Kumparan Logo

Berbagi Rahasia Keluar dari Krisis, Eks Bos Astra TP Rachmat Bicara Gas dan Rem

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Theodore Permadi Rachmat saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/9/2018). Foto: Nicha Muslimawati/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Theodore Permadi Rachmat saat ditemui di Jakarta, Rabu (12/9/2018). Foto: Nicha Muslimawati/kumparan

Mantan bos Astra International yang kini memimpin Grup Triputra, TP Rachmat, berbagi rahasia berdasar pengalaman membawa perusahaan yang dipimpinnya keluar dari krisis. Pengusaha terkemuka itu setidaknya mengalami dua krisis ekonomi besar di Indonesia, yakni pada 1998 dan saat ini sebagai dampak pandemi COVID-19.

"Hope yaitu harapan dan conviction yaitu keyakinan bahwa krisis akan berakhir menjadi kata kunci yang membedakan kualitas pemimpin," kata mantan CEO Grup Astra, TP Rachmat, pada webinar 'Leadership Challenges in the Double-Disruption Era: Wisdom from the Senior', Kamis (25/2).

Pemilik nama lengkap Theodore Permadi Rachmat yang biasa disapa Teddy Rachmat itu mengatakan, harapan dan keyakinan pemimpin tersebut akan membawa perusahaan keluar dari krisis akibat pandemi COVID-19. Karena dengan dua hal tersebut, ujarnya, seorang pemimpin akan mampu mengendalikan apa yang disebutnya 'gas dan rem' dalam perusahaan.

"Kapan harus menginjak gas dan rem agar perusahaan tetap kompeten, kontekstual, dan relevan dengan situasi kini dan pasca-pandemi," tuturnya.

TP Rachmat yang berkarier di Astra International selama 30 tahun, menilai krisis akibat pandemi saat ini masih jauh lebih baik dibanding krisis ekonomi 1998.

Seorang calon pembeli menunggu makanan pesanannya di mall Senayan City, Jakarta, Senin (14/9). Foto: Muhammad Adimaja/Antara Foto

"Saat ini tidak tidak terjadi negative spread, NPL 2020 hanya 3-5 persen, inflasi hanya 1,68 persen, tidak ada lembaga perbankan yang harus tutup, dan investment grade 2020 berada di triple B, yang jauh lebih tinggi dari dari level selective default pada 1998," imbuh TP Rachmat.

Ia juga berbagi nilai penting yang harus dimiliki seorang CEO dalam situasi krisis yaitu core values, business model, core competence, dan cash flow. "Krisis untuk menguji seberapa kuat dan dalam keyakinan kita pada core values yang kita yakini," katanya.

Namun, kata dia, disrupsi akibat pandemi juga harus terus dicermati karena akan menguji business model, core competence, serta cash flow perusahaan, sehingga terhindar dari optimistis yang tidak realistis yang menyebabkan perusahaan tidak dapat bertahan sampai krisis ekonomi berakhir.

"Krisis dapat menjadi sarana menempa kualitas anda sebagai pribadi maupun sebagai pemimpin," ujar TP Rachmat.

Profil CEO Tangguh di Masa Krisis

Ilustrasi Eksekutif muda kantoran. Foto: Pixabay

Sementara itu Partner Dunamis Organization Services dan Head of Franklin Covey Indonesia, Tommy Sudjarwadi, yang menjadi mitra SWA Media, mengungkapkan CEO terbaik dalam kondisi turbulensi hanya yang bisa membangun trust di kalangan karyawan yang bisa membawa perusahaan selamat.

"Kita semua paham bahwa pandemi telah menimbulkan krisis multidimensi yang membawa perubahan sangat cepat di berbagai tata cara kehidupan dan bisnis. Siapa pun yang menjadi CEO pada era ini tak bisa mengelak dari ancaman hidup dan matinya perusahaan," katanya.

Oleh karena itu dalam memilih CEO terbaik 2020 dilakukan survei terhadap para karyawan perusahaan atas 4 peran penting CEO yang terdiri dari inspire trust, create vision, execute strategy, dan coach potential.

“Persyaratannya, perusahaan yang dipimpinnya harus memiliki kinerja bagus di era kepemimpinannya. Selain itu juga punya komitmen kuat untuk menjalankan Good Corporate Governance," tambah Pemimpin Redaksi SWA Sujatmaka.

Dari hasil survei ada 13 nama yang masuk dalam daftar Best CEO 2020 versi Majalah SWA dan Dunamis antara lain Kuswiyoto (Direktur Utama PT Pegadaian Persero), Didik Purwanto (CEO PT Elnusa Trans Samudera), serta Rudolf Tjandra (CEO & Presiden Direktur PT Sasa Inti).