Artificial Intelligence: Alat Belajar Bukan Pengganti Pikiran
Tulisan dari Khairani Nirmala Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Artificial Intelligence dapat menjadi alat bantu belajar tanpa menggantikan kemampuan berpikir siswa.
Saat ini, siswa hanya membutuhkan beberapa detik untuk mendapatkan penjelasan, contoh, bahkan jawaban dari sebuah pertanyaan melalui Artificial Intelligence (AI). Perkembangan teknologi ini membuat AI semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan belajar di sekolah. AI mulai dimanfaatkan untuk mencari referensi, memahami materi, membuat rangkuman, hingga membantu menyelesaikan tugas (Muthoharoh dkk., 2026).
Kemudahan tersebut tentu memberikan banyak manfaat. Namun, ada persoalan yang perlu diperhatikan ketika AI digunakan tanpa batas. Sebagian siswa dapat menjadi terlalu bergantung pada teknologi dan terbiasa menerima jawaban tanpa melalui proses berpikirnya sendiri. AI yang seharusnya menjadi alat bantu belajar justru dapat berubah menjadi semacam “mesin jawaban” yang menyediakan solusi secara instan (Zesmita & Suryadi, 2025). Dari sinilah muncul pertanyaan penting: apakah AI benar-benar membantu siswa belajar, atau justru membuat mereka semakin jarang berpikir?
Terlepas dari kekhawatiran tersebut, penggunaan AI dalam pendidikan merupakan bagian dari perkembangan teknologi yang sulit dihindari. Karena itu, persoalannya bukan lagi tentang apakah siswa boleh menggunakan AI atau tidak, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan secara tepat.
AI dapat menjadi mitra belajar selama siswa tetap menjadi pihak yang mengendalikan proses berpikir. Artinya, AI digunakan untuk membantu mencari informasi, memberikan contoh, atau menawarkan sudut pandang lain, sementara siswa tetap bertugas memahami, menilai, dan menentukan jawaban yang paling tepat.
Dalam kajian Rokhmah (2026), AI dianalogikan sebagai “asisten peneliti”, sedangkan siswa berperan sebagai “kepala peneliti” yang mengambil keputusan akhir. Analogi ini menunjukkan bahwa AI seharusnya membantu proses pencarian dan eksplorasi, bukan mengambil alih seluruh proses berpikir siswa.
Dengan posisi tersebut, siswa tidak sekadar menerima jawaban yang diberikan AI. Mereka tetap perlu mempertanyakan informasi, membandingkannya dengan sumber lain, dan mempertimbangkan apakah jawaban tersebut sesuai dengan persoalan yang sedang dipelajari.
Jika digunakan dengan cara yang tepat, AI bahkan dapat menjadi titik awal untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa. Penelitian Zesmita dan Suryadi (2025) di SMA Muhammadiyah 25 Pamulang menunjukkan adanya perubahan dalam proses pembelajaran ketika ChatGPT diintegrasikan secara terarah. Guru tidak hanya berperan sebagai pemberi materi, tetapi juga merancang kegiatan yang mendorong siswa mengolah informasi dari AI secara lebih aktif.
Misalnya, guru dapat meminta AI membantu menyederhanakan konsep yang sulit, kemudian siswa diminta menjelaskan kembali konsep tersebut dengan pemahaman mereka sendiri. Guru juga dapat meminta siswa mencari beberapa argumen menggunakan AI, lalu membandingkan, mendiskusikan, dan memverifikasi argumen tersebut dengan sumber lain.
Dengan cara seperti ini, AI bukan menjadi tempat siswa mengambil jawaban akhir. Sebaliknya, AI menjadi titik awal untuk bertanya, mencari informasi, dan mengeksplorasi suatu persoalan.
Namun, kondisi ideal tersebut tidak otomatis terjadi hanya karena AI digunakan dalam pembelajaran. Tanpa pendampingan yang tepat, siswa tetap dapat menggunakannya sekadar untuk mendapatkan jawaban dengan cepat.
