Kumparan Logo
Konten Media Partner

Gairah Pertambangan Mampu Topang Ekonomi di Sultra

kendarinesiaverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kawasan pemurnian biji nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry. Foto: Istimewa.
zoom-in-whitePerbesar
Kawasan pemurnian biji nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry. Foto: Istimewa.

Hadirnya perusahaan smelter nikel PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) sejak tahun 2017 di Kecamatan Morosi ternyata membawa dampak yang cukup positif. Salah satunya puluhan para pedagang yang sedang mengais rezeki tidak jauh dari perusahaan tersebut.

Seperti yang dialami oleh Dwi Sri Wahyuningsih (29), salah satu pemilik warung makan seafood yang mulai berjualan saat hadirnya perusahaan nikel tersebut. Sri menuturkan berdagang sajian seafood dipilihnya bukan tanpa alasan, selain mudah didapatkan, para pekerja yang notabene merupakan tenaga kerja asing (TKA) lebih suka dengan jenis makanan itu.

"Menjual makanan laut lebih menguntungkan karena TKA Cina disini lebih suka seafood ketimbang daging sapi atau ayam," kata Sri beberapa waktu lalu.

Dalam penjualannya, Sri mematok harga yang berbeda antara pekerja lokal dan TKA. Sebab, gaji keduanya memiliki perbedaan yang cukup jauh. "Kalau TKA itu dipatok diharga Rp 120 ribu per porsi kepiting, kalau yang beli lokal maka lebih murah dari itu," tuturnya.

Untuk omset sendiri, lanjut Sri, warungnya tersebut bisa meraup hingga Rp 5 juta per harinya. Sehingga, ia bisa mempekerjakan sebanyak 5 karyawan dengan gaji yang cukup menggiurkan.

Ia mengungkapkan salah satu kunci agar warungnya lebih laris dari pekerja TKA Cina yakni dengan mempelajari bahasa mereka. Dirinya mengaku sudah mengerti kalimat-kalimat dasar yang biasa dipakai para TKA Cina tersebut.

"Dengan itu saya sudah miliki langganan tetap pekerja asing itu," ujarnya.

kumparan post embed

HRD PT VDNI, Aries menjelaskan hingga Agustus 2019, sebanyak 861 pekerja yang merupakan TKA Cina. Jumlah tersebut diakuinya lebih sedikit dibanding pekerja lokal yang mencapai 8.975 orang.

"Mereka akan kembali ke negaranya saat masa kontrak telah habis, dan pengaruh mereka disini cukup positif kepada pekerja lokal," ujarnya.

Ia mengakui jika TKA Cina juga terkenal dengan etos kerja tinggi. Sikap disiplin dan ulet, menjadikan pekerja lokal banyak belajar. "Misalnya, jam istirahat digunakan untuk tidur, tidak keluyuran. Saat makan ya makan. Mereka kerja teratur dan disiplin," kata dia.

Sementara itu, Kadisperindag Sulawesi Tenggara, Saemu Alwi menuturkan hadirnya PT VDNI di Morosi dinilai mampu menambah perekonomian para pekerja lokal. Ia menjelaskan setiap tahun, ada program magang bagi calon tenaga kerja.

Ia pun memastikan pengawasan dari pemerintah Sulawesi Tenggara terkait hadinya para TKA asing tersebut trus dilakukan. Tak hanya itu, pihaknya terus mendorong agar para pekerja lokal terus berbenah untuk meningkatkan kualitas kerja.

"Kami juga meminta untuk menambah kebutuhan tenaga kerja lokal disana dan dari kami juga terus meningkatkan kualitas pekerja dengan pelatihan yang sesuai dengan perusahaan," pungkasnya.

Foto udara kawasan pemurnian biji nikel milik PT Virtue Dragon Nickel Industry. Foto: Istimewa.

Penopang Ekonomi Sultra

Laju pertumbuhan ekonomi di Sultra pada triwulan III 2019 mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 6,2% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 5,0% (yoy).

"Dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,3% (yoy), ekonomi sultra mengalami moderasi pertumbuhan sejalan dengan penurunan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode sebelumnya," ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI), Suharman Tabrani.

Namun dari sisi penawaran pertumbuhan ekonomi Sultra terjadi perlambatan pada beberapa sektor. Diantaranya pertanian, kehutanan, perikanan, lapangan usaha industri pengolahan, perdagangan besar dan eceran.

"Di tengah kondisi menurunnya kinerja beberapa lapangan usaha, akselerasi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian mampu menjaga pertumbuhan ekonomi sultra yang kini masih berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional," ungkapnya.

Dukungan itu datang dari meningkatnya kinerja pertambangan nikel guna memenuhi kuota ekspor serta memenuhi permintaan dari smelter di sultra, akselerasi pada lapangan usaha konstruksi pun didorong oleh kondisi cuaca yang kondusif turut memberikan dampak positif pada kinerja kedua lapangan usaha tersebut. (Ads)