Konten dari Pengguna

Mengapa Orang Suka Gosip?

KHANSA ILHAM RAMADHANI

KHANSA ILHAM RAMADHANI

Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya 2023

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari KHANSA ILHAM RAMADHANI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi 2 orang yang sedang gosip. Foto: freepik
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi 2 orang yang sedang gosip. Foto: freepik

Sekilas, gosip mungkin tampak seperti perbincangan sepele. Namun dibalik gelak tawa dan percakapan santai tersebut terdapat motif yang lebih dalam yang mendorong orang untuk ngobrol. Fenomena sosial ini terjadi hampir di setiap lapisan masyarakat, mulai dari kedai kopi hingga ruang rapat perusahaan. Meskipun gosip sering kali dipandang negatif, gosip mempunyai penjelasan ilmiah dan memainkan peran kompleks dalam interaksi sosial kita.

Motivasi untuk bergosip berakar pada kebutuhan kognitif, sosial, dan emosional kita. Gosip membantu kita mengumpulkan informasi dan memahami dunia di sekitar kita. Kita dapat belajar tentang orang lain, mendapatkan informasi terbaru, dan bahkan memahami norma-norma sosial dengan bertukar cerita dan rumor. Gosip juga dapat memperkuat ikatan sosial dan membangun rasa persatuan dan kepemilikan melalui pengalaman bersama dalam kehidupan nyata. Saling bertukar gosip dapat menciptakan momen intim dan membangun kepercayaan antar manusia.

Namun, gosip juga mempunyai sisi gelap. Selain memutarbalikkan fakta dan merusak reputasi, gosip dapat menjadi sarana untuk melepaskan emosi negatif seperti stres dan kecemburuan. Faktanya, gosip bisa digunakan untuk mengontrol orang lain dan meningkatkan citra diri. Dalam konteks evolusi manusia, gosip dianggap berperan dalam membangun reputasi, memperkuat aliansi, dan mengidentifikasi ancaman sosial. Artikel ini akan membahas dasar neurosains dari fenomena ini dan mengapa otak kita cenderung merespons dengan cara tertentu terhadap informasi sosial.

Gosip Menurut Para Psikolog

  • Jean Decety, seorang psikolog dari University of Chicago, menemukan bahwa gosip dapat merangsang bagian otak yang terkait dengan reward, keingintahuan, dan emosi.

  • Ryota Kanazawa, seorang psikolog dari London School of Economics, menemukan bahwa gosip dapat membantu kita untuk memahami dunia di sekitar kita dan mempelajari tentang orang lain.

  • Michael Tomasello, seorang psikolog dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology, menemukan bahwa gosip adalah fenomena sosial yang telah ada sejak zaman dahulu dan memainkan peran penting dalam evolusi manusia.

Kenapa sih Orang Suka Gosip?

  1. Kebutuhan kognitif: Gosip membantu kita mengumpulkan informasi dan memahami dunia di sekitar kita. Gosip bisa menjadi cara untuk mengetahui tentang orang lain, peristiwa terkini, dan bahkan norma sosial.

  2. Kebutuhan sosial: Gosip dapat memperkuat ikatan sosial dan membangun rasa kebersamaan. Berbagi gosip dengan orang lain menciptakan pengalaman shared reality dan memperkuat rasa belonging.

  3. Kebutuhan emosional: Gosip bisa menjadi cara untuk melepaskan emosi seperti kebosanan, stres, atau kecemburuan. Gosip juga bisa menjadi alat untuk mengontrol orang lain dan meningkatkan citra diri.

  4. Kebutuhan evolusioner: Beberapa ahli berpendapat bahwa gosip memainkan peran penting dalam evolusi manusia. Gosip membantu membangun reputasi, memperkuat koalisi, dan mengidentifikasi ancaman sosial.

Gosip dari Lensa Neurosains

Ilustrasi otak manusia. Foto: freepik

Neurosains adalah bidang ilmu yang mempelajari sistem saraf manusia. Ilmu saraf dapat menawarkan wawasan baru mengenai gosip dari sudut pandang biologis. Studi ilmu saraf menemukan bahwa gosip merangsang bagian otak yang berhubungan dengan penghargaan, rasa ingin tahu, dan emosi. Dari segi neurosains, gosip dapat merangsang beberapa area otak, antara lain:

  1. Otak tengah. Otak tengah berperan dalam pemrosesan emosi, termasuk emosi positif seperti kesenangan dan kegembiraan. Gosip dapat memicu pelepasan dopamin, hormon yang terkait dengan kesenangan dan motivasi.