Zesmita dan Suryadi (2025) mencatat bahwa pada tahap awal penggunaan AI, sebagian siswa cenderung menyalin jawaban yang diberikan AI tanpa mengolahnya lebih lanjut. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Muthoharoh dkk. (2026) dalam penelitian di MA Walisongo Sugihwaras. Jawaban tugas yang bersumber dari AI ditemukan memiliki kemiripan yang sangat tinggi, mulai dari susunan kata, tanda baca, hingga struktur kalimat.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah utamanya bukan terletak pada keberadaan AI, melainkan pada cara siswa menggunakannya. Ketika siswa hanya menyalin jawaban tanpa memahami isinya, sebagian proses berpikir yang seharusnya terjadi selama belajar menjadi terlewat. Hal ini dapat dikaitkan dengan konsep cognitive offloading, yaitu penggunaan alat eksternal untuk mengurangi sebagian beban kognitif dalam menyelesaikan suatu tugas.
Selain itu, jawaban AI juga tidak selalu benar. AI dapat menghasilkan informasi yang keliru atau menyesatkan, sehingga siswa tetap perlu melakukan verifikasi sebelum menggunakan informasi tersebut. Karena itu, jawaban yang terlihat meyakinkan tidak seharusnya langsung dianggap sebagai fakenedta.
Di sinilah peran guru menjadi penting. Guru tidak harus melarang penggunaan AI sepenuhnya, tetapi perlu merancang pembelajaran yang membuat siswa tetap terlibat secara aktif. Muthoharoh dkk. (2026) mencatat beberapa strategi yang dapat digunakan, seperti memberikan pertanyaan yang membutuhkan pendapat pribadi, menggunakan kuis interaktif, serta meminta siswa membuat soal sendiri untuk kemudian dikerjakan oleh teman sekelas.
Strategi semacam itu membuat siswa tidak cukup hanya meminta AI memberikan jawaban. Mereka tetap harus memahami persoalan, menyusun pendapat, menganalisis informasi, dan menghasilkan sesuatu berdasarkan pemahaman mereka sendiri.
Dengan demikian, penggunaan AI justru dapat diarahkan untuk mendukung kemampuan berpikir tingkat tinggi. Siswa tidak hanya belajar “apa jawabannya?”, tetapi juga “mengapa jawabannya demikian?”, “apakah informasi tersebut benar?”, dan “bagaimana saya dapat menjelaskan pendapat saya sendiri?”
Selain peran guru, kesiapan siswa juga menjadi faktor penting. Literasi digital tidak hanya berarti mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memahami keterbatasan, risiko, dan konsekuensi penggunaannya.
Dalam kajian Rokhmah (2026), kemampuan menyusun pertanyaan atau prompt yang jelas dan kritis menjadi salah satu bagian penting dalam pemanfaatan AI. Semakin baik pertanyaan yang diberikan, semakin besar kemungkinan siswa memperoleh informasi yang relevan. Namun, kemampuan tersebut tetap harus diikuti dengan sikap kritis dan kesadaran etis.
Siswa juga perlu memahami bahwa menggunakan AI untuk membantu memahami materi berbeda dengan menggunakan AI untuk menghindari proses belajar. Ada perbedaan antara “AI membantuku memahami” dan “AI mengerjakan semuanya untukku.”
Pada akhirnya, keberhasilan penggunaan AI dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologinya. Hal tersebut juga bergantung pada bagaimana guru merancang pembelajaran dan bagaimana siswa menggunakan teknologi tersebut.
AI dapat membantu siswa mencari informasi, memahami konsep, menemukan berbagai sudut pandang, dan mengeksplorasi suatu persoalan. Namun, kemampuan untuk menganalisis, mempertanyakan, memverifikasi, dan mengambil keputusan tetap perlu dikembangkan oleh siswa sendiri.
AI seharusnya membantu siswa berpikir lebih baik, bukan membuat siswa berhenti berpikir.

