara Mengobati Penebalan Dinding Rahim
Pengobatan penebalan dinding rahim pada umumnya terdiri dari terapi hormon ataupun pembedahan. Jenis pengobatan yang dilakukan biasanya didasari pada jenis hiperplasia yang dialami, rencana kehamilan di masa depan, riwayat kanker, hingga kondisi menopause.
Ada dua jenis pengobatan yang biasa dilakukan untuk mengatasi hiperplasia endometrium, yakni sebagai berikut.
1. Terapi Hormonal
Mengutip dari jurnal Therapeutic Options for Management of Endometrial Hyperplasia oleh Vishal Chandra, dkk, sebagian besar kasus penebalan dinding rahim ditangani dengan pemberian progestin, yakni bentuk sintesis dari progesteron. Progestin sendiri tersedia dalam bentuk pil, suntik, alat kontrasepsi, atau krim vagina.
Dosis dan lama penggunaan progestin tergantung pada usia dan jenis hiperplasia yang dimiliki. Efek samping dari progestin dapat menyebabkan pendarahan seperti menstruasi.
2. Histerektomi
Pada pasien yang menderita hiperplasia endometrium atipikal, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan prosedur histerektomi. Prosedur ini dilakukan dengan mengangkat lapisan rahim untuk menurunkan risiko kanker.
Prosedur histerektomi membuat pasien tidak bisa hamil. Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan rencana kehamilan di masa depan dengan dokter guna memilih penanganan yang tepat untuk mengatasi penebalan dinding rahim.
Artikel ini telah direview oleh dr. Mikhael Yosia, BMedSci, PGCert, DTM&H.
(SAI)
Frequently Asked Question Section
Apa istilah medis dari penebalan dinding rahim?

Apa istilah medis dari penebalan dinding rahim?
Dalam dunia medis, penebalan dinding rahim dikenal dengan istilah hiperplasia endometrium.
Apa itu endometrium?

Apa itu endometrium?
Endometrium merupakan jaringan yang melapisi bagian dalam rahim.
Apa yang dimaksud dengan hiperplasia endometrium atipikal?

Apa yang dimaksud dengan hiperplasia endometrium atipikal?
Hiperplasia endometrium atipikal adalah pertumbuhan sel abnormal yang dapat meningkatkan risiko kanker endometrium ataupun kanker rahim.