  2. Otak depan. Otak depan berperan dalam pemrosesan informasi, termasuk informasi sosial. Gosip dapat merangsang otak depan untuk memproses informasi tentang orang lain, termasuk informasi tentang perilaku, motivasi, dan hubungan.

  3. Otak limbik. Otak limbik berperan dalam pemrosesan emosi, termasuk emosi negatif seperti rasa takut dan kecemasan. Gosip dapat memicu pelepasan hormon stres, seperti kortisol, yang dapat meningkatkan rasa takut dan kecemasan.

Berikut ini adalah beberapa penelitian neurosains yang menunjukkan hubungan antara gosip dan aktivitas otak:

  • Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature pada tahun 2010 menemukan bahwa gosip dapat merangsang pelepasan dopamin di otak.

  • Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Social Cognitive and Affective Neuroscience pada tahun 2012 menemukan bahwa gosip dapat meningkatkan aktivitas di otak depan, terutama di area yang bertanggung jawab untuk pemrosesan informasi sosial.

  • Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Psychoneuroendocrinology pada tahun 2014 menemukan bahwa gosip dapat meningkatkan kadar kortisol di otak.

Dopamin dan Kesenangan

Ilustrasi orang yang sedang senang ketika gosip. Foto: freepik

Dalam dunia neurosains, dopamin dikenal sebagai neurotransmitter yang berkaitan erat dengan sistem penghargaan otak. Saat kita bergosip atau mendengar informasi menarik tentang orang lain, otak kita merespons dengan melepaskan dopamin. Hal itu menimbulkan rasa senang dan puas yang membuat kita merasa senang.

Studi neurosains menunjukkan bahwa otak manusia cenderung lebih merespons pesan-pesan yang bersifat sosial. Berbagi gosip dianggap sebagai bentuk kerjasama sosial dan dapat menciptakan emosi positif karena otak mengasosiasikan pesan dengan peluang untuk meningkatkan hubungan sosial.

Teori Evolusi dan Keberhasilan Sosial

Ilustrasi sekelompok orang yang sedang gosip. Foto: freepik

Teori evolusi menawarkan perspektif lain tentang mengapa orang tertarik pada gosip. Dalam lingkungan sosial generasi awal, perolehan informasi tentang anggota kelompok dan hubungan antar individu mungkin merupakan faktor penting dalam keberhasilan sosial. Berpartisipasi dalam gosip membantu orang memahami dinamika sosial kelompok dan membangun hubungan yang lebih kuat.

Dengan menyimpan dan berbagi informasi tentang orang lain, orang dapat meningkatkan status sosialnya dalam kelompok. Dengan demikian, kecenderungan bergosip mungkin merupakan hasil seleksi alam yang mengutamakan kemampuan memahami dan berinteraksi dengan lingkungan sosial.

Empati dan Perasaan Sosial

Ilustrasi keluarga yang sedang bertukar cerita. Foto: freepik

Ilmu saraf juga menyoroti peran empati dalam ketertarikan orang terhadap gosip. Saat kita mendengar cerita atau gosip tentang orang lain, kemampuan otak kita untuk merasakan dan memahami apa yang dirasakan orang tersebut dapat memperkuat hubungan sosial kita.

Studi fungsional MRI (fMRI) menunjukkan bahwa daerah otak yang terkait dengan empati, seperti mirror neuron system, aktif ketika kita terlibat dalam menyimak atau mengenang pengalaman orang lain melalui gosip. Hal ini menunjukkan bahwa gosip dapat memainkan peran dalam meningkatkan empati dan pemahaman sosial kita.

Keamanan Sosial dan Pengaturan Norma

Ilustrasi sekelompok orang yang sedang berbagi informasi. Foto: freepik

Alasan orang menyukai gosip juga dapat dijelaskan oleh fungsi pengaturan norma sosialnya. Berbagi informasi mengenai perilaku positif dan negatif seseorang dapat membantu menciptakan norma-norma sosial yang diterima oleh kelompok. Oleh karena itu, gosip adalah alat kontrol sosial yang membantu menjaga keseimbangan dan keamanan dalam suatu kelompok.