10 Saham Merosot Sepanjang 2019, Salah Satunya Milik Benny Tjokro

Sepanjang tahun 2019, dinamika pergerakan saham relatif bervariatif. Ada yang berhasil menunjukkan performa menawan dengan kenaikan saham tinggi. Namun, Ada pula yang merosot.
Berdasarkan data RTI, berikut kumparan merangkum 10 saham yang merosot terparah sepanjang 2019 secara year to date (ytd):
1. PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL)
Saham yang merosot paling parah sepanjang tahun ini terjadi pada saham emiten PT Pool Advista Indonesia Tbk (POOL).
Harga saham perusahaan yang bergerak dalam jasa konsultasi dan pengembangan investasi ini merosot 96,93 persen di level Rp 156 per saham. Nilai transaksi Rp 42,6 triliun dan volume perdagangan 20,5 miliar saham.
2. PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM)
Perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) mencatatkan kemerosotan saham terparah kedua.
Harga saham perseroan yang sebelumnya bernama PT Trada Maritime Tbk dengan bisnis angkutan pelayaran laut ini merosot 70,59 persen di level Rp 50 per saham. Nilai transaksi Rp 26,6 triliun dan volume perdagangan 221,3 miliar saham.
3. PT Hanson Internasional Tbk (MYRX)
Saham paling merosot berikutnya adalah PT Hanson Internasional Tbk (MYRX). Perseroan ini sempat terkena kasus investasi ilegal triliun rupiah yang melunturkan kepercayaan investor.
Satgas Waspada Investasi kemudian menghentikan kegiatan pinjam-meminjam jangka pendek dengan pihak individual yang dijalankan perseroan sejak 28 Oktober 2019.
Perusahaan milik Benny Tjokrosaputro ini mencatatkan kemerosotan 57,98 persen di level Rp 50 per saham. Adapun nilai transaksi Rp 10,5 triliun dan volume perdagangan 102 miliar saham.
4. PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME)
Saham yang menempati posisi keempat merosot terparah adalah PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME).
Harga sahamnya merosot 56,90 persen di level Rp 50 per saham. Nilai transaksi Rp 29,5 triliun dan volume perdagangan 379,3 miliar saham.
5. PT Mas Murni Tbk (MAMI)
Perusahaan manajemen properti berbasis di Indonesia PT Mas Murni Tbk (MAMI), tercatat sebagai emiten yang merosot terparah nomor lima.
Harga sahamnya anjlok 53,85 persen di level Rp 50 per saham. Nilai transaksi Rp 8,2 triliun dan volume perdagangan 50,6 miliar saham.
6. PT Sitara Propertindo Tbk (TARA)
Saham yang merosot tajam lainnya masih ada di sektor pengembangan properti. Ia adalah PT Sitara Propertindo Tbk (TARA).
Harga sahamnya merosot 52,27 persen di level Rp 420 per saham. Nilai transaksi Rp 9,7 triliun dan volume perdagangan 12,8 miliar saham.
7. PT Gudang Garam Tbk (GGRM)
Salah satu perusahaan besar yang ternyata sahamnya merosot terparah yaitu PT Gudang Garam Tbk (GGRM). Ia menempati posisi ketujuh dalam pasar modal Indonesia.
Penurunan saham emiten ini, tak terlepas akibat penetapan kenaikan tarif cukai rokok. Sehingga, menurunkan prospek positif saham rokok yang berbasis di Kediri, Jawa Timur.
Harga sahamnya merosot 36,62 persen di level Rp 53.000 per saham. Nilai transaksi Rp 26,6 triliun dan volume perdagangan 382,3 miliar saham.
8. PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menempati posisi delapan terparah kemerosotan sahamnya. Perseroan mengalami beberapa kasus persidangan sepanjang 2019 dengan total denda Rp 25 miliar.
Harga sahamnya merosot 35,92 persen di level Rp 66 per saham. Nilai transaksi Rp 7,9 triliun dan volume perdagangan 65,1 miliar saham.
9. PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP)
Saham yang anjlok terparah nomor sembilan adalah PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP). Harga sahamnya merosot 33,33 persen di level Rp 7.700 per saham. Nilai transaksi Rp 17,3 triliun dan volume perdagangan 2,1 miliar saham.
Penjualan dan laba bersih yang menurun di sepanjang kuartal I tahun 2019 berefek negatif pada kinerja saham INKP. Dalam sebulan terakhir, saham perusahaan kertas milik Grup Sinar Mas tersebut anjlok hingga 23,36 persen.
10. PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), tercatat sebagai emiten di sektor perkebunan yang mengalami kemerosotan saham nomor sepuluh terparah sepanjang 2019.
Sejak awal tahun, saham emiten ini anjlok dengan penurunan 28,4 persen. Sepanjang semester I 2019 misalnya, emiten yang sahamnya dikuasai PT Citra Borneo Indah ini rugi hingga Rp 15,01 miliar.
Harga sahamnya merosot 32,40 persen di level Rp 845 per saham. Nilai transaksi Rp 13 triliun dan volume perdagangan 13 miliar saham.
