Kumparan Logo

Bahlil Jelaskan Alasan Mengapa Investasi Smelter Indonesia Harus Dibiayai Asing

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Gedung Nusantara I DPR RI, Rabu (14/12/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Gedung Nusantara I DPR RI, Rabu (14/12/2022). Foto: Narda Margaretha Sinambela/kumparan

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia membeberkan alasan bahwa Indonesia tidak memiliki smelter sendiri. Hal ini disebabkan oleh sistem perbankan yang tidak memberikan pendanaan bagi para pengusaha.

"Kalau sistem perbankan kita yang tidak memberikan kelonggaran bagi pengusaha-pengusaha nasional khususnya yang pribumi-pribumi. Mohon maaf saya harus ngomong kasar, bagaimana bisa?," tanya Bahlil di Gedung Nusantara I DPR RI, Rabu (14/12).

Melihat realita yang ada, Bahlil kemudian mempertanyakan bagaimana Indonesia mampu membangun smelter tanpa adanya campur tangan asing. Pasalnya, perusahaan harus ikut berperan membiayai modal inti sebesar 30 hingga 40 persen.

"Equity perbankan nasional kita dalam membiayai itu 30-40 persen. Kapan kita mempunyai smelter? Maka terpaksa asing lagi," kata dia.

Foto udara aktivitas pengolahan nikel (smelter) yang berada di Kawasan Industri Virtue Dragon Nickel Industrial (VDNI) di Kecamatan Morosi, Konawe, Sulawesi Tenggara. Foto: ANTARA FOTO/Jojon

Sementara itu, Ia menjelaskan bahwa perusahaan idealnya turut membiayai sekitar 10-20 persen. Adapun investasi smelter juga diperkirakan mencapai USD 250-300 juta untuk 1 linenya.

"Jadi sekarang kita mau salahkan orang, kenapa asing terus? Memang kita punya duit? Pengusaha kita, perbankan kita membiayai ini? Kan tidak ada," ujarnya.

Bahlil menjelaskan apabila perbankan nasional mampu membiayai smelter, tidak mungkin dirinya mengabaikan hal itu. Kendati demikian, uang yang beredar di Indonesia sedikit membuat pihaknya mengejar pertumbuhan yang tinggi.

"Salah satu di antaranya kita cari investasi agar uang bisa masuk itulah sebagai mesin pertumbuhan," pungkas Bahlil.